mengenal tradisi mageburan di bali ketika kaum wanita memperebutkan kaum pria - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tradisi Mageburan di Bali, Ketika Kaum Wanita Memperebutkan Kaum Pria

Mengenal Tradisi Mageburan di Bali, Ketika Kaum Wanita Memperebutkan Kaum Pria
images info

Mengenal Tradisi Mageburan di Bali, Ketika Kaum Wanita Memperebutkan Kaum Pria


Bali dikenal memiliki berbagai tradisi unik yang mampu memicu decak kagum para wisatawan, baik itu secara domestik maupun internasional. Mungkin selama ini, Kawan GNFI sudah mengetahui adanya Tari Kecak, Ogoh-Ogoh, atau Ngaben yang dinilai sebagai trade mark wilayah tersebut.

Ternyata, ada satu tradisi lawas yang masih bertahan sampai kini. Di dunia maya, ini lebih dikenal dengan ‘megeburan’, dan sebagian lagi mengenalnya dengan ‘mageburan’ secara ilmiah. Lantas, seperti apa bentuk tradisi ini?

Wujud dan Perkembangannya

Sebagaimana dikutip dari Śruti: Jurnal Agama Hindu dan Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha, istilah mageburan berasal dari kata “gebur” yang mendapatkan imbuhan “ma-“ dan “-an” dengan arti harfiahnya adalah berhamburan atau menghamburkan. Tradisi mageburan dianggap sebagai warisan leluhur dikarenakan terdapat nilai-nilai fungsional yang masih dijaga dan dipertahankan hingga sekarang.

Dewi (2022) selaku penulis artikel berjudul “Tradisi Mageburan Di Desa Sekumpul Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng” yang dimuat di Śruti mengungkapkan bahwa tradisi ini adalah tradisi yang diadakan setiap tahunnya pada purnama sasih kanem untuk menghindari musibah yang terjadi selama rangkaian upacara piodalan di Pura Desa Sekumpul, yang mana pesertanya adalah remaja sekaa teruna, atau pemuda adat setempat yang biasanya baru menjadi anggota sekaa teruna.

Adapun para peserta akan dibagi menjadi dua kelompok: kelompok truni laki-laki berada di sebelah utara dan kelompok truni perempuan berada di sebelah selatan. Setelah aba-aba dimulai, kedua kelompok tersebut akan saling melempar tanah liat dan air satu sama lain. Terdapat salah satu anggota kelompok perempuan yang bertugas memotong bambu atau dikenal dengan istilah ambu yang digunakan sebagai pembatas.

Setelah berhasil terpotong, nantinya kaum wanita akan berlarian mengejar pria yang disukai. Bahkan, kabarnya pria yang ‘tertangkap’ ini dilucuti pakaiannya oleh para perempuan hingga bertelanjang dada. Seusai ditentukan pemenangnya, semua orang kembali menuju Pura Desa dan lanjut ke Kayehan Cabul di arah selatan pura untuk melakukan pembersihan setelah menjalani tradisi.

Tradisi mageburan dilaksanakan usai melakukan upacara piodalan. Melansir women.okezone.com (1/3/2022), kegiatan saling melempar air dan tanah liat ini dilakukan oleh remaja perempuan sebagai simbol rasa syukur dan terima kasih kepada leluhur sebab telah selesai melakukan upacara tersebut. Adapun Kelian Desa Adat Sekumpul, Gede Sudiasa menyebut bahwa tradisi mageburan bertujuan untuk mempererat silaturahmi antara anggota sekaa teruna yang terlibat, mengingat status mereka adalah anggota baru, diinformasikan dari Detik (27/11/2023).

“Jadi, sekaa teruna anyar yang baru masuk anggota sekaa teruna sebelum melaksanakan kewajiban dan kegiatannya di Pura, dengan menyucikan diri dengan cara memargi di air suci itu secara niskala,” ungkap beliau. Sudiasa juga menambahkan bahwa tidak ada syarat khusus bagi peserta tradisi. Setidaknya, anggota sekaa teruna wajib berusia minimal 13 tahun sampai batas belum menikah.

Nilai-nilai yang Terkandung

Dalam pelaksanaannya, proses tradisi mageburan menunjukkan keharmonisan prahyangan (dengan Tuhan), pawongan (dengan sesama), dan palemahan (dengan lingkungan hidup). Adapun nilai pendidikan agama Hindu yang tercerminkan dari tradisi ini meliputi:

1. Nilai Pendidikan Tattwa

Mengacu pada filosofi Hindu, tattwa (filsafat) merupakan konsep tentang mencari kebenaran yang esensial. Melalui tri pramana, yang membentuk keyakinan dan kepercayaan, akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran tattwa yang sebenarnya.

Dalam tradisi mageburan, pendidikan tattwa dapat diberikan sebagai alat dan sarana untuk memperkuat keyakinan akan kebenaran Tuhan. Menurut masyarakat adat setempat, tradisi ini dianggap membawa keselamatan, penyucian, dan kesejahteraan.

2. Nilai Pendidikan Etika

Menurut agama Hindu, dikarenakan manusia memiliki tri pramana (bayu, sapda, idep), konsep tata susila atau etika menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Etika membantu seseorang untuk mengontrol dirinya serta mengajarkan orang lain untuk berperilaku sesuai dengan norma kesusilaan yang ada.

Hal ini dinilai selaras dengan ajaran yang dikenal sebagai Tri Kaya Parisudha, yang terdiri atas manacika (berpikir), wacika (berkata), dan kayika (perbuatan); itu berfungsi sebagai fondasi penting mengenai tata susila yang baik.

3. Nilai Pendidikan Upacara

Umat Hindu melakukan upacara untuk berkomunikasi dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau disebut juga Tuhan Yang Maha Esa. Upacara dianggap sebagai representasi konkret dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selama proses perencanaan dan pelaksanaan tradisi mageburan, mulai dari tahap matur piuning hingga pementasan, masyarakat dapat merasakan nilai ritual yang tersedia di hadapan mereka. Orang mampu meredakan perasaan agama mereka guna mencapai kebahagiaan rohani dengan melakukan upacara.

Oleh karena itu, apabila upacara diaplikasikan dari generasi ke generasi di Desa Sekumpul, para pemuka agama dapat mengajarkan kepada masyarakat untuk terus melakukannya sebagai perwujudan nyata mengenai rasa terima kasih dan bakti bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, dengan berpartisipasi dalam rangkaian upacara, mereka dapat memberikan nilai budaya yang luhur kepada kawula muda.

Ternyata, bisa dibilang makna dari tradisi mageburan sangat dalam dan filosofis. Kiranya tradisi ini boleh dilestarikan kepada anak-cucu di masa depan. Berikut di atas sudah disematkan cuplikan singkat mengenai prosesi tradisi mageburan ini. Selamat menyaksikan!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.