tata ruang desa penglipuran bali keberhasilan model pariwisata berbasis lingkungan dan adat - News | Good News From Indonesia 2026

Tata Ruang Desa Penglipuran Bali: Keberhasilan Model Pariwisata Berbasis Lingkungan dan Adat

Tata Ruang Desa Penglipuran Bali: Keberhasilan Model Pariwisata Berbasis Lingkungan dan Adat
images info

Tata Ruang Desa Penglipuran Bali: Keberhasilan Model Pariwisata Berbasis Lingkungan dan Adat


Desa Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, Bali, di kawasan dataran tinggi yang sejuk dan hijau. Desa ini dikenal luas sebagai salah satu desa terbersih di dunia, namun daya tarik utamanya tidak hanya terletak pada kebersihan semata.

Penglipuran merupakan contoh hidup bagaimana tata ruang tradisional Bali, nilai adat, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan selaras. Di tengah arus modernisasi dan pariwisata massal, desa ini justru berhasil mempertahankan jati diri dan kearifan lokalnya.

Tata Ruang yang Berlandaskan Filosofi Adat

Keunikan Desa Penglipuran paling jelas terlihat dari tata ruangnya yang sangat teratur dan simetris. Rumah-rumah warga berjajar rapi di sepanjang jalan utama yang membentang lurus dari utara ke selatan.

Pola ini bukan kebetulan, melainkan hasil penerapan konsep Tri Mandala, sebuah filosofi tata ruang Bali yang membagi wilayah menjadi tiga zona berdasarkan tingkat kesucian.

Zona utama berada di bagian utara sebagai area suci, zona tengah sebagai area pemukiman, dan zona luar sebagai area aktivitas pendukung.

Setiap rumah memiliki gerbang tradisional yang seragam, menciptakan kesan visual yang harmonis dan menenangkan. Meski tampak serupa dari luar, masing-masing rumah tetap memiliki identitas keluarga yang kuat di bagian dalam.

Tata ruang ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mencerminkan keteraturan sosial dan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Pelestarian Adat sebagai Pilar Kehidupan Desa

Masyarakat Penglipuran masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Aturan adat, atau awig-awig, mengatur hampir seluruh aspek kehidupan desa, mulai dari tata ruang, upacara keagamaan, hingga perilaku sosial warga.

Salah satu contoh nyata adalah larangan poligami yang telah lama diterapkan di desa ini, mencerminkan nilai kesetaraan dan keharmonisan sosial.

Upacara adat dan ritual keagamaan masih dijalankan secara rutin, melibatkan seluruh warga desa. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

Dengan cara ini, adat tidak diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian aktif dari kehidupan sehari-hari.

Pariwisata Berbasis Lingkungan dan Budaya

Desa Penglipuran mulai dikenal sebagai destinasi wisata karena keunikan tata ruang dan budaya yang terjaga. Namun, pengelolaan pariwisata di desa ini dilakukan dengan pendekatan yang sangat hati-hati.

Warga desa menjadi pelaku utama dalam pengelolaan wisata, mulai dari tiket masuk, kebersihan, hingga penyediaan produk lokal. Pendapatan dari pariwisata kemudian digunakan kembali untuk kepentingan bersama, seperti perawatan lingkungan dan pelestarian adat.

Jumlah dan aktivitas wisatawan diatur agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Tidak ada pembangunan hotel besar di dalam desa, dan rumah warga yang menerima tamu tetap mempertahankan arsitektur tradisional.

Dengan demikian, pariwisata tidak mengubah wajah desa, melainkan justru memperkuat alasan untuk menjaganya.

Komitmen Melestarikan Lingkungan

Salah satu aspek paling mengesankan dari Desa Penglipuran adalah komitmennya terhadap kelestarian lingkungan. Desa ini memiliki aturan ketat mengenai kebersihan dan pengelolaan sampah.

Setiap warga bertanggung jawab menjaga area di sekitar rumahnya, sementara hutan bambu yang mengelilingi desa dilindungi sebagai kawasan hijau dan sumber daya alam penting.

Hutan bambu tidak hanya berfungsi sebagai penyangga lingkungan, tetapi juga sebagai sumber bahan bangunan dan kerajinan tradisional. Pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana, memastikan regenerasi alam tetap terjaga.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan pemanfaatan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Inspirasi untuk Pariwisata Berkelanjutan

Keberhasilan Desa Penglipuran menjadi bukti bahwa pariwisata tidak harus merusak budaya dan lingkungan. Dengan menjadikan adat dan alam sebagai fondasi, desa ini mampu menarik wisatawan yang mencari pengalaman autentik, sekaligus menjaga kualitas hidup warganya.

Model pariwisata berbasis komunitas yang diterapkan Penglipuran kini sering dijadikan contoh bagi desa-desa lain di Bali maupun daerah lain di Indonesia.

Penglipuran mengajarkan bahwa pembangunan sejati tidak selalu berarti perubahan besar, tetapi sering kali justru terletak pada kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada.

Dalam kesederhanaan tata ruang dan keteguhan adatnya, desa ini menawarkan pelajaran penting tentang keseimbangan, keberlanjutan, dan masa depan pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.