Erupsi Anak Krakatau yang berlangsung sepanjang 2026 kembali mengarahkan perhatian dunia pada gugusan gunung api di Selat Sunda, perairan sempit yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera. Gunung ini merupakan keturunan langsung dari Krakatau, yang pada 27 Agustus 1883 meletus dengan kekuatan yang hingga kini masih dianggap salah satu yang terbesar dalam sejarah manusia modern.
Ledakan itu tidak hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menewaskan puluhan ribu orang, tetapi juga menghasilkan salah satu suara terkeras yang pernah tercatat di bumi, terdengar hingga radius lebih dari 4.600 kilometer dari pusat letusan. Aktivitas Anak Krakatau yang meningkat tahun ini pun menjadi momen untuk menengok kembali rekor tersebut, sekaligus melihat bagaimana gunung yang lahir dari kaldera peninggalan ledakan 1883 itu kembali menunjukkan tanda-tanda kegelisahannya.
Ledakan yang Terdengar di Seperdelapan Bumi
Letusan Krakatau pada Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.20 waktu setempat, tercatat sebagai ledakan dengan kekuatan setara sekitar 13.000 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Suara ledakannya terdengar di sepanjang Samudra Hindia, dari Pulau Rodriguez dan Sri Lanka di sebelah barat, hingga ke Australia di sebelah timur, dengan jarak tempuh suara mencapai lebih dari 4.600 kilometer dari sumbernya.

Kolom abu vulkanik membubung dari letusan Krakatau, salah satu ledakan terkeras yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern. Foto: Anonim/Leiden University Libraries, domain publik via Wikimedia Commons.
Gelombang tekanan udara akibat letusan ini bahkan tercatat mengelilingi bumi hingga beberapa kali oleh barometer di berbagai stasiun pengamatan cuaca dunia, sebagaimana didokumentasikan dalam kajian Self dan Rampino (1981) yang meninjau ulang data letusan tersebut. Berdasarkan estimasi yang banyak dikutip, suara ledakan ini kemungkinan didengar oleh sekitar satu per delapan populasi manusia yang hidup di bumi pada masa itu, menjadikannya salah satu peristiwa akustik terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah.
Kekuatan ledakan ini turut menghancurkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau, termasuk Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan, serta sebagian Gunung Rakata yang kehilangan separuh kerucutnya dan membentuk cekungan selebar 7 kilometer dengan kedalaman sekitar 250 meter. Sekitar 23 kilometer persegi bagian pulau tersebut runtuh ke dalam kaldera yang terbentuk akibat letusan. Material yang dilontarkan mencapai volume sekitar 18 kilometer kubik, dengan debu vulkanik yang tersembur hingga ketinggian 80 kilometer dan terbawa angin sampai ke langit Norwegia dan New York.

Sumber: Ensiklodia britanica
Selain gelombang suara, letusan ini memicu gelombang tsunami setinggi sekitar 40 meter yang menghantam permukiman pesisir di Jawa dan Sumatera, ditambah longsoran bawah laut yang memperparah dampaknya, sebagaimana direkonstruksi dalam kajian Maeno dan Imamura (2011) yang memadukan data letusan dan catatan tsunami historis.
Data resmi pemerintah Hindia Belanda mencatat 36.417 korban jiwa, meski sejumlah sumber lain memperkirakan angka yang jauh lebih tinggi, mencakup 295 kampung di sepanjang pesisir mulai dari Serang hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan, serta Sumatera Selatan. Gelombang tsunami bahkan tercatat merambat hingga ke Hawaii, pantai barat Amerika Tengah, dan Semenanjung Arab yang berjarak sekitar 7.000 kilometer dari pusat letusan. Dampak gabungan dari ledakan, abu vulkanik, dan tsunami ini menjadikan letusan Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling merusak dalam sejarah manusia modern, sekaligus bencana besar pertama yang terekam secara global berkat jaringan telegraf bawah laut yang sudah beroperasi pada masa itu.
Anak Krakatau 2026: Erupsi di Kaldera yang Sama
Empat puluh empat tahun setelah ledakan 1883, sebuah pulau baru muncul dari dasar kaldera yang sama pada 1929, hasil dari rangkaian letusan bawah laut yang dimulai akhir 1927. Gunung inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau, yang terus tumbuh secara bertahap melalui akumulasi material vulkanik dari letusan-letusan kecil yang berulang selama hampir satu abad, termasuk aktivitas signifikan pada 2016 dan 2017, sebelum runtuh sebagian pada Desember 2018 dan memicu tsunami yang menewaskan sedikitnya 430 orang di pesisir Banten dan Lampung.
Meski skala erupsi 2026 jauh berbeda dari ledakan 1883 yang menghasilkan suara terkeras dalam sejarah modern, kedua peristiwa ini berasal dari sistem vulkanik yang sama di Selat Sunda, sebuah kawasan yang hingga kini tetap menjadi salah satu titik pengawasan geologi paling ketat di Indonesia.
Referensi
Maeno, F., & Imamura, F. (2011). Coupling eruption and tsunami records: The Krakatau 1883 case study, Indonesia. Bulletin of Volcanology, 73(9), 1281–1294. https://doi.org/10.1007/s00445-014-0814-x
Self, S., & Rampino, M. R. (1981). The 1883 eruption of Krakatau. Nature, 294(5843), 699–704. https://doi.org/10.1038/294699a0
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


