Nama K.H. Sholeh Darat kini resmi terpasang di salah satu ruas jalan di Kota Atlas. Pemerintah Kota Semarang mengganti Jalan Kyai Saleh yang berada di kawasan Taman Pemakaman Umum Bergota menjadi Jalan KH Sholeh Darat.
Surat Keputusan perubahan nama jalan diserahkan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Kamis (12/2/2026). Katanya, perubahan ini sebagai upaya menjadikan ruang publik sebagai pengingat sejarah. Setiap orang yang melintas di ruas jalan itu diharapkan terhubung dengan jejak ulama besar asal Semarang.
“Jalan bukan sekadar ruang lalu lintas, tetapi ruang ingatan. Setiap orang yang melintas di jalan tersebut diingatkan bahwa kota ini pernah melahirkan ulama besar yang mengajarkan ilmu dengan kelembutan, dakwah dengan kebijaksanaan, dan Islam dengan semangat moderasi,” jelas Agustina, dikutip dari detikJateng.
Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari pengusulan K.H. Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional dan pemberian penghargaan Tokoh Moderasi. Piagam diserahkan kepada dzurriyah atau ahli warisnya. Pada saat yang sama dilakukan penandatanganan pernyataan ahli waris dan pengesahan foto K.H. Sholeh Darat.
K.H. Sholeh Darat, Guru Para Tokoh Bangsa
Banyak orang yang telah mengenal K.H. M Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, dan RA Kartini. Ketiganya telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Tapi, apakah masyarakat tahu bahwa mereka memiliki satu guru yang sama?
Ya, K.H. Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani disebut menjadi guru dari 3 tokoh besar, yakni pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari; pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan; dan tokoh emansipasi wanita, RA Kartini.
Fakta ini dicatat oleh Amirul Ulum dalam buku K.H. Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani dengan pengantar K.H. Ahmad Wafi MZ. Dalam buku itu dijelaskan riwayat pendidikan, garis keturunan, hingga karya-karya sang ulama.
Menurut salah satu pendapat yang disebut dalam mukadimah tafsir Faidhu al-Rahman fi Tarjemati Tafsiri Maliki al-Dayyan, K.H. Sholeh Darat lahir di Semarang pada 1235 H. Tahun itu juga lahir K.H. Moh Kholil Bangkalan.
Soal nasab, Habib Lutfi bin Yahya menyebut K.H. Sholeh Darat masih keturunan Sunan Kudus.
Melawan dengan Ilmu, Bukan Senjata
Lahir sekitar 1819–1820 M, K.H. Sholeh Darat hidup pada masa kolonial. Sebagaimana banyak ulama pada zamannya, ia menggerakkan masyarakat lewat pengajian dan pendidikan pesantren. Dari majelis kecil di sekitar Masjid Darat, ia menanamkan pemahaman agama yang membumi dan mudah dipahami masyarakat awam.
Majelis itulah yang menjadi cikal bakal Pesantren Darat. Menariknya, sejumlah sumber menyebut pesantren itu awalnya hanya berupa mushala dengan santri kalong. Santri kalong adalah murid yang tidak menetap, datang dan pulang setelah mengaji.
Selain mendirikan pesantren, K.H. Sholeh Darat juga dikenal produktif menulis. Disebut ada sekitar 40 kitab, tetapi yang ditemukan baru 12 judul, salah satunya adalah Tafsir Faidhurrahman.
Kitab tafsir adalah karya penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an. Yang membuatnya berbeda, K.H. Sholeh Darat menulis dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat lokal.
“Kitabnya itu dibuat agar masyarakat mudah mengerti dan Belanda tidak bisa baca,” kata Takmir Masjid Kiai Sholeh Darat, Homsin, dikutip dari Detik.com.
Misteri Makam dan Strategi Kolonial
K.H. Sholeh Darat wafat pada 1903 dan dimakamkan di sekitar kompleks Masjid Darat, yang saat itu menjadi pusat kegiatan pengajian. Beberapa waktu setelah wafat, makam tersebut ramai diziarahi. Tidak hanya masyarakat umum, tokoh-tokoh pergerakan juga datang untuk berdoa dan bersilaturahmi.
Kondisi itu membuat pemerintah kolonial resah. Lokasi makam dikhawatirkan menjadi titik berkumpul massa. Dalam situasi politik yang sensitif, kerumunan di sekitar tokoh berpengaruh bisa dianggap sebagai ancaman.
Oleh sebab itulah, makamnya kemudian dipindahkan oleh Belanda ke kawasan Bergota. Saat itu, kawasan tersebut masih terpencil dan belum berkembang seperti sekarang.
“Dulu Bergota belum seperti sekarang yang jadi kompleks pemakaman. Dulu masih rawa-rawa, hutan, belum banyak dijangkau. Itu siasat Belanda agar tidak ada sentralisasi massa. Ada yang bilang, saat dipindahkan, ternyata hanya kafannya saja, jasadnya tidak ada,” ujar Homsin.
Menghidupkan Kembali Warisan Intelektual
Kembali ke momen peresmian jalan. Dalam acara penghargaan dan peresmian jalan K.H. Sholeh Darat, kitab Tafsir Faidhurrahman diserahkan kepada Wali Kota untuk diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Langkah ini penting agar generasi muda bisa mengaksesnya.
Agustina menegaskan bahwa pembangunan kota tidak hanya soal fisik.
“Semarang memiliki banyak figur inspiratif yang kontribusinya melampaui zamannya. Mengangkat kembali sosok seperti K.H. Sholeh Darat berarti kita sedang menanamkan identitas dan kebanggaan sejarah kepada masyarakat,” tambahnya.
Istilah moderasi yang disematkan padanya merujuk pada sikap beragama yang tidak ekstrem. Moderasi berarti mengambil jalan tengah; tidak keras dan tidak longgar. Prinsip ini kini sering digaungkan pemerintah sebagai bagian dari penguatan harmoni sosial.
Dengan perubahan nama jalan ini, Semarang tidak sekadar menambah daftar tokoh lokal. Kota ini sedang merawat ingatan kolektifnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


