Pertengahan April 1955 di Kota Bandung menjadi momentum yang mengubah peta politik dunia. Konferensi Asia-Afrika (KAA) resmi dibuka dengan mempertemukan perwakilan dari 29 negara serta para pejuang pembebasan. Kehadiran kekuatan kolektif ini cukup untuk membuat negara-negara kolonialis merasa jengah dan terancam.
Di seberang samudera, ribuan kilometer jaraknya dari Bandung, peristiwa ini diamati dengan saksama oleh Malcolm X. Bagi publik Amerika Serikat pada era 1950-an dan 1960-an, Malcolm X adalah sosok fenomenal sekaligus kontroversial. Ia merupakan juru bicara utama Nation of Islam dan pemimpin massa yang mampu menggerakkan ribuan orang dengan orasi yang tajam. Jika Martin Luther King Jr. dikenal dengan pendekatan damainya, Malcolm X adalah simbol perlawanan radikal yang menuntut martabat kaum kulit hitam "dengan cara apa pun yang diperlukan" (by any means necessary). Pengaruhnya begitu besar hingga ia menjadi tokoh yang paling diawasi oleh intelijen Amerika kala itu.
Malcolm X adalah salah satu tokoh dunia yang paling terkesan oleh peristiwa tersebut. Ia mengagumi bagaimana bangsa-bangsa kulit berwarna sanggup bersatu demi melawan musuh bersama: kolonialisme dan imperialisme. Perbedaan suku, agama, ras, maupun ideologi politik terbukti tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bersekutu.
"Di Bandung, semua bangsa berkumpul. Mereka adalah bangsa-bangsa berwarna dari Asia dan Afrika. Ada penganut Buddha, Islam, Kristen, hingga Konfusianisme. Meskipun keyakinan mereka berbeda, mereka tetap duduk bersama. Ada komunis, sosialis, dan kapitalis. Meski berbeda sistem ekonomi, mereka bersatu. Mereka adalah orang-orang berkulit hitam, cokelat, merah, dan kuning," ujar Malcolm dalam salah satu orasinya yang terkenal.
Rujukan Strategi dalam "Message to Grassroot"
Melalui pidato Message to Grassroot pada tahun 1963, Malcolm menjadikan KAA sebagai rujukan utama strategi perjuangan kulit hitam di Amerika Serikat. Ia menekankan pentingnya merumuskan musuh bersama dan menyusun persatuan di atas kepentingan kolektif. Baginya, rasisme sistemik adalah musuh utama yang harus dihadapi dengan cara yang sama seperti bangsa-bangsa Asia-Afrika melawan penjajah.

Para pemimpin Asia Afrika di Bandung | Wikimedia Commons
Latar belakang pribadi Malcolm memang penuh dengan kepahitan akibat diskriminasi. Lahir pada 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska, ia sejak kecil telah merasakan kekejaman segregasi. Ayahnya, Earl Little, adalah seorang pejuang hak sipil yang terus-menerus mendapat ancaman pembunuhan dari milisi kulit putih. Keluarga mereka terpaksa hidup berpindah-pindah demi menghindari maut yang mengintai.
Tragedi akhirnya menimpa saat Malcolm baru berusia empat tahun. Ayahnya ditemukan meninggal secara mengenaskan. Banyak pihak meyakini bahwa Earl dibunuh oleh kelompok supremasi putih. Tumbuh dalam lingkungan yang diskriminatif membuat pilihan hidup bagi anak-anak kulit hitam menjadi sangat terbatas. Malcolm sempat terjebak dalam dunia kriminalitas hingga akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.
Transformasi dan Warisan
Masa penjara justru menjadi titik balik bagi Malcolm. Ia menemukan pencerahan melalui Nation of Islam (NOI) di bawah pimpinan Elijah Muhammad. Organisasi ini mendorong masyarakat kulit hitam untuk memisahkan diri dari pengaruh kulit putih melalui pemberdayaan ekonomi dan penguatan identitas agama. Pemikiran Malcolm terus berkembang menjadi lebih radikal. Berbeda dengan Martin Luther King Jr. yang mengutamakan jalur non-kekerasan, Malcolm mendukung konsep pembelaan diri secara fisik.

Malcolm X tahun 1959 | Foto WIkimedia Commons
KAA 1955 di Bandung benar-benar memperluas cakrawala berpikirnya. Malcolm mulai menyadari bahwa rasisme di Amerika berkaitan erat dengan kolonialisme global. Ia pun mulai menggaungkan istilah "Revolusi Kaum Hitam" yang merujuk pada seluruh bangsa non-putih. Sikap politiknya kian tajam saat ia membedakan antara budak patuh yang dekat dengan tuannya dan mereka yang berani melawan di lapangan.
Perjalanan Malcolm X terhenti secara tragis pada 21 Februari 1965. Saat sedang berpidato di Manhattan, ia ditembak oleh anggota NOI. Meski raganya telah tiada, semangat yang terinspirasi dari Bandung itu tetap hidup sebagai inspirasi bagi bangsa-bangsa tertindas di dunia.
Sosok Besar yang Terlupakan di Indonesia
Ada fakta yang ironis di balik hubungan emosional ini. Meski Bandung menjadi salah satu pilar penting dalam evolusi pemikirannya, sosok Malcolm X justru kurang populer di telinga masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan tokoh lain. Banyak yang belum menyadari bahwa narasi perlawanan yang ia gaungkan di Amerika Serikat memiliki benang merah yang sangat tebal dengan semangat dekolonisasi yang pernah kita deklarasikan di Jalan Asia Afrika.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


