Tanah Papua memiliki puluhan rumah sakit. Akan tetapi, jumlah dokter anestesi yang tersedia tidak sampai tiga puluh orang.
Setidaknya, hanya ada 28 dokter anestesi yang harus melayani lebih dari 40 rumah sakit di empat provinsi. Akibatnya, tidak sedikit tindakan operasi harus tertunda.
Kondisi tersebut dibiarkan terjadi selama bertahun-tahun. Tapi, tahun ini, Universitas Cenderawasih memulai langkah progresif melihat fakta lapangan.
Pada 27 Februari 2026, Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih resmi meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif di Jayapura.
Program ini menjadi pendidikan dokter spesialis pertama yang diselenggarakan langsung di Tanah Papua.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengatasi kesenjangan tenaga medis di wilayah timur Indonesia.
Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen menjelaskan dampak kekurangan tenaga ini secara langsung.
“Kebutuhan ini menjadi sangat penting karena banyak tindakan operasi yang tertunda akibat tidak adanya spesialis anestesi. Ini adalah program pendidikan spesialis pertama di Tanah Papua, yang memungkinkan pendidikan dilakukan di tanah sendiri. Sebagaimana semangatnya, pendidikan ini sekaligus membantu proses pelayanan,” ujarnya.
Emangnya Operasi Perlu Dokter Anestesi?
Sangat perlu! Kawan, dokter anestesi adalah dokter spesialis yang bertugas mengatur pembiusan saat menjalani operasi atau tindakan medis yang menimbulkan rasa nyeri.
Dokter anestesi memastikan pasien tidak merasakan sakit dan tetap stabil selama tindakan medis berlangsung.
Dalam dunia kedokteran, bidang ini disebut Anestesiologi.
Selain itu, dokter anestesi juga berperan dalam penanganan pasien kritis di ruang ICU, pengelolaan nyeri, dan penanganan kegawatdaruratan medis.
Karena peran tersebut, rumah sakit tidak bisa melakukan operasi tanpa dokter anestesi.
Pendidikan Dokter Spesialis Kini Bisa Dilakukan di Papua
Selama ini, banyak dokter dari Papua harus pergi ke kota lain untuk menempuh pendidikan spesialis. Pilihannya biasanya ke kota-kota besar yang memiliki fakultas kedokteran lengkap.
Masalahnya, tidak semua dokter kembali ke daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan. Akibatnya, jumlah dokter spesialis di Papua sering tidak mencukupi kebutuhan rumah sakit.
Oleh karena itu, pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Cenderawasih menjadi langkah penting. Untuk pertama kalinya, dokter di Papua dapat menempuh pendidikan spesialis tanpa harus meninggalkan wilayahnya sendiri.
Rektor Uncen Oscar Oswald O. Wambrauw mengatakan kampusnya berkomitmen memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan spesialis di wilayah timur Indonesia.
“Kami berkomitmen mengembangkan program studi spesialis, dimulai dengan Anestesiologi dan akan diikuti dengan program studi lainnya. Fokus kami adalah mendorong pemenuhan tenaga kesehatan spesialis di rumah sakit yang mengalami kekurangan,” ujarnya.
Menurutnya, program ini juga akan melibatkan pemerintah daerah. Salah satu rencananya adalah menyediakan kuota khusus bagi putra-putri Papua.
Dengan skema tersebut, mahasiswa yang berasal dari daerah diharapkan dapat kembali mengabdi di wilayahnya setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagian dari Program Nasional
Program ini tidak berdiri sendiri. Peluncuran PPDS di Papua merupakan bagian dari program percepatan pemerintah untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis di berbagai daerah.
Program tersebut dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui pendekatan Sistem Kesehatan Akademik (SKA).

Peresmian Program Pendidikan Dokter Spesialis di Universitas Cenderawasih
SKA adalah model kerja sama antara kampus, rumah sakit, dan pemerintah daerah dalam pendidikan tenaga medis. Mahasiswa belajar di universitas sekaligus menjalani praktik klinis di rumah sakit mitra.
Dalam kasus ini, program PPDS di Uncen bermitra dengan RSUD Jayapura atau RSUD Dok II.
Sekretaris Ditjen Dikti Setiawan menjelaskan tujuan jangka panjang program tersebut.
“Adanya program studi ini perlu ditindaklanjuti dengan identifikasi putra daerah dan penyediaan dukungan ikatan dinas melalui beasiswa,” ujarnya.
Menurutnya, upaya ini juga menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju target pembangunan nasional jangka panjang.
Kualitas Lulusan Tetap Dijaga
Walaupun program spesialis baru dibuka di Papua, pemerintah memastikan standar pendidikan tetap sama dengan kampus besar lainnya.
Proses penjaminan mutu akan melibatkan sejumlah lembaga, seperti LAM-PTKes (Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia), AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia), dan Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia
Selain itu, Universitas Gadjah Mada menjadi universitas pembina bagi program ini.
Perwakilan UGM, dr. Sudadi, menyatakan bahwa pendampingan akan terus dilakukan.
“FK-KMK UGM sebagai pembina akan terus mendampingi proses pengembangan agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan layanan anestesi di rumah sakit-rumah sakit di Provinsi Papua,” katanya.
Bukan Hanya Anestesi, Spesialis Lain Menyusul
Peluncuran PPDS ini juga membuka peluang bagi program spesialis lain di masa depan.
Dalam dialog strategis antara pemerintah pusat, universitas, dan pemerintah daerah, muncul rencana membuka beberapa program spesialis lain yang dinilai sudah siap.
Beberapa di antaranya, bedah, obstetri dan ginekologi (obgyn), dan kesehatan anak
Jika rencana ini berjalan, Papua akan mulai memiliki ekosistem pendidikan dokter spesialis yang lebih lengkap.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


