“Walau tidak bisa baca tulis, saya hafal jalan dan tahu tanggung jawab,” kata Darrin.
Darrin tidak pernah duduk di bangku sekolah. Ia buta huruf. Akan tetapi, hari ini, ia memimpin dua lokasi produksi material bangunan di Sumenep, Jawa Timur. Darrin telah mempekerjakan 15 orang tenaga kerja harian.
Hidup Diajarkan oleh Pasar, Bukan Sekolah
Menciptakan lapangan pekerjaan tidak harus menunggu menjadi lulusan perguruan tinggi. Darrin contohnya. Ia buta huruf tapi mampu mempekerjakan orang-orang di sekitarnya. Pengalaman bekerja Darrin cukup unggul karena ia telah menjajal berbagai profesi.
Darrin sudah bekerja sejak kecil. Di usianya yang baru mencapai lima tahun, Darrin sudah ikut ibunya berjualan daun jati dan daun pisang. Setiap pekan, mereka berpindah pasar, dengan berjalan kaki.
“Semua pasar itu kami tempuh jalan kaki. Saya ikut ibu dari subuh sampai siang,” ujarnya.
Pasar Gapura, Pasar Batang-Batang, hingga Pasar Candi di Kecamatan Dungkek menjadi tempat ia belajar. Memang tidak belajar membaca huruf, tetapi belajar membaca kebutuhan orang.
Perjalanan dari pagi sampai siang membuat Darrin tahan banting. Saat berusia enam tahun, tubuhnya sudah cukup kuat untuk memikul dagangan sendiri.
“Waktu itu saya sudah bisa angkat daun sendiri, biar ibu tidak terlalu capek,” tutur Darrin.
Kemampuan Ingatan Itu Menggantikan Huruf
Tahun 1994, Darrin berubah profesi. Ia diajak menjadi kernet truk pengiriman barang. Muatannya beragam, dari kelapa hingga gula merah. Tujuannya lintas provinsi bahkan lintas pulau, mulai dari Jakarta, Banyuwangi, hingga Bali.
“Saya ikut saja, yang penting bisa kerja dan bantu keluarga,” katanya.

Darrin, meski buta huruf tapi bisa pekerjakan belasan orang
Tiga tahun di atas truk membuatnya hafal jalur. Bukan lewat peta, tetapi lewat ingatan. Pada 1996, pemilik truk memercayainya menjadi sopir.
Jadi sopir bukan berarti tanpa risiko. Darrin juga tidak bisa membaca rambu atau dokumen tertulis. Meski demikian, ia mengandalkan tanggung jawab.
Rute Banyuwangi dan Bali menjadi wilayah yang paling sering ia lalui. Bahkan, beberapa sopir lain kerap mengandalkannya untuk memastikan arah dan kondisi jalan.
Meski sudah khatam dengan rute dan kebiasaan sopir, Darrin mulai berpikir lebih jauh. Ia sadar, tenaga manusia punya batas.
“Saya berpikir, suatu saat pasti tidak kuat nyetir terus,” ujarnya.
Kesadaran itu membuatnya mulai menyiapkan alternatif lain. Ia tidak lagi pulang dengan tangan kosong.
Sepulang mengantar barang, Darrin membeli pasir hitam dari Pasuruan. Pasir itu dibawanya pulang ke Madura untuk dijual kembali. Usaha kecil itu ternyata menemukan pasarnya sendiri.
Dari Penjual Jadi Produsen
Dari pasir hitam, Darrin masuk ke usaha pilar cor beton dan ornamen bangunan. Awalnya, barang diambil dari pengusaha luar Madura. Namun, permintaan yang terus datang membuatnya mengambil keputusan untuk produksi secara mandiri pada 2019.
“Saya mulai produksi sendiri, tapi tetap jaga hubungan dengan rekan lama,” katanya.
Ia menyewa lahan produksi dan mempekerjakan warga sekitar. Usahanya berkembang. Akhir 2024, cabang baru dibuka di Desa Dungkek.
Kini, dari dua lokasi produksi, ia mempekerjakan 15 tenaga kerja harian. Total upah yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 2,5 juta per hari.
“Mereka dibayar sesuai hasil produksi, dapat makan dan kopi, jadi tidak perlu bawa bekal,” ujar Darrin.
Usaha Tidak Sekadar Hitung Untung
Dalam menjalankan usahanya, Darrin tidak kaku soal pembayaran. Terutama jika berkaitan dengan pendidikan dan tempat ibadah.
“Kalau madrasah berutang, saya tidak pernah menagih,” ungkapnya.
Sikap yang sama ia terapkan untuk pembangunan masjid dan mushala. Ia memilih pasrah. Baginya, usaha bukan hanya soal transaksi, tetapi soal keberlanjutan hubungan.
“Berharap yang berutang membayar kalau sudah ada rezekinya,” kata Darrin.
Pendidikan yang Tidak Ia Miliki; Ia Perjuangkan
Soal sekolah, Darrin punya prinsip yang tegas. Ia tidak ingin masa kecilnya terulang pada anak-anaknya.
“Saya tidak mau anak-anak seperti saya yang tidak sekolah,” katanya.
Anak pertamanya lulus Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Annuqayah. Anak keduanya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Tiga anak lainnya masih bersekolah di MTs, MI, dan PAUD.
Di titik ini, hidup Darrin tidak lagi hanya tentang bertahan. Ia sudah sampai pada fase memberi arah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


