Siswondo Parman lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918. Ia merupakan anak keenam dari 11 bersaudara dari pasangan Kromodiharjo dan Marinah. Ayahnya, Kromodiharjo, dikenal sebagai pedagang di Wonosobo dan menjalankan usaha perdagangan di daerah tersebut.
Parman menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Wonosobo. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia melanjutkan sekolah ke Yogyakarta untuk bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Pendidikan Parman sempat terhenti setelah ayahnya meninggal dunia pada 1936. Ia kemudian kembali ke Wonosobo dan membantu ibunya menjalankan usaha perdagangan keluarga.
Setelah masa tersebut, Parman kembali melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Pada tahun ajaran 1937/1938, ia masuk Algemeene Middelbare School (AMS) bagian B. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Parman berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Geneeskundige Hoogeschool (GHS), sekolah tinggi kedokteran pada masa Hindia Belanda. Ia mulai menempuh pendidikan tersebut pada 1939.
Namun, pendidikan kedokteran Parman tidak sampai selesai. Kedatangan pasukan Jepang ke Jawa pada 1942 membuat ia meninggalkan studinya di Jakarta dan kembali ke Wonosobo.
Situasi pendudukan Jepang kemudian membawa Parman ke jalur yang berbeda dari rencana pendidikannya. Ia mulai terlibat sebagai penerjemah bagi Kempetai karena kemampuannya berbahasa Inggris, sebelum kemudian memasuki lingkungan yang berkaitan dengan militer dan intelijen.
Dari Penerjemah Kempeitai hingga Memasuki Dunia Militer Republik
Pendudukan Jepang pada 1942 menjadi titik perubahan dalam perjalanan hidup Siswondo Parman. Setelah meninggalkan pendidikan kedokteran, Parman yang menguasai bahasa Inggris kemudian terlibat dengan Kempeitai, polisi militer Jepang, sebagai penerjemah atau Kempeiho. Ia mengikuti pasukan Jepang hingga ke Yogyakarta dan kemudian bekerja sebagai pegawai sipil pada dinas Kempeitai di kota tersebut.
Kempeitai sendiri merupakan polisi militer Jepang yang memiliki fungsi antara lain menjaga keamanan dan melakukan pengawasan selama masa pendudukan. Posisi Parman sebagai Kempeiho berbeda dari tentara Jepang biasa karena tugas utamanya berkaitan dengan membantu Kempeitai, termasuk sebagai penerjemah.
Dalam perkembangannya, Parman juga terlibat dalam pembentukan Kempeiho yang kemudian menjadi salah satu embrio Polisi Tentara di Indonesia.
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, Parman sempat terlibat dalam Komite Nasional Indonesia daerah Yogyakarta. Ia kemudian bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), organisasi militer awal Republik yang menjadi bagian dari perkembangan tentara nasional Indonesia.
Karier Parman kemudian berkembang di lingkungan Polisi Tentara. Pada akhir Desember 1945, ia diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Dari posisi tersebut, perjalanan Parman mulai mengarah ke berbagai jabatan strategis dalam struktur militer Republik.
Perubahan jalur hidup Parman ini bermula dari situasi yang tidak direncanakannya. Pendidikan kedokteran yang sebelumnya ia tempuh terhenti akibat pendudukan Jepang, sementara pengalaman sebagai penerjemah Kempeitai kemudian membawanya mengenal dunia intelijen dan kemiliteran.
Setelah Indonesia merdeka, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya masuk ke struktur militer Republik.
Karier yang Membawanya ke Dunia Intelijen Angkatan Darat
Setelah berkarier di lingkungan Polisi Militer, Siswondo Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Ia tercatat belajar di Military Police School pada 1951 dan setelah kembali ke Indonesia mendapat sejumlah penugasan di lingkungan militer dan Kementerian Pertahanan. Pada 1952, Parman menjabat sebagai Komandan Corps Polisi Militer (CPM) sekaligus Kepala Staf Umum III Angkatan Darat.
Kariernya kemudian berlanjut ke luar negeri. Pada 6 Juli 1959, Parman ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di London. Ia menjalankan tugas tersebut hingga 1 Juli 1962, sebelum kembali ke Indonesia dan mendapat penugasan di lingkungan Kementerian/Kepala Staf Angkatan Darat.
