mengapa indonesia menggunakan jalur kiri - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Indonesia Menggunakan Lajur Kiri? Menguak Alasan di Balik Jalur Kemudi Nusantara

Mengapa Indonesia Menggunakan Lajur Kiri? Menguak Alasan di Balik Jalur Kemudi Nusantara
images info

Mengapa Indonesia Menggunakan Lajur Kiri? Menguak Alasan di Balik Jalur Kemudi Nusantara | Unsplash @Conor Wang


Pernahkah Kawan GNFI merenung dan mempertanyakan mengapa Indonesia menggunakan lajur kiri saat berkendara di jalan raya, sementara banyak negara besar seperti Korea Selatan atau Amerika Serikat justru memilih lajur kanan?

Kebanyakan dari kita mungkin baru menyadari kebiasaan ini ketika pertama kali belajar mengemudikan kendaraan roda empat dengan posisi setir di sebelah kanan. Tradisi berkendara di sisi kiri jalan ini ternyata telah menjadi bagian dari dinamika lalu lintas harian di seluruh pelosok Nusantara sejak zaman dahulu, bahkan sebelum era kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan tata cara berkendara ini sering kali memicu rasa penasaran publik mengenai alasan mendasar di baliknya. Mari kita selami perjalanan sejarah dan alasan praktis di baliknya melalui ulasan berikut ini!

baca juga

Mengapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri Saat Berkendara? Ternyata Berkaitan dengan Sejarah!

Mengapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri Saat Berkendara? Ternyata Peninggalan Kolonalisme | Unsplash @Abdi Rahman
info gambar

Mengapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri Saat Berkendara? Ternyata Peninggalan Kolonalisme | Unsplash @Abdi Rahman


Praktik berkendara di lajur kiri yang kita jalani hari ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Kebiasaan ini berkaitan erat dengan penjelajahan dan kolonialisme bangsa Eropa di masa lalu, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.

Aturan melangkah dan berkendara di jalur kiri pertama kali disebut laman World Standards diperkenalkan oleh armada Belanda saat tiba di Nusantara pada tahun 1596. Pada era tersebut, ragam aturan nilai dan norma yang berlaku di Belanda juga diperkenalkan di tanah-tanah jajahan mereka.

Di Belanda, kebiasaan ini berhenti sejak Napoleon menguasai tanah tersebut, termasuk negara-negara lain di Eropa. Jadi, mau tidak mau, orang-orang Belanda juga harus menaati aturan baru. Meski begitu, orang-orang Belanda yang ada di Nusantara tidak mengadopsi aturan lajur kanan ini.

Tradisi berjalan di sebelah kiri juga dipengaruhi oleh kebiasaan para ksatria dan prajurit perang zaman dahulu.

Sebagian besar orang bertarung menggunakan tangan kanan yang dominan. Memegang pedang dengan tangan kanan serta menempatkan sarung pedang di pinggang sebelah kiri membuat seseorang lebih terlindungi jika berjalan di sisi kiri jalan. Posisi ini memudahkan prajurit menarik pedang untuk merespons atau menyerang musuh yang datang dari arah berlawanan.

Kebiasaan dari era kolonial Belanda ini terus bertahan dan mengakar kuat di tengah masyarakat Nusantara. Di sisi lain, beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang pernah menjadi wilayah jajahan Britania Raya seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura juga menerapkan aturan yang sama hingga saat ini.

baca juga

Mengapa Indonesia Tidak Berpindah ke Jalur Kanan?

Mengapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri Saat Berkendara dan Tidak Berpindah ke Jalur Kanan? | Unsplash @Markus Winkler
info gambar

Mengapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri Saat Berkendara dan Tidak Berpindah ke Jalur Kanan? | Unsplash @Markus Winkler


Saat ini, Indonesia termasuk dalam kisaran 35% negara di dunia yang masih mempertahankan aturan lajur kiri saat berkendara. Negara maju di Asia seperti Jepang juga konsisten menerapkan aturan sistem lalu lintas di sisi kiri.

Kebijakan ini terkadang memantik pertanyaan mengapa Indonesia memilih tetap bertahan dengan lajur kiri dan tidak ikut berpindah ke lajur kanan seperti mayoritas negara lainnya?

Ragam alasannya bisa diselami lewat salah satu tulisan National Geographic. Salah satunya karena mengubah sistem lajur berkendara yang sudah mendarah daging membutuhkan momentum kebudayaan yang besar. Tanpa dorongan kuat, suatu negara cenderung mempertahankan sistem yang sudah ada.

Di samping itu, ada juga alasan yang mungkin bisa dimasukkan ke dalam jawaban: sikap keras kepala—sejenis dengan bagaimana Amerika keras kepala mempertahankan ukuran feet dan inci dalam perhitungan panjang dan tinggi mereka di saat banyak orang perlu membuka Google terlebih dahulu untuk mengonversi cm atau meter ke inci.

Nah, sebagai negara berkembang, alasan yang rasanya paling relevan bagi Indonesia adalah tingginya tingkat kompleksitas dan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk merombak total sistem atau aturannya. Belum lagi, kendaraan roda empat yang beroperasi di Tanah Air sudah terlanjur diproduksi dengan rancangan khusus setir kanan.

Ditambah lagi, Indonesia masih menghadapi beragam tantangan pembangunan yang memerlukan perhatian utama, mulai dari masalah kemiskinan, kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun, bencana erupsi gunung berapi, hingga isu deforestasi hutan lindung dan tanah adat. Dengan sekian banyak prioritas yang mendesak, merombak total arah jalur berkendara tentu bukan menjadi sebuah kebutuhan yang darurat.

Untuk melengkapi gambaran Kawan GNFI, mari kita cermati pemetaan penggunaan lajur berkendara di berbagai negara kawasan Asia berikut ini.

Daftar Negara Asia yang Menggunakan Jalur Kiri dan Kanan

Dikutip dari laman World Standard dan Seasia, berikut daftar negara Asia yang menggunakan jalur kiri dan kanan untuk berkendara:

Daftar Negara Asia yang Menggunakan Jalur Kiri

NegaraJalur Berkendara
IndonesiaKiri
Brunei DarussalamKiri
MalaysiaKiri
SingapuraKiri
ThailandKiri
Timor LesteKiri
JepangKiri
Hong Kong (Daerah Administratif Khusus China)Kiri
Macau (Daerah Administratif Khusus China)Kiri

Daftar Negara Asia yang Menggunakan Jalur Kanan

NegaraJalur Berkendara
FilipinaKanan
KambojaKanan
LaosKanan
MyanmarKanan
VietnamKanan
Korea SelatanKanan
Republik Rakyat ChinaKanan
Korea UtaraKanan
TaiwanKanan
baca juga

Tertarik untuk membedah lebih banyak cerita unik, rekam jejak sejarah, dan keanekaragaman budaya Nusantara? Kawan GNFI dapat menemukan ragam artikel informatif dan wawasan menarik lainnya seputar Indonesia hanya di Good News From Indonesia!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.