Lina berdiri di area keberangkatan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa siang, 8 September 2026. Di sampingnya, koper anaknya sudah rapi, siap masuk bagasi. Anak itu akan terbang ke Frankfurt, Jerman. Antrean check-in mulai mengular lagi, seperti hari-hari biasa sebelum semuanya berhenti mendadak dua hari sebelumnya.
Wajah Lina tenang. Padahal sejak Minggu dini hari, ia nyaris tidak bisa tidur karena cemas.
Sejak Minggu, 6 September, bandara ini ditutup berkali-kali. Setiap kali ditutup, Lina memantau. Setiap kali ada tanda-tanda dibuka, ia periksa lagi. Senin malam, ia tahu penutupan diperpanjang sampai tengah malam, pukul 24.00 WIB. Ia tidak menyerah menunggu.
"Kita kan emang nunggu ya dari kemarin ditutup sampai tadi malam kan jam 12.00 malam. Terus tadi pagi sih jam 02.00 saya cek lagi, ternyata alhamdulillah udah dibuka," katanya.
Pukul dua dini hari Selasa, saat kebanyakan orang lelap, Lina justru membuka ponselnya, mencari kabar soal bandara. Ia menemukan NOTAM baru: Soekarno-Hatta resmi beroperasi lagi mulai pukul 00.30 WIB hari itu. Begitu tahu penerbangan anaknya tidak batal, karena memang sudah dijadwalkan hari itu, barulah ia bisa bernapas lega. "Alhamdulillah tidak terdampak. Emang jadwalnya hari ini," katanya, singkat, seperti orang yang baru saja melepas beban yang dipikul dua hari penuh.
Bukan hanya Lina yang mengalami kecemasan semacam itu sejak akhir pekan itu. Jutaan orang lain mengalami hal serupa, sejak Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meletus Minggu dini hari, dan abunya menyebar ke udara Banten, Jakarta, dan Lampung. Karena itulah Bandara Soekarno-Hatta ditutup.
Ironisnya, penutupan ini terjadi hanya sebulan setelah bandara ini dinobatkan sebagai bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara versi OAG, dengan 25,9 juta penumpang tercatat sepanjang semester pertama 2026, Januari sampai Juni.
Bandara sesibuk itu, tiba-tiba lumpuh karena abu dari gunung di tengah laut. Bayangkan efeknya. Satu bandara berhenti, ratusan ribu rencana perjalanan orang lain ikut berantakan, dari yang mau liburan, perjalanan bisnis, umrah, sampai yang cuma mau pulang kerja ke kota asal. Bayangkan juga betapa repotnya mengatur ratusan ribu orang itu, di tengah krisis yang belum jelas kapan berakhir.
Dan krisis itu memang tidak berakhir dalam sekali putusan. Berkali-kali, dengan jadwal yang terus berubah mengikuti arah angin. Pertama, Minggu, 6 September, pukul 01.30 sampai 05.30 WIB, berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26. Empat jam saja, tapi cukup membatalkan 33 penerbangan lebih dulu, sebelum penutupan itu diperpanjang lagi sampai pukul 09.30 WIB pagi harinya, dengan total 209 pergerakan pesawat batal pada rentang waktu tersebut.
Sore harinya bandara sempat dibuka, lalu ditutup lagi Senin, 7 September, sampai pukul 18.00 WIB. Menjelang malam, penutupan diperpanjang sekali lagi sampai pukul 24.00 WIB. Baru Selasa dini hari, pukul 00.30 WIB, Soekarno-Hatta benar-benar dibuka kembali, disusul Bandara Halim Perdanakusuma pukul 00.40 WIB dan Husein Sastranegara pukul 00.42 WIB.
Angin yang berubah arah membuat abu vulkanik naik turun ketinggian, kadang menjauh ke Samudra Hindia, kadang balik lagi ke Jabodetabek dengan kecepatan sekitar 10 knot. Otoritas tidak berani ambil risiko. Yang dipertaruhkan bukan jadwal, tapi mesin pesawat yang bisa rusak kalau menghirup partikel silika tajam dari abu itu, dan keselamatan penumpang yang duduk di dalamnya.
