Kawan GNFI, siapa yang tak kenal dengan gelang tiga warna yaitu merah, putih, dan hitam yang sering dipakai masyarakat lokal Bali? Aksesoris ini bernama gelang Tridatu.
Bukan sekadar aksesori etnik biasa, gelang Tridatu memiliki filosofi mendalam bagi yang memakainya hingga menjadi simbol spiritual dan identitas bagi masyarakat Hindu di Bali.
Penasaran, bagaimana sejarahnya dan fakta penggunaannya hingga menjadi simbol perlindungan bagi masyarakat Bali? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuBali.
Apa itu Gelang Tridatu?
Secara etimologi, Tridatu berasal dari kata ‘Tri’ atau tiga, dan ‘Datu’ atau elemen/raja dan merujuk pada tiga untaian benang dengan tiga warna berbeda yang mewakili kekuatan utama dalam alam semesta.
Filosofi tiga warna ini menyimbolkan akan Dewa Tri Murti, yaitu:
- Warna merah berkaitan dengan simbol Dewa Brahma (Pencipta) yang melambangkan kreativitas dan energi
- Warna putih berkaitan dengan simbol Dewa Wisnu (Pemelihara) yang melambangkan kesucian dan kebijaksanaan
- Warna hitam berkaitan dengan simbol Dewa Siwa (Pelebur) yang melambangkan kekuatan dan perlindungan terhadap siklus akhir
Ketiga warna ini juga melambangkan akan siklus kehidupan manusia yang melambangkan Tri Kona (bekal hidup setiap manusia) meliputi Lahir – Utpeti (Merah), Hidup – Stiti (Putih), dan Mati – Pralina (Hitam).
Dalam penggunaan benangnya pun tak sembarangan, karena benang ini perlu melalui proses ritual terlebih dahulu hingga orang Hindu meyakini memiliki kekuatan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Asal Usul Gelang Tridatu
Menurut historisnya, penggunaan Tridatu dikaitkan dengan penaklukan Raja Dalem Watu Renggong terhadap Dalem Peed di Nusa Penida pada abad ke-14 hingga ke-15.
Setelah kesepakatan damainya, Dalem Peed berjanji akan melindungi umat Hindu yang taat dan bakti kepada Tuhan serta leluhur.
Sebagai tanda pengenalnya atau jimat maka diberikanlah benang tiga warna (Tridatu) untuk umatnya sebagai pelindung dari marabahaya, wabah, atau gangguan kekuatan negatif (Bhuta Kala).
Dalam fungsi spiritualnya, Tridatu ini dipercayai pula dapat menjaga keseimbangan diri (Tri Kaya Parisudha: Berpikir, Berkata, dan Berbuat Baik), dan meningkatkan mawas diri untuk selalu ingat akan kekuasaan Tuhan.
Selain itu, Tridatu juga menjadi simbol identitas bagi penganut Hindu Bali dan penanda setelah melakukan upacara ritual tertentu.
Aturan Pemakaian Gelang Tridatu
Meski tidak ada larangan bagi umat pemeluk agama lain untuk menggunakan gelang ini, tapi ada aturan khusus yang mendasarinya agar tetap menjaga kesakralan dan filosofi mendalam yang dimilikinya, yaitu:
- Wajib di tangan kanan karena tangan kanan disimbolkan dengan tangan yang bersih, suci untuk menerima setiap anugerah yang datang
- Dilarang memakainya di kaki karena dianggap melecehkan simbol kesucian dewa dari filosofi tiga warna yang kaitannya dengan Dewa Tri Murti
- Hanya didapat dimiliki setelah melalui prosesi persembahyangan di Pura dan diperciki air suci (tirta)
Fenomena budaya yang kian berubah, kini membuat gelang Tridatu banyak dijumpai sebagai aksesori etnik dan suvenir bagi wisatawan yang berkunjung hingga menjadi kenang-kenangan khas Bali.
Gelang Tridatu juga menjadi simbol identitas masyarakat lokal Bali hingga menjadi pembeda antara kelompok dan identitas tertentu meski berada diwilayah yang sama.
Maka dari itu, bagi siapa saja yang memakainya tetap pemahaman akan maknanya penting sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Bali yang bagi masyarakal lokal esensinya sangat mendalam karena berkaitan dengan keseimbangan dan perlindungan diri di semesta.
Gelang Tridatu membuktikan pula bahwa hal paling sederhana yang Bali miliki, ternyata memiliki makna yang paling dalam untuk merayakan perlindungan Tuhan dalam setiap kehidupannya.
Menarik sekali, ya, Kawan GNFI!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


