jejak trem batavia - News | Good News From Indonesia 2026

Sebelum KRL dan MRT: Jejak Trem Batavia dan Awal Mula Transportasi Massal di Indonesia

Sebelum KRL dan MRT: Jejak Trem Batavia dan Awal Mula Transportasi Massal di Indonesia
images info

Sebelum KRL dan MRT: Jejak Trem Batavia dan Awal Mula Transportasi Massal di Indonesia | Wikimedia Commons @K Koritzsch


Sebelum angkutan seperti MRT dan KRL menjamur, ibu kota Nusantara pada masanya pernah memiliki jaringan kereta trem Batavia yang terintegrasi dan sangat sibuk. Kehadiran moda transportasi ini menjadi salah satu tonggak awal perkembangan angkutan perkotaan massal di Indonesia.

Hari ini, Kawan GNFI mungkin lebih akrab dengan KRL, MRT, TransJakarta, hingga LRT untuk mendukung mobilitas harian. Namun, gagasan mengangkut banyak orang di dalam satu moda angkutan berukuran besar di rute perkotaan ternyata bukanlah sebuah penemuan baru.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana moda transportasi masa lampau, trem Batavia, ini mengubah cara orang bepergian di Jakarta pada masa tersebut?

baca juga

Awal Kereta Trem Mulai Membawa Penumpang di Batavia

Sejarah Kereta Trem Batavia, Angkutan Umum Jaman Dulu
info gambar

Sejarah Kereta Trem Batavia, Angkutan Umum Jaman Dulu | Wikimedia Commons @Fotograaf Onbekend


Sistem perhubungan darat Jakarta memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan dinamis. Dikutip dari jurnal Saputra (2022), pemerintah Hindia Belanda membangun jaringan rel kota karena Batavia membutuhkan alat transportasi yang efektif, efisien, cepat, dan murah untuk mengangkut para penumpang di tengah aktivitas wilayah yang terus berkembang.

Awalnya, warga mulai menikmati layanan rute trem kuda pada tahun 1869 yang dikelola oleh pemerintah kolonial, tepatnya Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM). Rutenya memanjang dari Oud Batavia (kawasan Kota Tua) sampai Weltevreden (wilayah Jakarta Pusat) dengan ongkos hanya senilai 10 sen.

Seiring bergantinya zaman, tenaga kuda dirasa kurang efisien dan mumpuni sehingga posisinya digantikan oleh trem uap pada tahun 1881. Alasan pergantian ini unik, mulai dari kuda kerap buang air sembarangan, banyak kuda yang mati karena kelelahan, hingga harga pakan yang naik.

Kereta trem uap sendiri dikelola oleh Nederland Indische Tramweg Maatschappij (NITM) dan melayani rute mulai dari Oud Batavia hingga Meester Cornelis (kawasan Jatinegara).

Sejarah mencatat babak baru ketika pada tahun 1897 operasional trem uap harus bersaing ketat dengan teknologi trem listrik. Dinamika transportasi ini menyebabkan harga tiket melambung tinggi dan akhirnya bermuara pada kesepakatan penggabungan perusahaan trem uap dan listrik menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM) pada tahun 1930.

Ketika Trem Mengubah Cara Orang Bergerak di Kota

Kereta Trem Batavia, Angkutan Jadul Sebelum KRL dan MRT Hadir
info gambar

Kereta Trem Batavia, Angkutan Jadul Sebelum KRL dan MRT Hadir | Wikimedia Commons @Museum Kramat Salemba Batavia


Infrastruktur angkutan kota pada dasarnya tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi keberadaannya justru ikut membentuk wajah kota itu sendiri. Kehadiran fasilitas rel ini membuat masyarakat Batavia pada saat itu memiliki pilihan perjalanan yang jauh lebih teratur. Pergerakan manusia antara kawasan permukiman, wilayah niaga, dan pusat aktivitas birokrasi menjadi semakin mudah dijangkau.

