Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin hanya mengenal nama MT Haryono sebagai nama jalan yang ada beberapa kota, karena nama beliau biasa digunakan di jalan-jalan protokol.
Namun, apakah Kawan GNFI sudah mengerti sebenarnya siapa sosok MT Haryono itu?
Singkatan nama MT Haryono adalah kepanjangan dari Mas Tirtodarmo Haryono. Ia adalah salah satu dari tujuh pahlawan revolusi Indonesia yang meninggal pada G30S/PKI pada tahun 1965 yang lalu.
Untuk lebih memahami profil hingga peran M.T Haryono bagi bangsa Indonesia, Kawan GNFI bisa menyimak informasinya berikut ini.
Siapa itu MT Haryono?

M.T Haryono | Sumber: Wikimedia Commons
MT Haryono lahir di Kota Surabaya pada tanggal 20 Januari 1924, memiliki ayah bernama Mas Hasono Tirtodramo yang merupakan seorang asisten wedana di Kota Gresik. Kemudian, sang ayah dipindah tugaskan sebagai jaksa di Sidoarjo. M.T Haryono sendiri lahir dalam perjalanan menuju Sidoarjo.
Pada masa pemerintahan Belanda, MT Haryono riwayat pendidikannya dimulai dari ELS (Europeesche Lagere School), dilanjutkan ke HBS (Hogere Burgerschool), serta sempat mengenyam pendidikan di RHS (Rechtshoogeschool) Jakarta. Kedua sekolah itu merupakan sekolah bentukan Belanda.
Ketika masa pendudukan Belanda telah usai dan berganti masa pendudukan Jepang, MT Haryono kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah Ika Dai Gakko yang merupakan sebuah sekolah kedokteran pada masa pendudukan Jepang. Sayangnya, ia tidak melajutkan sekolahnya hingga selesai.
Akhirnya, beliau memutuskan bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) seusai kemerdekaan RI usai diproklamirkan.
Keahliannya menguasai berbagai bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan Jepang membuat karirnya melesat di jalur diplomasi militer dengan berbagai peran penting yang beliau kerjakan pada masa itu. Hingga aktif dalam segala kegiatan bela Tanah Air, mengantarkan MT Haryono menjadi seorang perwira.
Dikutip dari laman resmi Disperpusip Provinsi Jawa Timur, dari keahlianya menguasai berbagai bahasa asing M.T Harono disebut sebagai "perwira penyambung lidah" yang sangat dibutuhkan di berbagai perundingan antara Indonesia dengan Inggris hingga Belanda.
Awal perjuangannya karir beliau dimulai pada tahun 1945- 1950 saat beliau bertugas di Kantor Penghubung, dilanjutkan dengan peran penting sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara serta Wakil Tetap Kementerian Pertahanan untuk Urusan Gencatan Senjata.
M.T. Haryono juga dipercaya sebagai Sekretaris Delegasi RI untuk berunding dengan pihak Inggris dan Belanda, termasuk mengawal diplomasi militer dalam momentum bersejarah Konferensi Meja Bundar (KMB).
Pada tahun 1950, beliau diutus ke Belanda untuk mengemban tugas sebagai Atase Militer RI di Belanda. Sekembalinya ke Tanah Air, beliau dipercaya menjabat sebagai Direktur Intendans Angkatan Darat.
Puncak karier militernya makin jaya pada tahun 1964 ketika beliau telah menyandang pangkat Mayor Jenderal dan diangkat menjadi Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).
M.T Haryono Gugur Dalam Peristiwa G30S/PKI
Pada masa setelah kemerdekaan 1945 dan 1955 banyak partai politik, tercatat 36 partai politik yang mulai bermunculan. Salah satunya yakni partai komunis. Partai tersebut dinilai sering melontarkan ide-ide yang dirasa cukup berisiko, seperti mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang biasa disebut dengan angkatan lima.
Akan tetapi ide-ide tersebut tidak disetujui oleh beberapa Perwira AD termasuk MT Haryono. Penolakan tersebut dilakukan karena takut akan adanya maksud lain, yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi Komunis.
Dengan penolakan tersebut, posisi M.T Haryono di jajaran perwira tinggi TNI Angkatan Darat menjadikannya salah satu target utama dalam peristiwa kelam G30S/PKI. Pada dini hari 1 Oktober 1965, kediaman beliau di Jalan Prambanan No. 8, Jakarta, disergap oleh sekelompok Pasukan Cakrabirawa.
Dalam situasi mencekam tersebut, beliau berusaha memberikan perlawanan dengan merebut senjata pasukan penculik. Namun, M.T Haryono gugur terkena tembakan sebelum jasadnya dibawa ke kawasan Lubang Buaya.
7 Pahlawan Revolusi Siapa Saja?

Monumen Pancasila Sakti | Sumber: Wikimedia Commons
Gugurnya M.T Haryono menjadi bagian tak terpisahkan dari deretan perwira TNI AD yang menjadi korban dalam tragedi nasional tersebut. Untuk mengenang pengorbanan para perwira terbaik bangsa, pemerintah mengabadikan gelar Pahlawan Revolusi Indonesia bagi mereka.
Berikut adalah 7 Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa di Jakarta:
Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto
Letnan Jenderal TNI Anumerta M.T. Haryono
Letnan Jenderal TNI Anumerta S. Parman
Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Pandjaitan
Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo
Kapten Czi Anumerta Pierre Tendean
Ketujuh perwira yang tewas tersebut kemudian ditemukan dan segera dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pasca-kejadian G30SPKI tersebut, atas jasa dan pengorbanannya bagi tanah air, pemerintah menetapkan beliau sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia berdasarkan Keppres No. 111/KOTI/1965 serta memberikan penghargaan kenaikan pangkat Letnan Jendral TNI (Anumerta) M.T. Haryono.
Di titik kejadian, Lubang Buaya, berdiri Monumen Pancasila Sakti yang menjadi tempat peristirahatan sekaligus pengingat abadi atas keberanian para Pahlawan Revolusi dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Lantas, Berapa bintang jenderal MT Haryono? Semasa hidupnya, pangkat terakhir beliau adalah Mayor Jenderal TNI (bintang dua). Setelah gugur dalam tugas, pemerintah menganugerahkan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta (bintang tiga).
Guna menghormati jasa dan pengorbanan ketujuh perwira TNI tersebut, tanggal 1 Oktober diabadikan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Hingga kini, nama besar M.T Haryono terus diabadikan menjadi nama jalan utama di berbagai kota di Indonesia agar nilai-nilai perjuangannya tetap dekat dengan masyarakat.
Dedikasi serta semangat pantang menyerah para pahlawan ini senantiasa diharapkan menjadi pijakan penting bagi Kawan GNFI untuk terus melangkah dan membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.
Bagi Kawan GNFI yang ingin terus memperluas wawasan dan menemukan ragam kisah menginspirasi lainnya, mulai dari ulasan sejarah, kekayaan budaya, hingga kabar baik terkini dari seluruh penjuru Indonesia, Yuk! jelajahi artikel-artikel menarik lainnya di Good News From Indonesia.
Temukan cerita positif dan inspirasi tanpa batas untuk terus mencintai serta membanggakan tanah air!


