menyingkap alasan anehnya angka 4 romawi di jam gadang - News | Good News From Indonesia 2026

Menyingkap Alasan 'Anehnya' Angka 4 Romawi di Jam Gadang

Menyingkap Alasan 'Anehnya' Angka 4 Romawi di Jam Gadang
images info

Menyingkap Alasan 'Anehnya' Angka 4 Romawi di Jam Gadang | Sumber: Wikimedia Commons @Adhmi


Ketika melintas di pusat Kota Bukittinggi, pandangan Kawan tentu akan dengan mudah tertuju pada kemegahan Jam Gadang. Bangunan megah ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan juga landmark ikonik yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Namun, jika Kawan mengamati bagian mukanya dengan lebih saksama, ada sebuah detail kecil yang menarik perhatian.

Deretan angka Romawi terukir rapi mengelilingi piringan penunjuk waktu pada menara tersebut. Menariknya, terdapat kejanggalan pada deretan angka tersebut. Angka 4 Romawi pada Jam Gadang tidak ditulis menggunakan simbol "IV" sebagaimana yang umum dipelajari dalam pelajaran sekolah, melainkan ditulis dengan urutan empat garis lurus, yakni "IIII".

Melihat tampilan tersebut, pertanyaan sederhana tentu secara refleks muncul di benak kita. Bukankah penulisan angka 4 Romawi yang benar dan baku adalah "IV"? Mengapa menara jam yang begitu megah dan bersejarah ini justru mengadopsi susunan "IIII"?

Penulisan angka 4 Romawi pada Jam Gadang yang tak biasa ini ternyata menyimpan penjelasannya sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan rekam sejarah, tradisi pembuatan jam mekanis, hingga konvensi angka Romawi kuno yang menarik untuk diulas.

Sekilas tentang Jam Gadang, Ikon yang Menjadi Penanda Bukittinggi

Jam Gadang berdiri kokoh di pusat Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat, dan berfungsi sebagai menara penunjuk waktu utama kota. Nama Jam Gadang sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang memiliki arti 'jam besar'. Sebutan ini sangat relevan dengan fisiknya yang menjulang selinggi 26 meter serta memiliki diameter piringan jam sebesar 80 sentimeter di keempat sisinya.

Pembangunan menara ini diinisiasi pada kurun tahun 1926 hingga 1927 atas gagasan Hendrik Roelof Rookmaaker, seorang sekretaris atau controleur Kota Fort de Kock (nama lama Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Sementara itu, mesin jam yang digunakan pada keempat sisinya merupakan hadiah langsung dari Ratu Belanda, Wilhelmina, yang didatangkan khusus dari Rotterdam melalui Pelabuhan Teluk Bayur.

Arsitektur menara Jam Gadang dirancang oleh arsitek lokal bernama Yazid Rajo Mangkuto dari Koto Gadang. Sedangkan proses pelaksanaannya dipimpin oleh Haji Moran bersama mandor Sutan Gigi Ameh.

Sejak saat itu, penampakan angka-angka Romawi di keempat sisi muka jam telah menjadi bagian integral dari identitas visual bangunan ini.

 Potret Jam Gadang | Sumber: Wikimedia Commons @Crisco 1492
info gambar

Potret Jam Gadang | Sumber: Wikimedia Commons @Crisco 1492


Kenapa Angka 4 Romawi di Jam Gadang Ditulis 'IIII'?

Penggunaan simbol "IIII" untuk menyatakan angka 4 pada Jam Gadang sebenarnya memiliki preseden historis yang sah. Dalam sejarah penggunaan angka Romawi, simbol "IV" bukanlah satu-satunya bentuk baku yang digunakan sejak dulu.

Pada era klasik awal, penulisan angka 4 memang umum menggunakan empat garis sejajar atau "IIII" sebelum akhirnya sistem pengurangan (subtractive notation) seperti "IV" lebih dipopulerkan di era modern.

Salah satu penjelasan populer menyebutkan bahwa tradisi penulisan ini berkaitan dengan pembuatan jam pesanan Raja Louis XIV dari Prancis.

Ketika sang pembuat jam menyerahkan karyanya dengan angka "IV", Raja Louis XIV kabarnya tidak menyukai tampilan tersebut karena dinilai kurang seimbang secara visual dengan angka "VIII" di seberangnya. Ia kemudian memerintahkan agar angka 4 diganti menjadi "IIII", yang kelak memengaruhi konvensi pembuatan jam mekanis.

Meskipun kisah Raja Louis XIV cukup populer, catatan sejarah dari peneliti horologi seperti W.I. Milham menunjukkan bahwa penggunaan "IIII" sudah ada jauh sebelum era raja tersebut.

