KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 66 menggelar sosialisasi anti-bullying bagi siswa SD Negeri Wonoagung 1 pada 27—29 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut tersebut diikuti seluruh siswa kelas 2—6 sebagai upaya memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai bahaya bullying, cara mengantisipasinya, serta pentingnya membangun hubungan yang saling menghargai di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan yang kreatif dan edukatif agar materi mengenai perundungan dapat diterima siswa dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Mahasiswa KKN tidak hanya menyampaikan materi secara langsung tetapi juga menghadirkan media edukasi berupa video yang dibuat khusus oleh KKN MIT Ke-22 Posko 66 UIN Walisongo Semarang.
Video tersebut menghadirkan Sura, burung hantu yang menjadi maskot KKN MIT Ke-22 Posko 66 sebagai tokoh yang menyampaikan pesan-pesan edukatif mengenai bullying. Penggunaan tokoh maskot dalam video menjadi salah satu cara mahasiswa untuk menarik perhatian siswa sekaligus membuat pembahasan mengenai bullying tidak terasa kaku.
Pesan yang disampaikan melalui video diarahkan agar siswa dapat mengenali tindakan yang termasuk bullying dan memahami dampaknya terhadap orang lain.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Materi tidak hanya disampaikan satu arah tetapi juga dilanjutkan dengan interaksi bersama siswa melalui sesi tanya jawab. Mahasiswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan jawaban dan pendapat berdasarkan pemahaman mereka terhadap materi yang telah diberikan.
Cara tersebut membuat siswa terlibat secara langsung dan mendorong mereka untuk berani berbicara mengenai persoalan bullying yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk meningkatkan partisipasi siswa, mahasiswa KKN juga memberikan apresiasi kepada peserta yang berani maju dan menjawab pertanyaan. Apresiasi tersebut berupa gantungan kunci yang dibuat oleh mahasiswa KKN dengan memanfaatkan tutup botol bekas.
Selain menjadi bentuk penghargaan atas keberanian siswa, pemberian cendera mata tersebut turut memperkenalkan pemanfaatan kembali barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Sosialisasi anti-bullying tersebut mendapat respons positif dari pihak sekolah. Kepala SD Negeri Wonoagung 1, Suwarni, menilai kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN bermanfaat bagi siswa terutama dalam memberikan pemahaman tentang bahaya bullying sekaligus membekali anak-anak dengan pengetahuan untuk menghadapi tindakan tersebut.
“Program sosialisasi anti-bullying ini sangat mendukung sekali supaya anak-anak ini tahu bahaya bullying seperti apa, bagaimana cara mengantisipasi, bisa mengatasi, bisa melawan, bisa keluar dari tekanan atas bullying yang terjadi,” ujar Suwarni.
Menurutnya, pemahaman mengenai bullying penting diberikan kepada anak-anak sejak dini agar mereka tidak hanya mampu mengenali tindakan ini, tetapi juga memahami sikap yang seharusnya dilakukan ketika berhadapan dengan situasi tersebut. Edukasi yang diberikan diharapkan dapat mendorong siswa untuk tidak menjadi pelaku maupun membiarkan tindakan kekerasan terjadi di antara teman-teman mereka.
“Harapannya menjadi paham bahaya bullying, tidak melakukan lagi tindakan yang mengarah ke bullying, tidak lagi terjadi kekerasan di antara rekan-rekan sepermainannya,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar mencegah terjadinya tindakan perundungan, pihak sekolah berharap edukasi tersebut dapat membentuk pola interaksi yang lebih positif di antara siswa. Sikap saling menghargai dan menyayangi dinilai penting dalam membangun hubungan pertemanan yang sehat sekaligus mendukung perkembangan karakter anak.
“Jadi ada timbul saling menghargai, saling menyayangi dan akan membentuk karakter yang baik bagi anak-anak semuanya,” kata Suwarni.
Bagi mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 66, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam memberikan edukasi yang relevan dengan kehidupan siswa. Penyampaian materi melalui video, tokoh maskot, serta interaksi langsung dipilih agar pesan anti-bullying dapat disampaikan secara komunikatif dan menyenangkan tanpa menghilangkan inti edukasi yang diberikan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN berharap siswa dapat membawa pemahaman yang diperoleh ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berinteraksi dengan teman sebaya.
Siswa diharapkan mampu membedakan perilaku yang dapat menyakiti orang lain, menghindari tindakan yang mengarah pada bullying, serta memiliki keberanian untuk mencari bantuan dan keluar dari tekanan ketika menghadapi tindakan tersebut.
Edukasi anti-bullying juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pemahaman yang telah diberikan dapat menjadi bagian dari kebiasaan siswa dalam membangun lingkungan pertemanan yang lebih positif.
Dengan tumbuhnya sikap saling menghargai, saling menyayangi, dan peduli terhadap sesama, mahasiswa KKN berharap kegiatan tersebut dapat turut mendukung terbentuknya karakter anak-anak yang lebih baik.


