mengenal fenomena de influencing saat gen z mulai tolak tekanan tren - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Fenomena De-Influencing, Saat Gen Z Mulai Tolak Tekanan Tren

Mengenal Fenomena De-Influencing, Saat Gen Z Mulai Tolak Tekanan Tren
images info

Ilustrasi kritis terhadap tren media sosial | Foto: Unsplash | Gilles Lambert


Konten di media sosial selama ini identik dengan ajakan untuk berbelanja, seperti rekomendasi produk dan promosi barang yang kerap dilabeli sebagai produk “must have”. Namun, lanskap digital kini mengalami pergeseran dengan lahirnya gerakan de-influencing, di mana kreator konten justru mengajak audiensnya untuk lebih selektif dalam membeli produk, bahkan menyarankan untuk tidak membeli sama sekali.

Dalam riset yang dipublikasikan di Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Krisma Desita dan tim menemukan bahwa Gen Z memaknai de-influencing sebagai upaya sadar untuk melepaskan diri dari tekanan tren dan kebiasaan konsumsi yang berlebihan.

Hal ini tercermin dari gaya berpakaian mereka yang saat ini telah bergeser menjadi lebih minimalis. Karena daripada terus mengikuti tren yang cepat berganti, mereka kini lebih memilih pakaian yang fungsional, tahan lama, dan mudah dipadupadankan.

Lantas, apa yang membuat gaya hidup seperti ini semakin diminati? Alasannya cukup beragam, mulai dari ingin hidup lebih sederhana dan efisien, hingga motivasi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, hal ini juga didorong oleh keinginan untuk mengurangi tekanan sosial dan mengikis rasa takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) yang biasanya sering dipicu oleh media sosial.

Untuk menerapkan gaya hidup seperti ini, narasumber dalam penelitian tersebut telah melakukan pendekatan yang cukup terstruktur. Mereka mulai membuat capsule wardrobe (metode menyusun isi lemari yang hanya berfokus pada koleksi pakaian esensial dan berjumlah sedikit yang bisa di mix and match untuk berbagai macam gaya), memilih pakaian dengan warna-warna netral, dan menunda membeli sesuatu sampai benar-benar yakin barang tersebut dibutuhkan.

Hasilnya, mereka merasa hidup jadi lebih ringan dan terkendali, dengan lemari pakaian yang lebih rapi dan kebiasaan belanja impulsif pun perlahan berkurang.

baca juga

Dampak Positif bagi Kesehatan Mental

Fenomena ini rupanya bukan cuma terjadi di Indonesia. Dalam jurnal Journal of Business Research, Nina Michaelidou dan tim menemukan hal serupa lewat wawancara mendalam terhadap 15 pengguna TikTok berusia 19 hingga 24 tahun yang aktif mengikuti konten kecantikan. Hasilnya, pengaruh de-influencing dinilai memiliki efek yang lebih positif terhadap rasa percaya diri dan penerimaan diri, jika dibanding dengan konten influencer pada umumnya yang kerap memicu perbandingan diri dengan citra yang tidak realistis.

Selain itu, konten semacam ini juga dinilai terasa lebih jujur dan apa adanya karena menyajikan realitas, alih-alih menjual mimpi kesempurnaan.

Salah satu responden menjelaskan hal ini turut menyadarkan masyarakat bahwa menuntut diri untuk selalu tampil dengan standar tertentu sebenarnya tidak wajar. Publik pun tidak perlu merasa terbebani untuk membeli barang-barang tertentu, sebab misi utamanya adalah mendorong setiap individu agar lebih nyaman dengan diri sendiri.

“Menurutku, hal ini akan membuat orang-orang sadar bahwa, pertama-tama, tidak wajar untuk tampil dengan cara tertentu. Kamu tidak perlu membeli barang-barang tertentu, dan ini juga bertujuan untuk mendorong orang agar lebih nyaman dengan diri sendiri,” jelasnya.

Ilustrasi self-esteem | Foto: Unsplash | Caroline Veronez
info gambar

Ilustrasi self-esteem | Foto: Unsplash | Caroline Veronez


baca juga

Lahirnya Konsumen Cerdas yang Berani Memilih

Kesadaran baru ini melahirkan sebuah tren positif di kalangan generasi muda untuk menjadi konsumen yang lebih kritis sebelum bertransaksi. Melalui gerakan de-influencing, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat promosi barang, melainkan berperan dalam memberikan edukasi kepada publik untuk berpikir kritis ketika mengambil keputusan.

Gerakan ini juga menjadi bukti nyata adanya ketahanan konsumen (consumer resistance) terhadap arus konsumsi yang berlebihan di platform digital. Sikap yang ditunjukkan oleh Gen Z saat ini, seperti memilih pakaian minimalis yang fungsional dan sikap selektif terhadap suatu produk membawa dampak baik pada pemulihan kesehatan mental serta ketahanan finansial mereka.

Karena alih-alih menjadi objek pasar yang pasif, mereka kini lebih memilih esensi kegunaan barang dibandingkan sekadar mengikuti gengsi sosial.

Melihat pergeseran perilaku konsumen tersebut, kedua riset di atas menyarankan agar para pemilik brand mulai mengubah cara jualan mereka menjadi lebih jujur, etis, dan terbuka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sebab, konsumen zaman sekarang sudah semakin cerdas sehingga mereka lebih suka mendukung brand yang memiliki kepedulian nyata terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.