Ada pula teori sejarah kuno yang menyebutkan bahwa bangsa Romawi menghindari tulisan "IV" pada penunjuk waktu karena merupakan singkatan dari IVPITER (Dewa Jupiter). Mereka enggan mencantumkan nama dewa secara sembarangan pada piringan jam.

Khusus untuk Jam Gadang, berkembang pula cerita lokal yang mengaitkan hal ini dengan masa kolonial Belanda. Konon, pihak Belanda khawatir penulisan "IV" dapat ditafsirkan sebagai singkatan dari I Victory atau sebuah simbol kemenangan. Mereka cemas hal itu bisa memicu semangat perlawanan rakyat Bukittinggi, sehingga diputuskanlah penulisan "IIII".

Berbagai alasan spesifik di atas, mulai dari sejarah penomoran kuno, estetika dial, hingga faktor politik kolonial, menjadi penjelas yang berkembang. Walau belum ada dokumen primer tunggal yang memverifikasi alasan pasti pembuat Jam Gadang saat itu, satu hal yang pasti adalah penulisan "IIII" bukanlah sebuah kesalahan eja atau kebetulan semata.

baca juga

'IIII' Ternyata Bukan Keunikan Jam Gadang Saja

Bagi Kawan yang baru mengetahui hal ini, penulisan "IIII" mungkin terasa unik dan sangat spesifik bagi Jam Gadang. Padahal, jika kita mengamati berbagai jam mekanis klasik buatan Eropa di tempat lain, penggunaan simbol "IIII" untuk angka 4 Romawi adalah sebuah tradisi dan standar desain yang sangat umum.

Para pembuat jam sejak abad ke-14 telah mengadopsi format ini karena pertimbangan keseimbangan estetika piringan jam (clock dial). Jika piringan jam dibagi dua secara vertikal, sisi kanan yang memuat angka I hingga IV akan terasa lebih seimbang dengan sisi kiri yang memuat angka V hingga XII apabila angka 4 ditulis sebagai "IIII".

Selain faktor estetika, aspek keterbacaan (readability) juga menjadi alasan teknis lainnya. Simbol "IIII" mempermudah seseorang membaca posisi jam dari jarak jauh atau dari sudut miring tanpa tertukar dengan angka "VI" (6) yang posisinya berada di bagian bawah piringan jam.

Dengan demikian, keberadaan angka "IIII" di muka Jam Gadang menegaskan bahwa mesin jam yang didatangkan dari Rotterdam pada tahun 1926 tersebut dibuat dengan memegang teguh tradisi pembuatan jam mekanis Eropa pada zamannya.

Jadi, Apakah “IIII” di Jam Gadang Salah?

Jawabannya adalah tidak. Penggunaan angka "IIII" pada Jam Gadang sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai kesalahan penulisan.

Dalam standar penulisan angka Romawi modern, kita memang lebih terbiasa dengan kaidah pengurangan di mana 4 ditulis sebagai "IV" (5 dikurangi 1). Namun, dalam konteks sejarah arsitektur, horologi, dan seni desain jam klasik, variasi "IIII" adalah bentuk baku yang memiliki dasar sejarah yang sangat kuat.

Tampilan angka pada Jam Gadang merupakan bagian otentik dari identitas, desain, serta sejarah objek itu sendiri. Menghakimi penulisan tersebut dengan standar penulisan angka Romawi modern tentu kurang tepat jika kita memahami konteks historis pembuatannya.

baca juga

'Keanehan' yang Membuat Jam Gadang Punya Cerita Besar

Detail-detail kecil seperti penulisan angka "IIII" pada Jam Gadang membuktikan bahwa sebuah bangunan bersejarah selalu menyimpan cerita yang lebih dalam dari sekadar tampilannya yang megah. Sebuah 'keanehan' kecil pada angka Romawi ternyata mampu membuka cakrawala kita mengenai sejarah penomoran, teknologi horologi kuno, hingga dinamika sosial-politik di masa lampau.

Warisan budaya bangsa tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti besar atau narasi tradisi yang agung. Terkadang, jejak sejarah tersimpan rapi dalam detail-detail arsitektur kecil yang sering terlewatkan oleh pandangan mata kita sehari-hari.

Saat Kawan berkesempatan berkunjung ke Bukittinggi dan berdiri di hadapan Jam Gadang kelak, cobalah luangkan waktu sejenak untuk menengadah ke arah piringan jamnya. Setelah memahami kisah di baliknya, Kawan pasti akan melihat angka "IIII" tersebut bukan lagi sebagai sebuah keanehan, melainkan sebagai bagian dari pesona sejarah yang membuat ikon ini kian istimewa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Maulana Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Maulana Latumeten.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.