Pada 1 Juli 1962, Parman dipercaya sebagai Asisten I bidang Intelijen. Jabatan ini menempatkannya sebagai salah satu pejabat yang menangani urusan intelijen dalam struktur Angkatan Darat. Pada saat itu, pangkatnya naik menjadi Brigadir Jenderal. Dua tahun kemudian, tepatnya 1 Januari 1964, Parman kembali mendapat kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal.
Posisi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Parman sebagai perwira intelijen senior. Ia tidak sekadar menjalankan tugas sebagai “mata-mata”, tetapi menduduki jabatan struktural yang berkaitan dengan penyelenggaraan intelijen Angkatan Darat. Pengalamannya di bidang ini juga membuat Parman terlibat dalam berbagai persoalan keamanan dan politik yang dihadapi Angkatan Darat pada masa tersebut.
Dini Hari 1 Oktober 1965, Siswondo Parman Dijemput dari Rumahnya
Pada 1965, situasi politik Indonesia diwarnai ketegangan antara berbagai kekuatan politik, termasuk hubungan yang semakin tegang antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sebagian pimpinan Angkatan Darat. Dalam situasi tersebut, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran penculikan pada dini hari 1 Oktober 1965. Siswondo Parman termasuk di antaranya.
Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan penculik tiba di kediaman Parman di Jalan Serang Nomor 32, Menteng, Jakarta. Berdasarkan biografi Parman yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pasukan tersebut berangkat dari kawasan Lubang Buaya sekitar pukul 03.15 WIB. Mereka datang dengan membawa perintah agar Parman ikut karena disebut harus menghadap Presiden dalam situasi yang dianggap gawat.
Dalam beberapa sumber sejarah, pasukan yang menjalankan penculikan para perwira tersebut disebut sebagai Pasukan Pasopati. Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan mencatat Pasopati berada di bawah pimpinan Lettu Dul Arief dan mendapat tugas menangkap sejumlah perwira Angkatan Darat.
Sementara itu, biografi Parman mencatat pasukan yang mendatangi rumahnya terdiri dari unsur Cakrabirawa dan Yon Raider 530 Brawijaya. Parman kemudian bersiap dan berganti pakaian sebelum dibawa meninggalkan rumah. Ia selanjutnya dibawa ke kawasan Lubang Buaya bersama para perwira lain yang menjadi sasaran penculikan.
Siapa yang Membunuh Siswondo Parman?
Siswondo Parman diculik dalam rangkaian Gerakan 30 September (G30S) pada dini hari 1 Oktober 1965. Ia dibawa dari rumahnya di Jalan Serang, Jakarta, menuju Lubang Buaya. Parman kemudian ditemukan telah meninggal bersama enam perwira Angkatan Darat lainnya pada 3 Oktober 1965 dan dievakuasi sehari kemudian.
Penculikan tersebut dilakukan oleh pasukan yang tergabung dalam Pasukan Pasopati di bawah pimpinan Lettu Dul Arief. Khusus untuk membawa Parman dari rumahnya, sumber Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan mencatat keterlibatan satu peleton Cakrabirawa yang dipimpin Serma Satar dan satu peleton Yon Raider 530 Brawijaya yang dipimpin Serma Saat.
Setelah dibawa ke Lubang Buaya, Parman kemudian dibunuh. Namun, sumber sejarah yang tersedia tidak cukup jelas untuk menunjuk satu individu sebagai orang yang melakukan pembunuhan tersebut.
Akhir Hidup Siswondo Parman di Lubang Buaya
Siswondo Parman dibawa ke Lubang Buaya dalam keadaan hidup pada dini hari 1 Oktober 1965, setelah dijemput paksa dari rumahnya di Jalan Serang, Jakarta. Ia kemudian menjadi salah satu perwira Angkatan Darat yang dibunuh dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Jenazah Parman bersama enam perwira lainnya ditemukan di sebuah sumur tua di Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965 (dievakuasi sehari setelahnya). Setelah jenazah ditemukan, Parman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965.
Dari Mayor Jenderal Menjadi Pahlawan Revolusi
Saat meninggal pada 1 Oktober 1965, Siswondo Parman masih berpangkat Mayor Jenderal. Setelah wafat, pemerintah memberikan kenaikan pangkat secara anumerta menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta melalui Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI Nomor 110/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965.
Pada tanggal yang sama, melalui Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI Nomor 111/KOTI/1965, Parman juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi bersama sejumlah perwira lain yang gugur dalam peristiwa 1 Oktober 1965.
Referensi


