Mahasiswa Praktik Kependidikan UNY 2026 ikut berpartisipasi dalam peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia melalui lomba pojok baca. Lomba pojok baca ini menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan yang ingin menciptakan suasana meriah sekaligus menumbuhkan minat baca serta kepedulian terhadap lingkungan belajar.
Lomba pojok baca dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026 di setiap kelas SMPN 4 Yogyakarta, melibatkan seluruh murid kelas 7, 8 dan 9. Lomba pojok baca memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas karena penyediaan ruang baca di lingkungan kelas dapat menjadi salah satu bentuk upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung akses terhadap pengetahuan dan pengembangan budaya literasi.
Meskipun demikian, keberadaan pojok baca tidak dapat serta-merta dianggap sebagai indikator keberhasilan peningkatan literasi apabila hanya berorientasi pada aspek estetika dan perlombaan. Pojok baca perlu dimanfaatkan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai dekorasi kelas setelah kegiatan selesai. Oleh karena itu, keberlanjutan pemanfaatan fasilitas, ketersediaan bahan bacaan yang beragam dan relevan, serta pembiasaan aktivitas membaca menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca siswa serta membudayakan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah melalui optimalisasi fungsi pojok baca sebagai sarana literasi yang lebih menarik dan mudah diakses.
Proses pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi kondisi pojok baca yang sudah ada, dilanjutkan dengan penataan ulang tata letak buku, penambahan koleksi buku bacaan fiksi dan nonfiksi dengan tiga jenis bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris yang sesuai dengan minat dan usia siswa, serta penambahan dekorasi yang menarik pada sudut baca.
Program pendukung yang dilaksanakan yaitu pemberian penghargaan sederhana bagi kelas yang memenuhi kriteria penilaian. Adapun beberapa kriteria penilaian meliputi kerapian 20%, kreativitas 35%, pantauan bacaan 35% dengan nilai akhir 20-100. Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain mahasiswa Praktik Kependidikan sebagai pelaksana utama, OSIS, serta guru penanggung jawab kegiatan.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan karena budaya literasi tidak dapat dibangun hanya melalui satu kegiatan atau satu pihak. Keterlibatan siswa, guru, dan sekolah diperlukan agar pojok baca dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan lomba selesai.
Kegiatan ini telah memberikan perubahan yang signifikan pada murid dari kelas 7 hingga 9. Di setiap kelas kini terdapat sudut baca yang tertata rapi dengan koleksi rata-rata 30 buku bacaan yang tersedia. Kegiatan ini mendorong murid untuk memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca buku.
Penilaian lomba tidak hanya menyoroti keindahan tampilan pojok baca tetapi juga mencakup empat kategori yaitu ketersediaan dan variasi buku, kebersihan serta kenyamanan tempat membaca, kreativitas display pojok baca, hingga buku pantauan aktivitas melalui Jurnal Rekap Baca Siswa (Reading Log). Dengan kriteria penilaian ini diharapkan menumbuhkan kebiasaan merawat dan memanfaatkan pojok baca dengan sendirinya.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menjadi salah satu contoh nyata bagaimana hal sederhana seperti menata pojok baca dapat berdampak besar.
Melalui kegiatan lomba pojok baca ini, diharapkan semangat literasi yang tumbuh di setiap kelas SMPN 4 Yogyakarta tidak berhenti sebatas seremonial peringatan kemerdekaan, melainkan dapat terus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan pojok baca perlu didukung melalui penambahan bahan bacaan secara berkala serta dorongan guru dalam pembelajaran maupun waktu luang. Sehingga pada akhirnya pojok baca tidak hanya menjadi hasil dari sebuah perlombaan, tetapi dapat berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan minat baca, membangun kebiasaan literasi, serta menumbuhkan kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan belajar.
Upaya tersebut diharapkan turut menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih mendukung dan inklusif sebagai bagian dari pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui penyediaan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa untuk terus belajar dan mengembangkan potensinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


