“Santri dapat memilih masa pembelajaran 2 tahun atau 3 tahun dengan ketentuan khusus yang harus dipenuhi.”
Kalau sekolah menengah pada umumnya ditempuh selama tiga tahun, MAI (Madrasah Aliyah Istimewa) Amanatul Ummah memberikan kesempatan kepada santri untuk menyelesaikan sekolah dengan durasi lebih cepat, yakni hanya dalam dua tahun.
Madrasah ini memiliki sistem pembelajaran yang fleksibel. Santri dapat memilih durasi belajar selama dua tahun atau tiga tahun, tergantung kemampuan akademik dan beberapa syarat lain.
“Masa belajar 2 tahun dapat ditempuh dengan mempertimbangkan aspek kepribadian, hasil akademik dan tes IQ,” demikian keterangan resmi lembaga.
Evaluasi Program Akselerasi Menjadi Madrasah Istimewa
Secara historis, sistem pembelajaran yang diterapkan di MAI Amanatul Ummah Pacet Mojokerto merupakan kelanjutan dari beberapa program yang pernah diterapkan sebelumnya, seperti CI (Cerdas Istimewa), kelas akselerasi, dan program Excellent.
Ketiga program ini pada awalnya dirancang untuk menampung siswa dengan kemampuan akademik di atas rata-rata. Mereka diberi kesempatan belajar dengan ritme yang lebih cepat dibandingkan kelas reguler.
Seiring waktu, pengalaman dari berbagai program tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihak madrasah.
Sistem akselerasi dianggap efektif bagi sebagian siswa. Akan tetapi, tidak semua santri memiliki kecepatan belajar yang sama. Dari sinilah muncul gagasan untuk menyusun model yang lebih fleksibel.
Program CI, akselerasi, dan Excellent kemudian tidak lagi berdiri sendiri. Ketiganya dikembangkan menjadi satu sistem baru yang lebih adaptif terhadap kemampuan siswa. Sistem itu dikenal sebagai layanan berbasis SKS atau Sistem Kredit Semester.
Sistem SKS umumnya digunakan di perguruan tinggi. Dalam sistem ini, mahasiswa mengambil mata kuliah berdasarkan jumlah kredit tertentu. Setiap mata kuliah memiliki bobot SKS yang harus diselesaikan sebelum mahasiswa bisa lulus.
Konsep inilah yang kemudian diadaptasi oleh MAI Amanatul Ummah untuk pendidikan tingkat madrasah aliyah. Dengan pendekatan ini, proses belajar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada durasi waktu, melainkan pada pencapaian materi yang harus dituntaskan.
📷 Instagram Embed
Artinya, santri yang memiliki kemampuan akademik tinggi dapat mengambil beban pelajaran lebih cepat. Mereka bisa menyelesaikan seluruh materi pembelajaran dalam waktu yang lebih singkat, bahkan hanya dalam dua tahun.
Sebaliknya, santri yang membutuhkan waktu belajar lebih panjang tetap dapat menempuh jalur tiga tahun. Ritme belajarnya disesuaikan agar mereka dapat memahami materi secara lebih mendalam tanpa harus mengikuti percepatan yang terlalu berat.
Dengan sistem ini, madrasah mencoba menyesuaikan pendidikan dengan karakter belajar setiap santri. Prinsipnya bukan memaksa semua siswa belajar dengan tempo yang sama, tetapi diberikan jalur yang berbeda sesuai kemampuan masing-masing.
Nah, santri yang belum bisa menuntaskan 2 tahun, mereka akan mengikuti jalur SKS 3 tahun yang disebut sebagai program Excellent.
Dalam program ini, materi pembelajaran tetap dipercepat. Seluruh materi utama diselesaikan dalam empat semester.
Setelah itu, satu tahun berikutnya digunakan untuk penguatan belajar, seperti remidi dan pembahasan materi secara tuntas, try out ujian nasional dan SBMPTN, penguatan teknologi informasi, dan pendalaman kitab kuning.
Try Out Hampir Setiap Minggu
Ritme belajar di sekolah ini memang cukup cepat. Siswa dituntut untuk adaptif dan disiplin.
Salah satu kebiasaan yang dinilai cukup berat bagi santri adalah try out rutin. Madrasah menyebut para siswa hampir setiap minggu mengikuti simulasi ujian.
Try out ini menjadi alat evaluasi bagi guru dan orang tua untuk memantau perkembangan belajar santri.
Dengan pola seperti ini, kemampuan akademik siswa terus diuji sejak awal.
Kelas Olimpiade dan Target Lolos Kampus
Selain program reguler, madrasah juga membuka kelas olimpiade.
Di kelas ini, siswa dapat memperdalam mata pelajaran tertentu untuk mengikuti berbagai kompetisi akademik.
Madrasah juga menyatakan akan membimbing santri hingga diterima di perguruan tinggi.
“Santriwan dan santriwati akan dibimbing dan didampingi sampai mereka diterima di perguruan tinggi sesuai pilihannya, baik di dalam maupun luar negeri,” katanya dalam laman resminya
Pendampingan menuju perguruan tinggi ini menjadi salah satu fokus utama madrasah. Santri tidak hanya dipacu menyelesaikan materi pelajaran lebih cepat, tetapi juga diarahkan untuk memiliki tujuan pendidikan yang jelas setelah lulus.
Data lembaga menunjukkan jumlah alumni Amanatul Ummah telah mencapai 75.321 orang. Dari jumlah tersebut, 75.319 alumni tercatat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Angka tersebut menunjukkan sebagian besar lulusan memilih melanjutkan studi setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan Amanatul Ummah.
Bagi banyak orang tua, capaian ini menjadi salah satu alasan mengapa madrasah tersebut terus diminati. Sistem belajar yang fleksibel, pilihan durasi sekolah, serta pendampingan menuju perguruan tinggi menjadi kombinasi yang jarang ditemukan di banyak lembaga pendidikan menengah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


