Intiland Tower merupakan salah satu landmark perkantoran paling ikonik yang berdiri anggun di pusat kawasan bisnis atau daerah SCBD Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Dirancang pada era 1980-an, bangunan pencakar langit ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas komersial, melainkan juga menjadi simbol keberanian arsitektur yang mendobrak arus utama tata bangunan modern pada masa Orde Baru.
Di balik kemegahan fasadnya yang berkarakter kuat, gedung ini menyimpan jejak sejarah penting mengenai pencerahan arsitektur berorientasi lingkungan tropis di Asia Tenggara. Di tengah maraknya tren pembangunan gedung kotak kaca tertutup yang hemat lahan namun boros energi, pencakar langit ini membuktikan bahwa pengolahan unsur vernakular lokal mampu menghasilkan karya kelas dunia yang responsif terhadap iklim Indonesia.
Apa Itu Intiland Tower dan Lokasinya di Mana?
Intiland Tower adalah gedung perkantoran grade-A setinggi 23 lantai yang berlokasi strategis di Jalan Jenderal Sudirman No. 32, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berada tepat di koridor utama perkantoran ibu kota, gedung ini mudah diakses melalui moda transportasi publik modern seperti MRT Jakarta dan TransJakarta.
Gedung perkantoran ini difungsikan sebagai markas utama pengembang properti terkemuka, PT Intiland Development Tbk, sekaligus menyewakan ruang kantor bagi berbagai perusahaan nasional dan multinasional.
Dengan arsitektur yang unik, kehadirannya menjadi salah satu penanda visual (visual landmark) yang paling mudah dikenali di sepanjang jalur Sudirman berkat siluet bangunannya yang tidak seragam.
Sejarah Pembangunan Intiland Tower
Sejarah awal Intiland Tower bermula ketika gedung ini dibangun pada kurun waktu 1982 hingga selesai pada 1986 dengan nama awal Wisma Dharmala Sakti. Pembangunannya diprakarsai oleh grup usaha Dharmala untuk menghadirkan gedung kantor pusat yang representatif sekaligus ramah lingkungan.
Perancangan gedung ini mempertemukan visioner arsitek kenamaan asal Amerika Serikat, Paul Rudolph, dengan arsitek pendamping lokal dari PT Wisha Karya Utama.
Pada masa kejayaannya di era Orde Baru, Wisma Dharmala Sakti meraih berbagai apresiasi internasional dan sering dijuluki sebagai salah satu gedung perkantoran terbaik di Jakarta.
Nama gedung kemudian resmi berganti menjadi Intiland Tower pada tahun 2007 seiring dengan konsolidasi merek dan rebranding PT Dharmala Intiland Tbk menjadi PT Intiland Development Tbk.
Konsep Arsitektur Intiland Tower: Pelopor Gaya Tropis Modern
Konsep arsitektur Intiland Tower menjadi preseden penting dalam sejarah arsitektur Indonesia karena secara tegas menolak gaya internasional berupa "kotak kaca tertutup" (sealed glass box).
Paul Rudolph merancang bangunan ini dengan pendekatan Gaya Tropis Modern yang sangat memperhatikan pencahayaan dan sirkulasi udara alam.Beberapa keunggulan filosofi desain tropis pada bangunan ini meliputii:
- Tritisan dan Atap Miring: Menggunakan kanopi memanjang dan atap miring bersudut 45 derajat di setiap lantai yang berfungsi sebagai penangkal (shading) paparan sinar matahari langsung, sehingga beban pendingin udara (AC) dapat ditekan secara signifikan.
- Adaptasi Arsitektur Meru Bali: Bentuk bertumpuk ramping ke atas terinspirasi dari struktur atap Meru pada tempat ibadah di Bali dan rumah panggung tradisional Nusantara.
- Fasad Geometris Interaktif: Fasad gedung memiliki kedalaman visual dengan balkon bertingkat terbuka yang memungkinkan terbentuknya kantong-kantong tanaman hijau dan aliran angin alami.
Kehadiran Intiland Tower menjadi bukti nyata bahwa integrasi nilai kebudayaan lokal dan kesadaran lingkungan dapat menghasilkan peninggalan arsitektur yang tak lekang oleh waktu.
Kawan GNFI dapat melihat bagaimana warisan arsitektur Orde Baru ini tetap relevan sebagai inspirasi pembangunan berkelanjutan di era modern.
Mari perjelas wawasan Anda mengenai sejarah, warisan arsitektur, dan kekayaan kebudayaan Nusantara lainnya dengan terus memperbarui bacaan Anda di Good News From Indonesia!


