jamur tiram yang dulunya dari limbah kayu kini mampu berikan thr ke warga desa senden klaten - News | Good News From Indonesia 2026

Jamur Tiram yang Dulunya dari Limbah Kayu, Kini Mampu Berikan THR ke Warga Desa Senden Klaten

Jamur Tiram yang Dulunya dari Limbah Kayu, Kini Mampu Berikan THR ke Warga Desa Senden Klaten
images info

Jamur Tiram yang Dulunya dari Limbah Kayu, Kini Mampu Berikan THR ke Warga Desa Senden Klaten


“Serbuk kayu yang dulu jadi masalah, kini justru menjadi peluang besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Serbuk kayu ini ibarat emas cokelat bagi kami,” kata Wardiyo Setyo Utomo, pengurus RT 09 Desa Senden, Kabupaten Klaten.

Ia menceritakan bagaimana perubahan yang terjadi di kampungnya setelah warga belajar memanfaatkan limbah serbuk kayu. Limbah itu disulap menjadi media budidaya jamur tiram.

Menurut Wardiyo, limbah serbuk kayu selama ini selalu muncul dari aktivitas penggergajian di sekitar desa. Jumlahnya bahkan bisa mencapai berton-ton setiap hari.

“Setiap hari, penggergajian kayu menghasilkan berton-ton serbuk. Kalau dibuang begitu saja bisa mengganggu lingkungan. Dengan diolah menjadi baglog jamur tiram, limbah tersebut justru memberi nilai tambah,” kata Wardiyo, Selasa (23/9/2025).

Dari situ, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membuat program pengabdian masyarakat untuk mengolah limbah kayu sebagai media budidaya jamur tiram.

baca juga

Tiga Bulan Belajar Mengubah Limbah Jadi Usaha

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang diselenggarakan UMS bersama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Selama sekitar tiga bulan, warga mendapatkan pelatihan langsung dari tim kampus.

“Selama tiga bulan ini kami dibekali ilmu, pengetahuan, dan keterampilan oleh tim pengabdian dari UMS,” kata Wardiyo.

Pelatihan tersebut tidak hanya membahas teori. Warga juga diajari cara membuat baglog jamur tiram, yaitu media tanam yang digunakan dalam budidaya jamur.

Ketua pelaksana kegiatan pengabdian, Hariyatmi, menjelaskan bahwa pemanfaatan baglog membuka peluang usaha baru yang relatif mudah dilakukan masyarakat desa.

“Baglog jamur tiram digunakan untuk menumbuhkan jamur tiram. Pemanfaatan baglog tersebut membuka peluang usaha baru yang ramah lingkungan,” kata Hariyatmi.

baca juga

Apa Itu Baglog Jamur Tiram?

Dalam budidaya jamur tiram, baglog adalah media tanam berbentuk silinder yang dibungkus plastik. Media ini berisi bahan organik yang menjadi tempat tumbuh jamur.

Bahan utama baglog biasanya adalah serbuk kayu.

Serbuk tersebut dicampur dengan beberapa bahan lain, di antaranya dedak, yaitu hasil sampingan penggilingan padi yang menjadi sumber nutrisi jamur; kapur yang berfungsi menstabilkan tingkat keasaman media, serta air untuk menjaga kelembapan campuran

Setelah dicampur, bahan dimasukkan ke dalam plastik silinder dan dipadatkan.

baca juga

Tahap berikutnya adalah sterilisasi, yaitu proses pemanasan untuk membunuh bakteri atau jamur liar yang bisa mengganggu pertumbuhan jamur tiram.

Setelah steril, dilakukan inokulasi, yaitu proses memasukkan bibit jamur ke dalam media tanam.

Baglog kemudian disimpan di kumbung, yaitu rumah atau ruangan khusus untuk budidaya jamur.

Dalam waktu sekitar 30 hingga 40 hari, jamur tiram mulai tumbuh dan siap dipanen.

baca juga

Limbah Berubah Menjadi Pangan

Hariyatmi menilai pemanfaatan serbuk kayu sebagai bahan baglog memiliki banyak keuntungan. Selain murah, bahan tersebut juga membantu mengurangi limbah dari industri penggergajian. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini bisa diolah kembali menjadi produk pangan.

Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep circular economy.

Circular economy adalah konsep ekonomi yang memanfaatkan kembali limbah agar bisa digunakan sebagai sumber daya baru. Dengan cara ini, limbah tidak hanya dibuang, tetapi diproses kembali menjadi produk yang bermanfaat.

“Kalau gerakan ini diperluas, bisa menjadi solusi nyata bagi pengelolaan limbah kayu sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Hariyatmi.

baca juga

Permintaan Jamur Tiram Terus Meningkat

Budidaya jamur tiram juga dipilih karena memiliki pasar yang cukup stabil.

Menurut Hariyatmi, permintaan jamur tiram terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Permintaan pasar jamur tiram terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Peluang tersebut harus dimanfaatkan sebab memberi harapan baru bagi masyarakat Desa Senden untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka,” katanya.

Jamur tiram termasuk bahan pangan yang mudah diolah menjadi berbagai makanan. Mulai dari tumisan hingga camilan seperti jamur crispy.

Karena itu, banyak usaha kuliner membutuhkan pasokan jamur secara rutin.

baca juga

Dari Tumpukan Sampah Jadi Peluang Ekonomi

Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan ekonomi kolektif di tingkat RT. Warga mengelola kumbung jamur secara gotong royong dan menjual hasil panennya ke pasar sekitar.

Hasilnya tidak hanya digunakan untuk menjalankan usaha, tetapi juga dibagikan kembali kepada masyarakat.

Menjelang Lebaran 2026, sebanyak 33 kepala keluarga di RT 09 Desa Senden menerima THR masing-masing Rp700 ribu dari hasil usaha budidaya jamur tiram yang mereka kelola bersama.

uang tersebut kini menjadi tanda bahwa limbah yang dulu hanya menumpuk kini benar-benar berubah menjadi sumber penghidupan baru bagi kampung mereka.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.