Selama 159 tahun, perjalanan kereta api di Indonesia tidak hanya soal membawa penumpang dari satu kota ke kota lainnya. Di balik jalur rel yang membentang dari barat hingga timur Indonesia, kereta api ikut menjadi bagian dari perubahan wajah kota, menggerakkan aktivitas masyarakat, sekaligus membuka konektivitas antarwilayah.
Kini, peran tersebut semakin berkembang. Stasiun yang dahulu identik sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang mulai bertransformasi menjadi ruang yang mempertemukan transportasi, aktivitas ekonomi, hingga perkembangan kawasan.
Fenomena ini sebenarnya telah lebih dulu terlihat di berbagai kota besar dunia. Tokyo, London, dan Paris menjadikan kawasan sekitar stasiun sebagai pusat aktivitas perkotaan dengan mengintegrasikan transportasi publik, kawasan bisnis, hunian, perdagangan, hingga ruang publik.
Konsep tersebut dikenal sebagai Transit Oriented Development (TOD), yakni pengembangan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai bagian penting dari aktivitas masyarakat.
Dari Lubuk Linggau hingga Banyuwangi, Stasiun Punya Cerita Berbeda
Indonesia memiliki banyak kota yang tumbuh bersama perjalanan kereta api. Setiap stasiun memiliki karakter dan peran berbeda sesuai perkembangan wilayahnya.
Di Sumatera Selatan, misalnya, Stasiun Lubuk Linggau menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat di wilayah barat provinsi tersebut. Keberadaan stasiun membantu menghubungkan aktivitas masyarakat dengan jaringan transportasi berbasis rel.
Cerita serupa terlihat di Stasiun Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Berada di kawasan Pantai Timur Sumatera, stasiun ini menjadi salah satu titik perjalanan masyarakat sekaligus mendukung konektivitas antarwilayah.
Sementara di Pulau Jawa, Stasiun Madiun memiliki hubungan yang lebih panjang dengan sejarah perkeretaapian nasional. Selain menjadi bagian dari jalur perjalanan kereta api di wilayah selatan Jawa, Madiun juga memiliki keterkaitan dengan perkembangan industri perkeretaapian Indonesia.
Bergerak ke ujung timur Jawa, Stasiun Ketapang Banyuwangi memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menuju Jawa Timur bagian timur sekaligus akses konektivitas menuju Bali. Integrasi antara kereta api dan moda transportasi lain membuat kawasan ini semakin penting bagi mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Adapun Stasiun Cikampek berada di jalur penghubung Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah. Pertumbuhan kawasan industri dan aktivitas masyarakat di sekitarnya membuat konektivitas transportasi menjadi kebutuhan yang semakin penting.
Beragam cerita tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kereta api tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kota. Ketika konektivitas semakin baik, mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan juga ikut mendapatkan dampaknya.
351,6 Juta Pelanggan, Peran Kereta Api Makin Besar
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perjalanan berbagai kota bersama kereta api menunjukkan hubungan yang erat antara transportasi dan perkembangan kawasan.
“Kereta api memiliki perjalanan panjang bersama berbagai kota di Indonesia. Setiap stasiun menyimpan cerita mengenai mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan perkembangan daerah. Ke depan, KAI terus mengembangkan layanan perkeretaapian yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan kawasan,” ujar Anne.
Menurut Anne, perkembangan kota-kota dunia menjadi salah satu referensi bagi KAI untuk melihat bagaimana stasiun dapat memiliki peran yang lebih luas. Pengembangan tidak hanya dilakukan dari sisi layanan perjalanan, tetapi juga melalui integrasi transportasi, fasilitas stasiun, serta pengelolaan kawasan pendukung perkeretaapian.
Langkah tersebut sejalan dengan arah strategis KAI dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) untuk menghadirkan layanan perkeretaapian yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan kawasan, dan perubahan pola mobilitas.
Besarnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel juga tercermin dari data terbaru KAI. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, layanan KAI Group melayani 351.602.397 pelanggan. Angka tersebut meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 328.311.868 pelanggan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 317,7 juta pelanggan atau 90,29 persen menggunakan layanan publik melalui skema Public Service Obligation (PSO) dan layanan perintis.
Angka tersebut memperlihatkan semakin besarnya posisi kereta api dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dari sekadar jalur perjalanan, kereta api kini menjadi bagian dari ekosistem mobilitas yang ikut membentuk perkembangan kawasan.
Dengan usia perjalanan yang telah mencapai 159 tahun, tantangan KAI bukan lagi sekadar menjaga rel tetap terhubung. Lebih jauh, bagaimana stasiun dan jaringan kereta api dapat terus mengikuti perubahan kota, kebutuhan masyarakat, serta arah perkembangan ekonomi di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


