ogoh ogoh bali - News | Good News From Indonesia 2026

Ogoh-Ogoh Bali, Simbol Pembersihan Diri yang Hidup dalam Seni dan Tradisi

Ogoh-Ogoh Bali, Simbol Pembersihan Diri yang Hidup dalam Seni dan Tradisi
images info

Ogoh-Ogoh Bali, Simbol Pembersihan Diri yang Hidup dalam Seni dan Tradisi


Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di Bali berubah menjadi sangat khas dan penuh semangat. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah pawai ogoh-ogoh, yakni arak-arakan patung raksasa yang menggambarkan sosok menyeramkan.

Tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam bagi masyarakat Hindu di Bali.

Ogoh-ogoh dibuat dalam ukuran besar dengan bentuk yang ekspresif dan dramatis. Patung tersebut biasanya menggambarkan makhluk mitologis, raksasa, atau simbol sifat buruk manusia.

Pada malam sebelum Nyepi, ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan diiringi musik tradisional dan sorak-sorai masyarakat.

Suasana meriah ini menjadi kontras dengan keheningan total yang akan berlangsung keesokan harinya saat Nyepi.

baca juga

Asal Usul Ogoh-Ogoh dalam Perjalanan Budaya Bali

Istilah ogoh-ogoh dikutip dari artikel ilmiah karya Diaz & Irma berjudul "Telusur Sejarah Ogoh-Ogoh sebagai Manifestasi Seni Rupa Bali dari Sudut Pandang Komodifikasi Budaya" tahun 2022.

Tulisan ini menjelaskan bahwa ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali “ogah-ogah” yang bermakna digoyang atau diayun. Hal ini sesuai dengan cara patung tersebut diarak, yakni digoyang-goyangkan ketika dibawa berkeliling desa.

Tradisi ini mulai berkembang pesat sekitar tahun 1980-an, terutama setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Pada masa awal kemunculannya, ogoh-ogoh belum dikenal secara luas di seluruh Bali. Tradisi ini berkembang secara bertahap dari satu daerah ke daerah lain hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Nyepi di berbagai wilayah Bali.

Seiring waktu, bentuk ogoh-ogoh juga mengalami perkembangan. Jika sebelumnya hanya menampilkan sosok-sosok mitologis, kini ogoh-ogoh juga kerap menggambarkan isu sosial, tokoh populer, bahkan kritik terhadap fenomena kehidupan modern.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan zaman.

baca juga

Filosofi di Balik Wujud Menyeramkan

Di balik bentuknya yang menyeramkan, ogoh-ogoh menyimpan makna filosofis yang mendalam. Dalam ajaran Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam dan waktu yang dapat membawa pengaruh negatif dalam kehidupan manusia.

Sosok raksasa yang diwujudkan dalam ogoh-ogoh menggambarkan sifat-sifat buruk seperti amarah, keserakahan, iri hati, dan kebencian. Dengan menghadirkan wujud visual dari sifat negatif tersebut, masyarakat diingatkan untuk mengenali dan mengendalikan sisi gelap dalam diri.

Prosesi pembakaran ogoh-ogoh setelah diarak memiliki makna simbolis sebagai penghancuran energi negatif. Api menjadi lambang penyucian, sehingga setelah pembakaran, diharapkan kehidupan kembali bersih dan seimbang menjelang Hari Raya Nyepi.

Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian upacara pengerupukan, yaitu ritual yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi. Setelah upacara utama, ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan iringan gamelan bleganjur yang menghentak dan membangkitkan semangat.

Selama pawai berlangsung, masyarakat memadati jalan-jalan desa untuk menyaksikan arak-arakan tersebut. Api obor, bunyi alat musik, serta gerakan dinamis para pengarak menciptakan suasana yang meriah dan penuh energi.

Di akhir prosesi, ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pembersihan. Prosesi ini menandai berakhirnya segala energi negatif sebelum memasuki hari suci Nyepi yang identik dengan keheningan, introspeksi, dan pengendalian diri.

Selain memiliki nilai spiritual, ogoh-ogoh juga menjadi wadah ekspresi seni dan kreativitas masyarakat. Setiap banjar atau kelompok masyarakat berlomba-lomba menciptakan ogoh-ogoh yang unik, artistik, dan penuh detail.

Proses pembuatannya melibatkan banyak orang, mulai dari perancangan konsep hingga tahap finishing. Rangka ogoh-ogoh biasanya dibuat dari bambu, kemudian dilapisi bahan ringan dan dihias dengan cat warna-warni serta ornamen yang rumit.

Kegiatan ini memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan. Kerja sama antarwarga dalam membuat ogoh-ogoh menjadi momen penting yang mempererat hubungan sosial dan solidaritas di lingkungan masyarakat.

Daya Tarik Wisata yang Mendunia

Keunikan ogoh-ogoh tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah dan negara. Setiap tahun, ribuan wisatawan datang ke Bali untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang spektakuler.

Tradisi ini menjadi salah satu daya tarik budaya yang memperkaya sektor pariwisata Bali. Selain memberikan pengalaman visual yang memukau, ogoh-ogoh juga memperkenalkan nilai-nilai budaya dan filosofi kehidupan kepada masyarakat global.

Dengan demikian, ogoh-ogoh tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga sebagai identitas budaya yang memperkuat citra Bali di mata dunia.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, makna ogoh-ogoh tetap relevan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual. Ogoh-ogoh menjadi simbol refleksi diri, mengingatkan bahwa setiap individu memiliki sisi negatif yang harus dikendalikan.

Dengan membakar ogoh-ogoh, masyarakat diajak untuk meninggalkan sifat buruk dan memulai kehidupan baru yang lebih baik. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kreativitas, dan penghormatan terhadap tradisi juga menjadi pelajaran berharga yang tetap relevan dalam kehidupan modern.

Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak dan dibakar dalam sebuah perayaan. Di balik tradisi tersebut tersimpan filosofi kehidupan yang mendalam, mulai dari penyucian diri hingga penguatan nilai kebersamaan.

Keberadaannya menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki kekuatan untuk terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa seni, spiritualitas, dan kehidupan sosial dapat berpadu dalam satu bentuk yang harmonis.

Melalui ogoh-ogoh, nilai-nilai luhur tentang keseimbangan, introspeksi, dan kebersamaan terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikannya sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.