kiswah dari kabah ternyata ada di tulungagung - News | Good News From Indonesia 2026

Kiswah dari Ka'bah Ternyata Ada di Tulungagung

Kiswah dari Ka'bah Ternyata Ada di Tulungagung
images info

Kiswah dari Ka'bah Ternyata Ada di Tulungagung


Selain Masjid Istiqlal, Kawan juga harus mengunjungi di Masjid Al-Fattah di Tulungagung. Masjid itu jadi salah satu masjid modern di Indonesia.

Masjid Al-Fattah dibangun tanpa kubah sebagaimana kebanyakan masjid di Indonesia. Konon, kiswah Ka’bah juga ada di masjid tersebut. Kiswah itu berada di ruang utama tempat imam memimpin salat.

baca juga

Apa Itu Kiswah?

Kiswah adalah kain hitam penutup Ka’bah yang bersulam kaligrafi ayat Al-Qur’an. Setiap tahun, kiswah Ka’bah diganti. Kiswah lama kemudian disimpan atau diberikan kepada pihak tertentu melalui mekanisme resmi Kerajaan Arab Saudi. Tidak semua tempat mendapatkannya. Masjid Al-Fattah di Tulungagung adalah salah satu masjid yang menerima kiswah tersebut.

Kiswah itu dipasang tepat di depan imam. Posisi tersebut dipilih agar tetap terhormat, tetapi tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

Kiswah yang dipasang memiliki ukuran 6,6 x 3,5 meter dengan berat sekitar lebih dari 100 kilogram. Dari total berat itu, sekitar 40 kilogram merupakan benang emas.

baca juga

“Kiswah ini dulu adalah penutup Ka'bah pada tahun 2004. Beratnya sekitar 120 kilogram. Informasinya yang digunakan untuk menyulam kaligrafi kiswah ini adalah benang emas,” ujar Imam Masjid Al-Fattah Tulungagung, Nuraini Syaikhu, Selasa (26/4/2022), dikutip dari detikJatim.

Untuk pengamanan, kiswah dipasang di balik kaca. Tentunya hal ini bertujuan agar tidak disentuh sembarangan, tetapi tetap bisa dilihat jelas oleh jemaah.

baca juga

Masjid Al-Fattah Tulungagung, Masjid Tanpa Kubah

Jika melihat dari luar, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa bangunan di Jalan Letjen Suprapto itu adalah masjid. Sebab tidak ada kubah besar maupun ornamen khas Timur Tengah yang dominan.

Desain ini sengaja diciptakan demikian. Konon, garis besar desain terinspirasi dari Masjid Namira Lamongan.

“Masjid ini desainnya terinspirasi dari Masjid Namira Lamongan, termasuk menaranya yang futuristik. Masjid ini tanpa kubah,” kata Nuraini Syaikhu.

baca juga

Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Surabaya. Jika diperhatikan dari sudut tertentu, bentuknya menyerupai orang yang sedang bersujud. Konsep ini sengaja dipilih sebagai simbol ketundukan manusia kepada Tuhan.

Menara kotak yang menjulang tinggi menjadi penanda visual masjid. Ia sekaligus menjadi penunjuk arah bagi siapa pun yang melintas di pusat kota Tulungagung.

baca juga

Renovasi Total dari Masjid Kampung

Sebenarnya, Masjid Al-Fattah bukan bangunan baru. Masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Selama puluhan tahun, masjid ini menjadi tempat ibadah warga sekitar.

Kemudian, pada 2019, seluruh bangunan lama dibongkar. Pembangunan ulang dilakukan secara total. Renovasi ini tidak hanya mempercantik, tapi juga menambah kapasitas jemaah. Dana yang digunakan disebut mencapai lebih dari Rp 30 miliar.

“Alhamdulillah saat ini menampung 750 jemaah, kalau masjid yang dulu hanya 300-an jemaah saja,” ujar Nuraini Syaikhu.

baca juga

Saat Ramadan, area rooftop bahkan digunakan untuk salat tarawih ketika ruang utama penuh.

“Yang atas itu bisa digunakan, hanya saja memang konsepnya outdoor,” imbuhnya.

Masjid Al-Fattah diresmikan pada Selasa, 29 Maret 2022 oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) HM Jusuf Kalla. Dalam momen itu, hadir pula Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

baca juga

Detail Interior yang Unik

Selain kiswah, Masjid Al-Fattah menyimpan detail interior yang unik, salah satunya karpet lantai. Karpet tersebut didatangkan langsung dari Turki. Motifnya disebut menyerupai karpet di Raudhah, area khusus di Masjid Nabawi, Madinah.

“Kalau di Madinah, dipasang di Raudhah,” jelas Nuraini Syaikhu.

Raudhah dikenal sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Oleh karena itu, karpet dengan motif serupa memiliki nilai simbolik, bukan sekadar estetika. Lantai dan dinding masjid juga menggunakan marmer impor dari Italia dan India.

“Ini marmernya itu marmer fosil,” jelasnya.

Marmer fosil adalah batu alam yang terbentuk dari endapan organisme purba. Selain kuat, motifnya tidak bisa diseragamkan. Setiap potong memiliki pola berbeda.

baca juga

Teknologi dan Kenyamanan Jemaah

Masjid Al-Fattah juga menerapkan teknologi sederhana namun fungsional. Tiga pintu utama menggunakan sensor gerak sehingga jemaah tidak perlu menyentuh daun pintu.

Fitur ini menjadi relevan saat pandemi, sekaligus memudahkan akses bagi lansia dan anak-anak. Namun, Nuraini Syaikhu menegaskan bahwa kemewahan bukan tujuan utama.

“Kiswah, karpet, dan yang lain itu hanya ornamen saja. Yang paling penting ya bangunannya masjid ini,” tegasnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.