Karena pertimbangan itulah, meski merepotkan begitu banyak orang, penutupan tetap dipertahankan setiap kali ada indikasi abu belum benar-benar hilang. Angkanya pun tidak kecil, dan terus membesar seiring hari. Pada Minggu malam, pukul 21.30 WIB, tercatat 1.039 penerbangan terdampak dengan sekitar 166.351 penumpang. Sampai Senin sore, akumulasi sejak 5 September itu naik menjadi 2.300 penerbangan terganggu dan lebih dari 270.337 penumpang, mencakup pembatalan, penundaan, maupun pengalihan.
Dampaknya menyebar ke banyak bandara sekaligus. Tujuh bandara sempat berstatus tutup bersamaan: Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Husein Sastranegara (Bandung), Budiarto (Tangerang), Pondok Cabe (Tangerang Selatan), Radin Inten II (Lampung Selatan), dan Muhammad Taufiq Kiemas (Pesisir Barat, Lampung). Enam bandara lain, dari Kertajati (Majalengka) sampai Adi Soemarmo (Solo), Juanda (Surabaya), Yogyakarta International Airport (Kulon Progo), dan Adisutjipto (Yogyakarta), mendadak jadi tempat pelarian bagi maskapai yang tidak bisa mendarat di Jakarta.
Bukan Sekadar Menutup, Tapi Mengurus
Saya sendiri mengikuti perkembangannya waktu demi waktu, dari layar ponsel di Surabaya, jauh dari pusat krisis di Selat Sunda. Update demi update saya baca, puluhan berita, ratusan postingan media sosial; dari NOTAM yang berubah-ubah sampai cuitan penumpang di media sosial ketika mereka terjebak di terminal.
Kebetulan saya termasuk orang yang sangat sering terbang, hampir tiap minggu, kadang lebih dari sekali seminggu. Karena itu saya punya semacam kebiasaan lama: setiap kali ada gangguan besar di sebuah bandara, saya perhatikan bagaimana pengelolanya bereaksi. Bukan hanya soal berapa lama ditutup, tapi soal apa yang mereka lakukan selama ditutup.
Dan dari yang saya amati kali ini, saya tidak melihat kepanikan dari pengelola bandara. Saya tidak melihat mereka gagap menghadapi krisis, atau informasi yang simpang siur antara satu pihak dengan pihak lain. Yang saya lihat justru sebaliknya: terukur, terarah, tegas, dan solutif. Empat kata yang jarang sekali bisa disematkan bersamaan pada penanganan krisis di institusi mana pun, apalagi institusi yang tiba-tiba harus mengurus ratusan ribu orang dalam waktu bersamaan.
Tentu kita harus sepakat, penutupan itu keputusan yang wajar, bahkan wajib, demi keselamatan penerbangan. Yang menarik adalah apa yang dilakukan pengelola bandara sejak jam-jam pertama Soekarno-Hatta tutup, Minggu dini hari itu juga, saat kebanyakan orang justru berpikir sebuah krisis baru akan ditangani belakangan, setelah semua tenang.
Penumpang tidak dibiarkan menunggu begitu saja di lantai terminal. Saya membaca, InJourney Airports, operator bandara ini, mengaktifkan Service Recovery Activation, atau SRA, sejak hari pertama, semacam protokol darurat untuk mengurus penumpang yang telantar.
Makanan ringan dan minuman dibagikan di setiap terminal. Bus disiapkan menuju hotel, dikoordinasikan langsung dengan maskapai. Area istirahat khusus dibuka, termasuk employee lounge yang biasanya untuk staf, kini dipakai penumpang biasa. Posko dibuka di Terminal 1B, juga di Terminal 1, 2, dan 3, untuk koordinasi penanganan di lapangan sekaligus tempat penumpang mendaftar layanan tambahan.
