Masalah kesehatan jiwa saat ini menjadi isu bagi generasi muda seperti generasi alfa atau generasi Z. Masalah kesehatan jiwa juga menjadi sebuah masalah di lingkungan pendidikan. Sebuah gerakan dan pemberdayaan yang sangat inspiratif telah lahir di lingkungan pesantren. Bukan hanya berbicara tentang pengobatan ketika masalah muncul, tetapi menghadirkan upaya pencegahan melalui pendidikan, pemberdayaan, dan perubahan budaya.
Program"Santri Gojlokan: Pesantren Sehat Jiwa" resmi diluncurkan di pesantren Annur Lembah Kemuning, Kecamatan Pakir, Kabupaten Malang. Program ini digagas oleh Ahmad Guntur Alfianto, Muhamad Kholili, dan Harir Mawalian sebagai perawat yang bergerak di organisasi Himpunan Perawat Nahdatul Ulama (HIPNU) Kabupaten Malang serta PC GP Ansor bidang kesehatan Kabupaten Malang.
Melalui program ini, kedua organisasi tersebut membawa visi bersama, yaitu berkhidmat menjadikan pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang sehat, ramah santri, dan memiliki ketahanan kesehatan jiwa. Peluncuran program tersebut secara langsung dibuka oleh Kyai Nu'man Latif, selaku pengasuh pesantren Annur Lembah Kemuning. Menurutnya, program ini sangat relevan dengan kondisi generasi saat ini yang menghadapi berbagai tantangan.
"Generasi sekarang sering disebut sebagai generasi stroberi, yaitu generasi yang terlihat memiliki banyak potensi, tetapi cukup rentan menghadapi tekanan. ketahanan, tantangan, dan tirakat masih perlu terus dilatih,"ungkapnya.
Menurut Kyai Nu'man, pesantren harus menjadi tempat pendidikan yang menghadirkan kebahagiaan atau happy tarbiyah, yaitu proses pendidikan yang menyenangkan, membangun karakter, sekaligus menjaga kesehatan jiwa para santri.
Selama ini istilah gojlokan dalam tradisi pesantren terkadang dipersepsikan secara negatif karena dikaitkan dengan ejekan atau candaan berlebihan yang dapat mengarah pada perundungan (bullying). Melalui program ini, tradisi tersebut ingin direfleksikan kembali menjadi sesuatu yang bernilai positif, yaitu sebagai bentuk kedekatan sosia, pembentukan karakter, dan penguatan solidaritas antar santri selama tetap berada dalam batas nilai-nilai pendidikan.
Gerakan ini juga hadir sebagai respons terhadap berbagai isu negatif yang sempat mencoreng dunia pesantren, mulai dari kasus kekersan fisik, kekersan seksual oleh oknum, hingga kasus perundungan yang berdampak fatal terhadap santri.
Sebanyak 40 santri menjadi peserta awal dalam program ini, ke depannya, program tidak hanya menyasar santri, tetapi juga melibatkan pengasuh pesantren dan wali santri sebagai bagian ekosistem pendidikan yang saling mendukung.
Tahap awal program dilakukan melalui skrining kesehatan jiwa dan kesehatan fisik. Skrinig kesehatan jiwa menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang merupakan insturumen standar dari kemenetrian Kesehatan Republik Indonesia untuk mendeteksi awal tanda-tanda gangguan psikososial.
Sementara itu, pemeriksaan kesehatan fisik meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, ketuhan utama, hingga konsultasi kesehatan langsung bersama tenaga kesehatan.
Selain pemeriksaan, santri juga mendapatkan psikoedukasi tentang bullying,tradisi gojlokan, serta pencegahannya melalui nilai-nilai Ahlussunah Wal Jamaah. Nilai tersebut dikemas melalui konsep ROWOT, yaitu Roan, Poso, Tawadhu, dan Ngawulo. Roan memiliki makna gotong royong. Poso atau puasa menjadi latihan pengendalian diri dan hawa nafsu.
Tawadhu mengajarkan kerendahan hati, sedangkan Ngawulo mengandung makna peduli terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi pendekatan khas pesantren dalam membangun kesehatan jiwa melalui pembentukan karakter dan kebiasaan positif.
Hasil awal kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman santri terkait bullying dan dampaknya terhadap kesehatan jiwa. Berdasarkan kuesioner pengetahuan yang diberikan sebelum dan sesudah edukasi, nilai rata-rata peserta meningkat dari 67,6 menjadi 89,80.
Secara klinis, peningkatan sekitar 22,2 atau sekitar 32,8% menunjukkan adanya perubahan pengetahuan yang bermakna. Meskipun belum dapat langsung membuktikan perubahan perilaku jangka panjang, peningkatan literasi kesehatan jiwa meniadi indikator awal bahwa edukasi mampu meningkatkan kemampuan santri dalam mengenali, mencegah, dan mersepons perilaku bullying secara lebih sehat.
Hasil skrining kesehatan jiwa dan pemeriksaan fisik selanjutnya akan menjadi dasar tindak lanut pada sesi berikutnya agar santri yang membutuhkan perhatian khusus dapat memperoleh pendampingan yang tepat.
Program santri jojlokan: pesantren sehat jiwa bukanlah kegiatan satu kali, melainkan program berkelanjutan untuk membangun budaya pesantren yang lebih sehat dan humanis.
Gerakan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera melalui peningatan kesehatan jiwa serta pencegahan masalah psikososial, dan SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penciptaan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menyenagngkan.
Dari pesantren untuk Indonesia, program ini menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan kesehatan modern. Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk tumbuh menjadi manusia yang kuat secara spiritual, sosial, dan mental.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


