kampung gelgel harmoni jejak desa islam tertua di bali yang ada dari zaman majapahit - News | Good News From Indonesia 2026

Kampung Gelgel: Harmoni Jejak Desa Islam Tertua di Bali yang Ada dari Zaman Majapahit

Kampung Gelgel: Harmoni Jejak Desa Islam Tertua di Bali yang Ada dari Zaman Majapahit
images info

Kampung Gelgel: Harmoni Jejak Desa Islam Tertua di Bali yang Ada dari Zaman Majapahit


Kawan GNFI, Bali yang dikenal dengan keindahan alam eksotis dan tradisi Hindu yang melekatnya ternyata menyimpan perjalanan panjang saksi sejarah akan akulturasi budaya dan harmoni antarumat beragama.

Salah satunya ditunjukkan dengan keberadaan Kampung Gelgel di Kabupaten Klungkung, Bali. Kampung ini memiliki jejak desa Islam tertua yang sejarahnya tak lepas dari Raja Klungkung dan prajurit muslim Majapahit yang dikirim ke Bali kala itu.

Ingin tahu, bagaimana Kampung Gelgel terus bertransformasi di tengah tradisi dan budaya yang ikonik hingga dikenal sebagai pemukiman islam tertua di Bali? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuBali.

Asal Usul Kampung Gelgel

Dilansir dari laman kampunggelgel.desa.id, sejarah Kampung Gelgel bermula dari penuturan tetua dan tokoh masyarakat Gelgel yang mengungkapkan bahwa pada abad ke-14 (sekitar tahun 1380-1460 M), di masa pemerintahan Dalem Ketut Nglesir atau Ida Dalem Semara (Raja Gelgel I), ada pertemuan Kerajaan Nusantara di Kraton Majapahit atas undangan Prabu Hayam Wuruk.

Kemudian, saat Raja Bali tersebut kembali ke Bali, dirinya dikawal oleh 40 prajurit Muslim utusan Majapahit. Sebagai bentuk penghormatan kepada para utusan tersebut, Raja Bali kemudian menghadiahkan wilayah Gelgel, Klungkung untuk dijadikan tempat tinggal.

Ke-40 prajurit Muslim inilah kemudian mereka menetap, menikah dengan penduduk setempat yang menjadi cikal bakal akan komunitas Muslim di Bali.

Informasi lain menyebutkan masuknya Islam di Bali dikaitkan dengan peletak dasar Kerajaan Gelgel yang berada dalam naungan Kerajaan Majapahit.

Saat itu, ke-40 orang prajurit Majapahit tersebut diutus sebagai Pengiring Dalem karena Dalem Ketut Nglesir tidak berkesempatan untuk berkunjung ke Majapahit yang kala itu kerajaannya sudah runtuh.

Pada tahun 1480—1550, di masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Pulau Bali tidak lagi di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Menurut sumber lokal, menyebut Dalem Waturenggong juga menguasai Lombok, Sumbawa, dan Blambangan (Jawa Timur).

Namun, penelitian sampai saat ini menunjukkan, masih belum ada catatan atau situs bersejarah yang dimiliki Kampung Gelgel sebagai bukti kuat masuknya Islam dan cikal bakal komunitas muslim di pulau Bali.

baca juga

Keunikan Kampung Gelgel di Bali

Dikenal sebagai desa Islam tertua di Bali, keunikan Kampung Gelgel diperlihatkan dari adanya letak masjid yang berdekatan dengan pura (Pura Kawitan Pusat Pasek Gelgel). Hal ini menjadi ciri akan simbol harmoni beragama yang telah berakar selama ratusan tahun.

Jejak lain yang terkenal yakni adanya masjid Nurul Huda yang telah berdiri sejak akhir abad ke-14 dengan menara setinggi 17 meter sebagai ciri khasnya. Bangunan tersebut menjadi salah satu masjid tertua di Bali yang telah mengalami banyak renovasi (renovasi besar tahun 1989).

Terdapat pula mimbar kayu jati berukiran khas Bali yang diperkirakan berusia lebih dari 250 tahun. Mimbar ini menjadi simbol perpaduan estetika Islam dan seni ukir Bali.

Selain itu, terdapat juga kesenian dari sisi budaya yang berkembang di Kampung Gelgel atau dikenal dengan Kesenian Rudat Gelgel – sebuah pertunjukkan perpaduan tarian, bela diri (silat), dan lantunan sholawat yang menggambarkan kisah kedatangan ke-40 prajurit muslim Majapahit ke Bali.

baca juga

Akulturasi Budaya dan Toleransi

Selama berabad-abad hidup bertoleransi di Bali terasa sangat dekat. Namun, kedamaian tetap terjalin apalagi saat perayaan hari besar keagamaan atau dalam kegiatan tertentu, mulai dari masyarakat, tokoh desa, tetua, Raja Klungkung beserta tokoh Puri Klungkung. Menjadikan tradisi Megibung sebagai sarana silaturahmi.

Selain itu, ada pula tradisi Ngejot. Budaya saling berbagi makanan saat hari raya keagamaan dengan memperhatikan kehalalan hingga menghindari pemberian daging sapi untuk umat Hindu atas dasar keagamaan. Ini bukti akan nilai toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan tumbuh di Kampung Gelgel bahkan telah ada dari zaman Majapahit.

Kampung Gelgel menjadi potret nyata akan keindahan bertoleransi di Nusantara yang terus terjaga hingga menjadi harmoni budaya, spiritualitas yang menyatu diantara perbedaan.

Inspiratif sekali, ya, Kawan GNFI!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.