Di sisi lain, pihak bandara juga sempat memastikan urusan yang sering luput dari perhatian saat krisis: layanan komersial di terminal, mulai dari toko sampai restoran, tetap dikoordinasikan agar bisa beroperasi 24 jam, supaya kebutuhan penumpang yang menunggu berhari-hari tidak ikut terbengkalai.
Lalu, pada Minggu malam itu juga, pukul 21.00 WIB, kurang dari 24 jam sejak penutupan pertama, delapan bus gratis mulai berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Dua bus untuk tiap tujuan: Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya, empat kota yang selama ini juga jadi tujuan penerbangan tersibuk dari Jakarta. Penumpang yang mau ikut tinggal mendaftar di posko yang dibuka di Terminal 1, 2, dan 3, tanpa embel-embel syarat berbelit. Kalau permintaan naik, jumlah bus dan waktu keberangkatan ditambah sesuai kondisi di lapangan. Semudah itu.
Penanganan ini yang akhirnya sampai ke media sosial dan di-notice oleh banyak orang. First person POV, sudut pandang orang pertama, cerita orang yang benar-benar mengalami.
Ada warga Malaysia yang penerbangannya dibatalkan pada 7 September, lalu memilih naik kereta dari Gambir ke Yogyakarta untuk menyambung penerbangan ke Kuala Lumpur dari sana. Sebelum berangkat, ia sempat menulis di Threads, mengaku dapat makanan dan minuman gratis dari petugas bandara saat terdampar di Jakarta, sembari berharap semua urusannya dipermudah. Warga Malaysia lain yang menulis dari lokasi yang sama bahkan mengaku takut melintas karena begitu banyak orang menunggu, tapi tetap sempat mencatat bahwa staf bandara membagi-bagikan minuman dan camilan untuk mereka yang terlantar.
Ada juga yang menyoroti bukan layanannya, tapi caranya dikomunikasikan. Salah satu warganet menulis, di tengah bencana alam yang memang tidak bisa ditawar, yang paling penting justru kecepatan responsnya, dan menurutnya respons itu memang gercep, sampai ia tidak habis pikir bagaimana petugas bandara sanggup melayani ribuan orang yang mengeluh sekaligus.
Ada pula yang menyebut, dalam pengalamannya singgah di banyak bandara dengan segala antre dan dramanya, penanganan InJourney, dan semua pihak yang terlibat dalam krisis Krakatau ini benar-benar menunjukkan seluruh kapasitas dan kemampuannya, dan itu pantas diapresiasi apa adanya.
Ada lagi penumpang yang menyebut penanganan krisis di bandara Soekarno-hatt ini ini jauh lebih baik dibanding pengalamannya di bandara negara lain saat terjadi krisis. Ada yang justru memuji petugas kebersihan yang membersihkan landasan pacu, taxiway, dan apron dari abu, sesuatu yang biasanya tidak pernah jadi sorotan publik, tapi jadi syarat mutlak sebelum bandara boleh dibuka kembali. Satu warganet bahkan mengunggah video proses pembersihan itu dengan keterangan singkat: jarang melihat hal seperti ini, dan menyebut petugasnya tak kenal lelah.
Pujian itu datang dari orang-orang yang justru dirugikan langsung oleh penutupan bandara. Penerbangan mereka batal atau tertunda, sebagian sampai dua hari. Tapi mereka tetap menulis dengan nada berterima kasih. Tentu saja, ini bukan hal biasa.
Bukan Prestasi Tunggal
Tapi mari jangan buru-buru bertepuk tangan berlebihan. Penutupan bandara selama hampir tiga hari, dari Minggu dini hari sampai Selasa dini hari, tetap kerugian besar. Ratusan ribu penumpang tertahan. Sebagian harus menjadwal ulang rencana, sebagian batal berangkat sama sekali. Bagi yang sedang menuju ibadah umrah, misalnya lewat Kertajati, bagi yang punya jadwal kerja ketat, penundaan itu tetap menyakitkan, sebaik apa pun layanan di lapangan.
