dari trem 1899 hingga whoosh 350 km jam begini evolusi kereta listrik indonesia selama 127 tahun - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Trem 1899 hingga Whoosh 350 Km/Jam, Begini Evolusi Kereta Listrik Indonesia Selama 127 Tahun

Dari Trem 1899 hingga Whoosh 350 Km/Jam, Begini Evolusi Kereta Listrik Indonesia Selama 127 Tahun
images info

Trem Batavia/KAI


Perjalanan kereta listrik di Indonesia ternyata memiliki sejarah panjang. Jauh sebelum masyarakat mengenal KRL, LRT Jabodebek, maupun Kereta Cepat Whoosh, teknologi listrik sudah digunakan dalam transportasi rel di Batavia lebih dari satu abad lalu.

Pada 10 April 1899, trem listrik resmi beroperasi sebagai salah satu transportasi umum massal baru di Batavia. Kehadiran trem tersebut menjadi tonggak awal pemanfaatan tenaga listrik dalam transportasi berbasis rel di Indonesia.

Kini, setelah 127 tahun berlalu, teknologi tersebut berkembang jauh lebih modern. Kereta listrik tidak hanya digunakan untuk perjalanan dalam kota, tetapi juga menjadi bagian dari sistem transportasi metropolitan hingga perjalanan antarkota berkecepatan tinggi.

Dari Trem Batavia hingga KRL Jabodetabek

baca juga

Trem listrik Batavia didatangkan dari Belgia dan dioperasikan oleh Batavia Elektrische Tram Maatschappij atau BETM. Peresmian operasionalnya dilakukan di kawasan Cikini, Menteng, yang juga menjadi lokasi depo trem lengkap dengan fasilitas bengkel dan pembangkit listrik.

Pada masa awalnya, jaringan trem listrik menghubungkan sejumlah kawasan penting seperti Harmoni, Tanah Abang, Menteng, Kramat, Pasar Senen, Pintu Besi hingga Stasiun Batavia.

Perkembangan teknologi listrik kemudian berlanjut ke sistem kereta api. Pada 6 April 1925, kereta listrik pertama Indonesia mulai beroperasi melalui lintas Tanjung Priok–Meester Cornelis atau Jatinegara.

Lima tahun kemudian, layanan kereta listrik Jakarta–Bogor juga mulai beroperasi penuh. Seiring pertumbuhan wilayah perkotaan, jaringan kereta listrik terus berkembang hingga akhirnya KRL menjadi salah satu moda utama transportasi masyarakat Jabodetabek.

baca juga

Memasuki usia ke-81 tahun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI juga terus mendorong pengembangan elektrifikasi.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pengembangan elektrifikasi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas layanan kereta listrik.

“KAI terus menyiapkan pengembangan jaringan KRL melalui penambahan elektrifikasi. Ke depan, jalur KRL Bekasi akan diperpanjang dari Cikarang menuju Cikampek, sementara jalur Bogor akan diperpanjang hingga Cigombong. Pengembangan ini dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kapasitas layanan KRL menuju dua juta pelanggan per hari,” ujar Bobby.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui penambahan listrik aliran atas atau LAA. Elektrifikasi jalur Bekasi saat ini telah mencapai Cikarang, sementara jalur selatan telah mencapai Bogor. Perpanjangan jaringan tersebut ditargetkan selesai pada 2028.

baca juga

Masuk Era LRT dan Kereta Cepat

Perjalanan teknologi kereta listrik Indonesia kemudian memasuki babak baru pada 2023 dengan hadirnya LRT Jabodebek.

Dengan panjang lintasan 44,43 kilometer, LRT Jabodebek menggunakan teknologi persinyalan Communication Based Train Control atau CBTC dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation 3 (GoA3) tanpa masinis.

Tidak berhenti di transportasi perkotaan, Indonesia juga memasuki era kereta cepat melalui Whoosh.

baca juga

Whoosh diresmikan pada 2 Oktober 2023 dan mulai melayani operasional komersial pada 17 Oktober 2023. Kereta ini menggunakan rangkaian CR400AF dengan kecepatan operasi hingga 350 kilometer per jam.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan teknologi listrik telah menjadi bagian penting dari perjalanan perkeretaapian Indonesia.

“Teknologi listrik telah menjadi bagian dari perjalanan kereta api Indonesia selama lebih dari satu abad. Perkembangannya menunjukkan bagaimana transportasi rel terus beradaptasi, dari melayani mobilitas perkotaan hingga menghadirkan layanan dengan teknologi modern,” ujar Anne.

Hingga Agustus 2026, KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan, meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

baca juga

Menurut Anne, perkembangan teknologi tersebut menunjukkan bahwa inovasi perkeretaapian terus berlangsung dari generasi ke generasi.

“Dari trem listrik Batavia hingga KRL, LRT Jabodebek, dan Whoosh, setiap perkembangan teknologi membawa perubahan bagi masyarakat. KAI terus menjadi bagian dari perjalanan tersebut dengan menghadirkan layanan yang semakin melayani,” kata Anne.

Dari trem listrik yang beroperasi pada 1899 hingga Whoosh yang melaju 350 km/jam, perjalanan teknologi kereta listrik Indonesia menunjukkan bagaimana transportasi rel terus berubah mengikuti kebutuhan masyarakat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.