tokawi sentra janggelan cincau hitam - News | Good News From Indonesia 2026

Desa Tokawi, Sentra Janggelan Cincau Hitam yang Tak Dibicarakan

Desa Tokawi, Sentra Janggelan Cincau Hitam yang Tak Dibicarakan
images info

Desa Tokawi, Sentra Janggelan Cincau Hitam yang Tak Dibicarakan


Terletak di antara dinginnya gunung dan lembah, Desa Tokawi merupakan satu dari sembilan desa yang berada di Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Mungkin hal inilah yang menarik minat tim KKN Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UGM Seru Jeparu untuk melakukan kegiatan pengabdian di desa ini. Siapa sangka pula, desa yang terletak cukup terpencil tersebut menyimpan sebuah bahan utama penyegar yang mungkin sering Kawan minum, yaitu janggelan.

Bagi Kawan yang tidak tahu, janggelan merupakan bahan baku produk cincau hitam yang sering ditemukan pada berbagai minuman, salah satunya dawet. Janggelan sendiri memiliki berbagai manfaat seperti mengobati batuk, membantu lancarnya pencernaan, menyembuhkan panas dalam, dan bahkan cocok sebagai minuman diet (Tani Link, 2024).

Bagi warga Tokawi, janggelan menjadi produk utama dengan persentase 90% adalah produk hasil pertaniannya.

baca juga

Tidak Sekadar Komoditas Biasa

Seperti yang telah dikatakan di atas, janggelan merupakan komoditas pertanian utama Tokawi. Hal ini juga didukung oleh produktivitas pertanian cincau yang sangat tinggi.

Menurut Kepala Dusun Joso Kidul yang juga merangkap sebagai Ketua Kelompok Tani Karya Makmur, Sriyanto, janggelan dapat dipanen sebanyak tiga kali dalam setahun; dua kali di musim hujan dan satu kali di musim kemarau.

Janggelan sendiri juga sangat hemat tempat. Satu hektar lahan dapat menghasilkan satu hingga dua ton janggelan kering. Harga janggelan kering juga bervariasi tergantung pada bagianya.

Jika hanya menjual daun keringnya saja, janggelan dapat dihargai hingga Rp30.000,00 per kilo ke pengepul. Sedangkan jika daun serta batangnya dijual, harganya turun menjadi Rp25.000,00 per kilo.

Harga janggelan sendiri sangat fluktuatif. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Tokawi, Agus, harga janggelan tertinggi adalah Rp50.000,00 per kilo dan Rp15.000,00 per kilo untuk harga terendah. Ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Walaupun begitu, hal ini tidak serta merta membuat petani meninggalkan janggelan sebagai komoditas utama.

Masih semangatnya petani Tokawi untuk menanam janggelan mungkin didorong oleh beberapa faktor berikut. Dilansir dari wawancara bersama Jarno yang bekerja sebagai pengepul, janggelan asli Tokawi dikenal dengan kualitas terbaiknya jika dibandingkan dengan daerah lain, bahkan terkenal hingga luar negeri. Bahkan, tak jarang pembeli mancanegara mendatangi langsung desa ini.

Hal ini juga didukung oleh kondisi geografis Tokawi yang berada pada dataran tinggi (sekitar 800-900 mdpl) sehingga mendukung pembentukan kualitas saripati yang lebih baik.

Pengeringan Janggelan yang Masih Manual (Dokumentasi Pribadi)
info gambar

Pengeringan Janggelan yang Masih Manual (Dokumentasi Pribadi)


Pertanian Janggelan, Bukan Tanpa Halangan

Semua keunggulan janggelan Tokawi ini tidak serta merta membuat pertanian janggelan bebas dari kendala. Hama uret atau ulat tanah yang menyerang akar menjadi masalah utama dari produktivitas pertanian janggelan. Terlebih, sampai saat ini belum ada obat hama yang dapat mengatasi hama uret ini.

Kembali mengutip dari hasil wawancara bersama Sriyanto, belum ada bantuan selain pupuk kimia yang didapat oleh petani janggelan dari pemerintah. Janggelan merupakan tanaman yang haus akan air. Akan tetapi, tidak ada bantuan pompa air bagi pertanian janggelan. Terlebih, banyak sungai Tokawi yang airnya kering saat musim kemarau.

baca juga

Pemerintah sejauh ini justru lebih berfokus pada pengembangan sektor pertanian yang bukan unggulan Tokawi, seperti tembakau melalui program bantuan langsung tunai dan alat-alat pertanian tembakau.

Proses pengeringan janggelan di Tokawi juga masih menggunakan proses manual dengan sinar matahari. Faktanya, hingga kini, Tokawi hanya menjadi sumber bahan mentah dari cincau hitam, janggelan, tidak ada pengolahnya. Padahal, lokasi Tokawi sebagai sumber janggelan terbaik sangat menjanjikan apabila dibangun sentra pengolahan janggelan.

Alat Pengering Janggelan Tenaga Panas Matahari Karya Mahasiswa KKN-PPM UGM Seru Jeparu (Dokumentasi Pribadi)
info gambar

Alat Pengering Janggelan Tenaga Panas Matahari Karya Mahasiswa KKN-PPM UGM Seru Jeparu (Dokumentasi Pribadi)


Peluang untuk Janggelan Tokawi

Petani janggelan hingga kini sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah demi menunjang produktivitas pertanian janggelan. Hal paling utama yang dibutuhkan saat ini adalah obat hama uret.

Selain itu, masyarakat juga mengharapkan adanya investor baik swasta untuk pemerintah untuk membangun sentra pengolahan janggelan di Tokawi dan bantuan pemasaran produk janggelan.

Adanya bantuan alat pengering janggelan juga diperlukan, sebab hawa dingin Tokawi yang memperlambat proses pengeringan. Di sinilah tim KKN-PPM UGM Seru Jeparu terjun.

baca juga

Tim KKN-PPM UGM Seru Jeparu berinisasi untuk membuat alat pengering yang memanfaatkan tenaga matahari untuk membantu pengeringan janggelan di Tokawi. Alat ini sendiri dibuat dengan bahan utama kayu sengon yang sangat mudah ditemui di area tersebut.

Pertanian janggelan menjadi komoditas pertanian utama Tokawi yang menunjang sebagian besar kehidupan warga, terlepas dari berbagai tantangan.

Oleh karena itu, tim KKN-PPM UGM Seru Jeparu berperan sebagai inisiator untuk mengembangkan sektor pertanian janggelan agar komoditas yang menunjang hajat hidup orang banyak ini tidak tertinggal dan dapat terus berkembang.

 

 

Ditulis Oleh

Mas Arsyarrahman Setiawan

Kontributor

Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M.Hum. dan Tim KKN-PPM UGM Seru Jeparu Periode 4 2025

Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan 2026

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.