makna pohon di bali dibalut kain poleng antara kearifan lokal dan filosofi kehidupan - News | Good News From Indonesia 2026

Makna Pohon di Bali Dibalut Kain Poleng, antara Kearifan Lokal dan Filosofi Kehidupan

Makna Pohon di Bali Dibalut Kain Poleng, antara Kearifan Lokal dan Filosofi Kehidupan
images info

Makna Pohon di Bali Dibalut Kain Poleng, antara Kearifan Lokal dan Filosofi Kehidupan


Kawan GNFI, ketika mengunjungi Bali pasti Kawan akan menemui banyak pohon yang dibalut dengan kain persegi hitam putih bermotif kotak-kotak yang membalutnya. 

Kain hitam putih itu dinamakan kain poleng Bali, di mana selain menjadi ikonik kain ini juga merepresentasikan akan kearifan lokal yang masih melekat bagi masyarakat Bali dan erat kaitannya dengan kepercayaan hingga budaya di Bali.

Seringkali ketika mengunjungi Bali ditemui banyak pohon besar (beringin dan pule) dibalut dengan kain hitam putih ini yang ternyata memiliki makna budaya dan seni yang unik.

Ingin tahu, makna pohon di Bali yang dibalut kain poleng dengan filosofi yang kaya arti dalam tradisinya? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuBali. 

Alasan Pohon di Bali Dibalut Kain Poleng

Bali dikenal masih kental mempertahankan tradisinya yang diwariskan melalui praktik, simbol, serta ritual yang terus diulang dan berkaitan pula dengan konsep keseimbangan alam, penghormatan kehidupan, maupun pemahaman akan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan).

Selain berkaitan dengan tradisi, penggunaan kain poleng juga bermakna spiritual khusus bagi penganut agama Hindu di Bali. Banyak pohonnya yang dibalut dengan kain poleng dianggap sakral (Tenget) dan memiliki kekuatan magis menurut masyarakat lokal di sana. Alasan mendalam lain yang mendasarinya, antara lain: 

  • Hubungan Tri Hita Karana 

Konsep Tri Hita Karana di Bali erat kaitannya dengan falsafah dalam agama Hindu. Ini berasal dari tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia dari hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan alam (Palemahan), dan sesama manusia itu sendiri. 

  • Penanda Tempat Sakral 

Pohon-pohon besar bagi masyarakat Bali diyakini menjadi tempat bersemayamnya sosok-sosok yang dapat menghitam-putihkan kehidupan di dunia. Untuk itu kain poleng disematkan sebagai simbol penjagaan.

Selain itu, penggunaan kain poleng juga menjadi simbol bahwa tempat tersebut telah dikeramatkan atau diyakini memiliki kekuatan magis dan roh penjaga yang harus dihormati. 

  • Cara Leluhur Bali Menjaga Fungsi Ekologis 

Di masa kini, penggunaan kain poleng yang sakral, erat dengan makna yang berhubungan pada tingkat psikologis dan spiritual masyarakat Bali dalam menjaga alam.

Dengan menjadikannya sakral, secara tidak langsung masyarakat dilarang untuk menebang atau merusak pohon tersebut sekaligus menjaga alam, menjaga ketersediaan oksigen, dan resapan air dari pohon untuk hidup berkelanjutannya.

  • Berhubungan dengan Upacara Khusus 

Di Bali, memasang kain poleng pada pohon dikaitkan dengan aura spiritual yang membawa keyakinan akan menjaga harmoni hidup, termasuk hubungan dengan alam. 

Pohon menjadi makhluk hidup yang patut dihormati dan menjadi bagian filosofi Bali hingga diwujudkan melalui upacara khusus secara teratur dan sakral seperti Tumpek Wariga, Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag.

Upacara ini dilakukan setiap enam bulan sekali, dua puluh hari sebelum Galungan. 

baca juga

Makna Simbolik dari Kain Poleng Bali

Makna dari penggunaan kain poleng di Bali menjadi salah satu cara penghayatan akan konsep Rwa Bhineda yang mengajarkan tentang dualitas atau dua hal yang berlawan. Namun, saling melengkapi dalam menciptakan keseimbangan alam semesta seperti baik-buruk, dan siang-malam yang mengajarkan kehidupan seimbang. 

Poleng di sini merujuk pada warna-warna hitam putih yang berselang-seling dengan jumlah sama banyak dan berkaitan dengan konsep keseimbangan alam. Warna hitam melambangkan kegelapan atau keburukan, dan warna putih melambangkan cahaya atau kebijakan. 

Konsep Rwa Bhineda ini menciptakan harmoni tanpa menghilangkan salah satunya, melainkan dengan menyeimbangkan keduanya. 

Kain poleng juga selain dibalut di pohon, memiliki fungsi lain dalam kehidupan sosial. Sebagai contoh, digunakan pada Pecalang (penjaga keamanan) sebagai atribut atau seragam dan pengingat untuk selalu waspada dan bertindak bijaksana dalam menjaga keseimbangan desa adat.

Poleng juga digunakan pada patung (Dwarapala),Tedung (patung upacara), umbul-umbul, hingga alat musik tradisional seperti kulkul. 

baca juga

Relevansi di Era Modern

Di masa kini, penggunaan kain poleng tak hanya sebatas benda sakral semata. Namun, terus berkembang menjadi identitas budaya khas Bali yang penggunaannya banyak ditemukan di hotel, restoran, dan tempat wisata dengan menonjolkan suasana Bali. 

Namun, bagi masyarakat lokal tetap kain poleng ini diyakini sakral mengingat akan pesan yang disimpan untuk selalu menjaga keseimbangan diri, kearifan luhur yang dihargai, dan menghormati alam semesta yang menaunginya. 

Selain untuk menjaga keseimbangan alam, ternyata pohon yang diberi kain poleng menjadi simbol spritualitas yang mendalam bagi masyarakat Hindu Bali.

Menarik sekali, ya, Kawan GNFI?

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.