Berdasarkan kajian dalam jurnal Saputra (2022), fasilitas kereta trem Batavia membawa dampak sosial yang sangat signifikan, salah satunya adalah berkembangnya mobilitas penduduk di Batavia secara masif. Mobilitas ini memicu kota menjadi semakin produktif.

Moda angkutan ini juga memperlihatkan berkembangnya pelapisan sosialmasyarakat Batavia melalui aturan pembagian kelas di dalam gerbong, misalnya pembagian gerbong berdasarkan golongan ras Eropa, Timur Asing, dan pribumi.

Dari sisi komersial, ketersediaan angkutan ini mendorong berkembangnya kota perdagangan di Batavia karena letak halte yang senantiasa dibangun berdekatan dengan area pasar, seperti Tanjung Priok, Pasar Ikan, Glodok, Tanah Abang, Senen, Kramat, dan Meester Cornelis.

Perputaran ekonomi di sekitar stasiun pemberhentian secara alami juga membuka lapangan usaha dan pekerjaan baru bagi penduduk, mulai dari membuka warung kopi, pedagang asongan, hingga jasa kuli angkut.

baca juga

Dari Trem Listrik hingga Transportasi Modern

Jika Kawan GNFI menarik garis waktu dari era kolonial menuju masa kini, terlihat jelas sebuah rentetan evolusi perhubungan yang menakjubkan.

Menurut laman resmi Jakarta Smart City, perjalanan panjang sejarah transportasi Indonesia ini bermula dari kereta trem, kemudian tergantikan oleh bus kota yang dinilai lebih efisien, dan perlahan berevolusi menjadi wujud kereta rel perkotaan masa kini.

Wujud angkutan penumpang pun perlahan berubah, dari gerbong uap menjadi oplet, beralih ke mikrolet, hingga kini masyarakat difasilitasi oleh Mikrotrans ber-AC yang nyaman. Trayek bus kota seperti Metromini dan Kopaja pun akhirnya melebur dan bertransformasi menjadi sistem TransJakarta.

Mengapa wujud dan sistem ini terus berubah? Jawabannya ada pada tuntutan teknologi, kapasitas muatan, luasan jaringan, serta tingginya kebutuhan aksesibilitas masyarakat.

Perbedaannya memang terlihat sangat jelas pada sisi modernisasi mesin, namun tujuan utamanya tetap sama. Transportasi umum Jakarta masa kini dan masa lalu dibangun untuk memindahkan banyak orang secara serentak di tengah lanskap kota metropolitan yang kian padat.

Mengapa Jejak Trem Batavia Masih Penting Hari Ini?

Melihat seluruh catatan panjang tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa persoalan infrastruktur publik di Jakarta bukanlah fenomena yang baru muncul di abad ke-21. Dinamika kemacetan dan kebutuhan perpindahan manusia sudah menjadi masalah nyata sejak awal kota ini berdiri menjadi pusat ekonomi. Histori ini memberikan edukasi berharga bahwa ketergantungan penduduk terhadap fasilitas transportasi publik sudah mengakar kuat sejak dulu.

Sistem komuter canggih masa kini pada hakikatnya merupakan penyempurnaan panjang dari evolusi tata ruang kota. Wujud kendaraannya memang mengalami lompatan teknologi yang luar biasa, tetapi kebutuhan manusia untuk terhubung dan berpindah tempat tetap sama.

Sebelum suara roda KRL Jakarta dan kereta MRT menjadi bagian dari ritme keseharian warga metropolitan, derak besi lintas rel lebih dulu menemani kesibukan jalanan Batavia.

Trem Batavia adalah sebuah memori kolektif bangsa yang mungkin sudah lama hilang secara fisik, tetapi gagasan utamanya masih terus dihidupkan: membawa banyak orang bergerak mencapai tujuan di tengah luasnya kota.

Ingin terus menemukan cerita hebat dan menggali pengetahuan baru di balik ragam kebudayaan Nusantara? Kawan GNFI bisa menjelajahi dan membaca beragam artikel menarik seputar sejarah hingga inspirasi tokoh lokal hanya di platform Good News From Indonesia!

baca juga

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.