spp nol rupiah bayar dengan inovasi cara arfian fuadi membangun pendidikan teknologi dari bengkel di salatiga - News | Good News From Indonesia 2026

SPP Nol Rupiah, Bayar dengan Inovasi: Cara Arfian Fuadi Membangun Pendidikan Teknologi dari Bengkel di Salatiga

SPP Nol Rupiah, Bayar dengan Inovasi: Cara Arfian Fuadi Membangun Pendidikan Teknologi dari Bengkel di Salatiga
images info

SPP Nol Rupiah, Bayar dengan Inovasi: Cara Arfian Fuadi Membangun Pendidikan Teknologi dari Bengkel di Salatiga


“SPP, uang gedung, tidak ada sama sekali. Jadi dari tuition based education system menjadi innovation based education system,” kata Fajar Budi Laksono, direktur operasional ketika menjelaskan cara pendidikan yang dijalankan di Dtech Engineering, Salatiga.

Benar, di Dtech Engineering, mahasiswa tidak membayar kuliah dengan uang. Sebagai gantinya, mereka harus menelurkan inovasi.

Model pendidikan ini digagas oleh Arfian Fuadi, pendiri Dtech Engineering.

Bagi Kawan yang belum tahu, Dtech Engineering adalah perusahaan teknologi dan rekayasa (engineering) yang berbasis di Salatiga, Jawa Tengah. Perusahaan ini didirikan pada 2009 oleh Arfian Fuadi.

Secara sederhana, Dtech Engineering bergerak di bidang desain dan produksi teknologi industri, terutama yang berkaitan dengan manufaktur presisi.

Yang menarik, perusahaan ini tidak memungut biaya untuk mengajarkan pengetahuannya, tapi menagih inovasi atau gagasan sebagai gantinya.

baca juga

Gagasan Arfian Fuadi perihal innovation based education system bukan disandarkan pada latar belakangnya. Arfian bukanlah seorang pengamat pendidikan atau analis kebijakan. Ia dulunya hanyalah penjaga bengkel yang resah dengan perkembangan inovasi di Indonesia. Dari situlah lahir model pendidikan yang unik ini.

Bagi Arfian, pengembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Ia menilai banyak persoalan di Indonesia berakar dari sistem pendidikan.

Core problem Indonesia ternyata pendidikan. Misal inovasi lemah ya pendidikan, korupsi ya pendidikan lagi,” kata Arfian.

Karena itu ia memilih membangun pendidikan berbasis inovasi.

Menurutnya, jika generasi muda Indonesia mampu menciptakan produk teknologi sendiri, ketergantungan impor bisa berkurang. Nilai impor nonmigas Indonesia bahkan mencapai sekitar Rp3.000 triliun per tahun.

“Produk impor setengahnya aja dibikin Indonesia, pengangguran 8 juta itu hilang,” ujar Arfian.

baca juga

Pendidikan Gratis yang Dibayar dengan Karya

Program pendidikan yang dibangun Arfian dikenal sebagai Sustainable Education Project. Mahasiswa yang diterima tidak dibebani biaya pendidikan. Proses seleksinya juga tidak rumit.

“Syarat nggak ada, cuma biasanya kualifikasi uji dengan membuat esai. Setelah proses esai kemudian interview. Baru masuk,” ujar Fajar.

Setelah diterima, mahasiswa langsung terlibat dalam proyek industri.

📷 Instagram Embed
info gambar

📷 Instagram Embed


 

Model pembelajaran yang digunakan adalah teaching factory. Artinya, proses belajar dilakukan seperti bekerja di industri nyata. Mahasiswa bukan hanya belajar teori, tetapi langsung terlibat dalam produksi, desain, hingga pengembangan produk.

“Kita kan vokasi, langsung praktik. Teori dua jam terus teaching factory di posisi masing-masing misal desainer atau operator,” jelas Fajar.

Dalam sistem ini mahasiswa belajar berbagai hal: desain teknik, presentasi, marketing, hingga branding produk.

Program tersebut sudah berjalan tiga angkatan dengan lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Sekitar 100 orang, sudah tiga angkatan. Tahun ini buka angkatan keempat,” kata Arfian 2024 lalu.

baca juga

Inovasi Mahasiswa: Membuat Kursi Kereta Eksekutif

Salah satu proyek yang lahir dari kolaborasi mahasiswa dan industri adalah produksi kursi kereta eksekutif.

Kursi tersebut kini digunakan di beberapa layanan kereta seperti Argo Bromo Anggrek, Taksaka, dan Dwipangga.

Sebelumnya kursi jenis ini banyak diimpor dari luar negeri.

“Angkatan kedua bikin kursi kereta, sudah di Argobrormo Anggrek. Untuk eksekutif dan luxury,” ujar Fajar.

Proyek ini juga membuka lapangan kerja bagi sekitar 200 orang pekerja.

baca juga

Seiring waktu, perusahaan yang didirikan Arfian pada 2009 ini berkembang jauh melampaui skala lokal.

Dtech Engineering tercatat telah mengerjakan sekitar 300 proyek dari lebih dari 150 mitra di lebih dari 30 negara.

Proyeknya mencakup berbagai bidang teknologi, mulai dari drone, komponen kereta, hingga desain mesin pesawat. Perusahaan ini bahkan pernah memenangkan kompetisi desain teknologi global yang diselenggarakan General Electric. Dalam kompetisi tersebut, Dtech Engineering merancang bracket mesin jet yang lebih ringan.

Bracket adalah komponen penopang pada mesin yang menjaga posisi komponen tetap stabil. Desain yang lebih ringan dapat mengurangi berat pesawat sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Tim dari Salatiga itu berhasil mengalahkan sekitar 40 tim riset dari berbagai negara.

baca juga

Dari Penjaga Bengkel ke Industri Teknologi Global

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Arfian sendiri jauh dari kata mudah.

Sebelum mendirikan perusahaan teknologi, ia pernah bekerja sebagai penjaga bengkel, penjaga malam di kantor pos di Salatiga, mencetak foto, hingga berjualan sparepart.

Ia kemudian membeli komputer bersama adiknya dan mulai menerima pesanan desain teknik melalui situs crowdsourcing.

Proyek pertama mereka justru datang dari Jerman.

Dari pesanan kecil itulah jaringan global mulai terbentuk.

Kini Dtech Engineering memiliki sekitar 450 karyawan serta beberapa workshop produksi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.