Indonesia adalah surga bagi kucing. Selain karena hasil tangkapan ikan melimpah, banyak warganya yang bersedia mengabdikan diri sebagai babu.
Biasanya sih kucing dipelihara tapi banyak juga kucing yang berkeliaran secara bebas. Bahkan, Indonesia juga punya pulau yang dipenuhi kucing.
Di wilayah Kepulauan Seribu, misalnya, terdapat pulau kecil yang oleh warga sering dijuluki pulau kucing. Pulau ini berada tidak jauh dari Pulau Tidung. Di sana hidup banyak kucing yang berkembang biak secara alami.
Sebagian kucing diduga berasal dari hewan peliharaan nelayan atau wisatawan yang kemudian ditinggalkan dan akhirnya berkembang biak di pulau kecil tersebut.
Fenomena serupa juga ditemukan di Pulau Klah yang berada di wilayah Sabang, Pulau Weh. Pulau kecil ini dikenal wisatawan sebagai tempat berkumpulnya banyak kucing yang hidup bebas di sekitar pantai.
Meski tidak dikelola sebagai destinasi wisata resmi, pulau-pulau kecil ini sering menarik perhatian pengunjung. Banyak wisatawan datang sambil membawa makanan untuk kucing-kucing yang ada di sana. Fenomena pulau dengan populasi kucing seperti ini sebenarnya cukup jarang ditemukan di dunia.
Indonesia Bukan Negara dengan Kepemilikan Kucing Rumah Tangga Tertinggi
Meski cukup banyak populasi kucing di Indonesia, negara dengan tingkat kepemilikan kucing rumah tangga tertinggi di dunia bukan berasal dari Asia atau Timur Tengah. Posisi pertama justru ditempati Rusia.
Berdasarkan data survei kepemilikan hewan peliharaan global yang dirangkum oleh Rakuten InsightGlobal Pet Ownership Survey (2024-2026), sekitar 59% rumah tangga di Rusia memiliki kucing.
Angka ini menempatkan Rusia jauh di atas negara lain dalam daftar negara dengan pemilik kucing terbanyak di dunia.
Di bawah Rusia ada beberapa negara lain, seperti Rumania berada di posisi kedua dengan 48%. Sementara itu, Indonesia berada di posisi ketiga dengan 47% rumah tangga memiliki kucing.
Daftar lengkapnya antara lain:
- Rusia – 59%
- Rumania – 48%
- Indonesia – 47%
- Filipina – 43%
- Thailand – 42%
- Polandia – 41%
Kucing Lebih Cocok untuk Hidup di Apartemen Kota
Fenomena tingginya kepemilikan kucing di Rusia dan beberapa negara Eropa Timur sering dikaitkan dengan pola hidup urban. Banyak penduduk tinggal di apartemen berukuran sedang hingga kecil.
Dalam kondisi seperti itu, kucing dianggap jauh lebih praktis dibanding hewan peliharaan lain.
Misalnya dalam laporan State of Shelter Pet Adoption Report 2025 dari perusahaan nutrisi hewan Hill's Pet Nutrition disebutkan bahwa alasan orang memilih kucing antara lain:
- kucing lebih mandiri (self-sufficient)
- tidak memerlukan ruang besar
- dapat hidup di dalam rumah tanpa halaman
- perawatan lebih sederhana dan biaya lebih rendah.
Dalam survei tersebut, responden juga menyebut beberapa alasan utama memilih kucing. Mayoritas menilai bahwa kucing tidak membutuhkan area luar rumah (36–37%), kucing membutuhkan ruang lebih kecil (sekitar 32–33%), serta kucing bisa merawat diri sendiri seperti menjilati bulu.
Itulah sebabnya, negara dengan tingkat urbanisasi tinggi sering menunjukkan tren kepemilikan kucing yang kuat.
Rusia Punya Hubungan Budaya yang Lama dengan Kucing
Sebenarnya, ada faktor budaya juga. Rusia memiliki sejarah panjang hubungan manusia dengan kucing.
Pada abad ke-18, Empress Elizabeth of Russia memerintahkan agar kucing dari kota Kazan dibawa ke Winter Palace untuk mengatasi masalah tikus. Tradisi itu kemudian berlanjut pada masa Catherine the Great.
Hingga kini, kompleks Hermitage Museum masih memelihara puluhan kucing yang hidup di ruang bawah tanah bangunan sebagai pengendali hama.
Indonesia Naik ke Tiga Besar Dunia
Masuknya Indonesia dalam tiga besar negara dengan tingkat kepemilikan kucing tertinggi di dunia juga menarik untuk dilihat lebih dekat.
Dalam satu dekade terakhir, tren memelihara kucing di Indonesia memang meningkat pesat. Banyak orang tidak lagi sekadar memelihara kucing, tetapi mulai menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Fenomena ini sering disebut humanisasi hewan peliharaan.
Di Indonesia, pertumbuhan kelas menengah turut mempercepat perubahan ini. Laporan pasar hewan peliharaan Asia yang dikutip Euromonitor International menunjukkan bahwa meningkatnya pendapatan masyarakat dan munculnya komunitas pecinta kucing ikut mendorong naiknya kepemilikan hewan peliharaan.
Media sosial juga memiliki peran yang tidak kecil. Konten kucing yang viral di berbagai platform membuat semakin banyak orang tertarik memeliharanya.
Jika melihat daftar global, kawasan Asia Tenggara memang cukup menonjol dalam tren ini. Selain Indonesia, dua negara lain di kawasan ini juga masuk dalam enam besar dunia, yakni Filipina dengan sekitar 43% rumah tangga memiliki kucing dan Thailand dengan sekitar 42%.
Data tersebut menunjukkan bahwa budaya memelihara kucing kini berkembang pesat di Asia Tenggara. Kucing tidak lagi sekadar hewan peliharaan, tetapi semakin sering diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