Membuka kembali bandara pun tidak instan, meski sudah ada kepastian jam pembukaan. Sebelum NOTAM baru berlaku Selasa dini hari itu, ada 177 pesawat yang harus diperiksa dulu satu per satu sebelum dinyatakan layak terbang lagi. Seluruh area sisi udara, dari landasan pacu, taxiway, sampai apron, dipastikan sudah dibersihkan tuntas dan lolos uji kekesatan, sebelum ketiga bandara, Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara, dibuka kembali.
Begitu beroperasi, Air Traffic Flow Management, atau ATFM, mengatur arus pesawat pelan-pelan, bukan langsung penuh seperti hari biasa. Pemulihan dilakukan bertahap dan terukur, bukan tergesa-gesa, dengan mempertimbangkan percepatan keberangkatan pesawat yang sempat tertunda serta pemulihan kapasitas apron sedikit demi sedikit.
Jadi yang pantas dijadikan rujukan bukan soal bandara cepat dibuka. Justru sebaliknya, otoritas berani menahan diri, tidak buru-buru membuka meski ada tekanan dari maskapai dan penumpang yang menumpuk sejak Minggu. Empat kali uji kertas berturut-turut di Soekarno-Hatta, yang terakhir dilaporkan dalam rapat terbatas bersama Presiden RI pada Senin, 7 September, menunjukkan hasil negatif.
Tapi Kementerian Perhubungan tetap menunggu kepastian arah angin sebelum memutuskan membuka penuh, karena sehari sebelumnya arah angin sempat berubah dari barat ke timur. Itu keputusan yang bisa saja disalahkan kalau ternyata memperpanjang penderitaan penumpang tanpa alasan jelas. Tapi keselamatan penerbangan memang begitu, tidak bisa dinegosiasikan dengan keluhan di media sosial, sekencang apa pun keluhan itu.
Yang pantas dicatat justru kombinasi dua hal: kehati-hatian dalam soal keselamatan, yang jadi wewenang Kementerian Perhubungan dan BMKG, dan kesigapan dalam soal pelayanan, yang jadi pekerjaan rumah pengelola bandara di lapangan. Dua hal yang sering tidak berjalan bersamaan di institusi mana pun, termasuk institusi penerbangan di negara lain. Kalau ada yang layak dijadikan rujukan dari kasus Krakatau kali ini, itulah kombinasinya, bukan salah satu saja.
Dan yang mengurus pelayanan itu bukan institusi kecil. Soekarno-Hatta bagian dari jaringan 37 bandara di seluruh Indonesia yang dikelola InJourney Airports, bagian dari holding BUMN pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia. Krisis abu vulkanik Anak Krakatau ini kebetulan jadi semacam ujian dadakan bagi jaringan sebesar itu, yang berlangsung kurang dari 72 jam sejak letusan pertama sampai bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara itu kembali normal. Bukan ujian yang mereka pilih sendiri, tapi ujian yang datang tiba-tiba dari gunung di tengah Selat Sunda.
Dan dari cerita Lina yang menunggu sampai pukul dua dini hari, dari komentar warga Malaysia yang terdampar tapi tetap menulis terima kasih, dari petugas yang membersihkan landasan pacu dari abu sisa letusan sebelum matahari terbit, ujian itu tampaknya dijalani dengan cukup baik. Bukan sempurna. Bukan tanpa cela. Tapi cukup baik untuk membuat orang-orang yang jadwalnya berantakan tetap menulis kalimat terima kasih, bukan makian.
Dan dari cerita Lina yang menunggu sampai pukul dua dini hari, dari komentar warga Malaysia yang terdampar tapi tetap menulis terima kasih, dari petugas yang membersihkan landasan pacu dari abu sisa letusan sebelum matahari terbit, ujian itu tampaknya dijalani dengan cukup baik. Bukan sempurna. Bukan tanpa cela. Tapi cukup baik, hingga yang tadinya kesal karena menunggu, pulang dengan cerita yang ingin mereka bagikan, bukan keluhan yang ingin mereka lupakan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


