Bagi Gen Z, media sosial sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mulai dari tempat pamer pencapaian, curhat, sampai mendokumentasikan hidup.
Coba lihat media sosial Kawan. Kemungkinan besar, Kawan punya lebih dari satu akun, termasuk second account. Mengapa Gen Z betah punya akun kedua? Jawabannya bisa dipahami lewat teori dramaturgi.
Alasan Gen Z punya Second Account
Second account adalah akun tambahan untuk berbagi hal yang kurang cocok tampil di akun utama. Biasanya akunnya dikunci dan hanya diikuti orang terdekat.
Menjaga Privasi
Privasi jadi salah satu alasan terbesar. Karena diatur privat dan hanya dilihat orang terdekat, second account terasa jadi lebih personal.
Misalnya Kawan ingin update kegiatan secara real-time, tapi khawatir lokasi Kawan diketahui orang asing. Second account bisa jadi jalan aman.
Menjaga Personal Branding di Akun Utama
Wajar kalau kita ingin tampil dengan versi terbaik. Makanya akun utama sering diisi konten yang memperkuat personal branding.
Contohnya mahasiswa yang aktif lomba dan organisasi. Di akun utama, ia mengunggah prestasi supaya citra sebagai mahasiswa aktif terjaga. Di second account, ia bisa cerita sisi lainnya, seperti capeknya begadang demi prestasi itu.
Menurut artikel jurnal "Analisis Presentasi Diri Gen-Z pada Second Account Instagram dalam Perspektif Teori Dramaturgi," second account muncul sebagai respons terhadap kelelahan menghadapi standar estetika (aesthetic fatigue) dan context collapse, yaitu situasi ketika beragam audiens berkumpul dalam satu akun utama.
Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna membutuhkan ruang yang lebih terbatas untuk berbagi hal-hal yang tidak ingin mereka tampilkan kepada semua audiens. Di sinilah second account menjadi solusi.
Ingin Mengekspresikan Diri
Second account dibuat sebagai ruang untuk jadi diri sendiri. Di sini Kawan bisa membagikan hobi, bergabung dengan komunitas yang diminati, atau sekadar menceritakan kejadian lucu hari ini tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain. Karena pengikutnya lebih terbatas dan terdiri dari orang-orang yang dipercaya, suasananya terasa lebih aman dan santai.
Kawan juga dapat mengunggah konten yang lebih spontan, menunjukkan sisi diri yang jarang terlihat di akun utama, serta membicarakan minat atau pengalaman pribadi dengan lebih jujur. Intinya, second account memberi ruang untuk berekspresi secara lebih bebas tanpa harus selalu menyesuaikan diri dengan citra yang dibangun di akun utama.
Apa Itu Dramaturgi
Dramaturgi adalah teori sosiologi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman. Teori ini memandang kehidupan sosial seperti pertunjukan teater. Setiap manusia berperan sebagai aktor yang memainkan karakter tertentu di depan orang lain.
Goffman membagi panggung jadi dua:
- Front stage (panggung depan): area tempat seseorang tampil di depan penonton. Di sini, aktor menjaga sikap, penampilan, dan tata krama sesuai peran sosial yang diharapkan.
- Back stage (panggung belakang): area di balik layar tempat aktor bersantai dan melepas peran.
Melihat Second Account dalam Kacamata Dramaturgi
Lewat kacamata dramaturgi, akun utama adalah front stage, sedangkan second account merupakan bagian dari backstage seseorang.
Pada akun pertama, pengguna biasanya dituntut untuk tampil โsempurnaโ agar diterima. Citra yang ditampilkan adalah versi ideal dan positif dengan konten yang terkontrol, dan sering kali jadi personal branding.
Second account bisa dilihat sebagai panggung belakang versi digital. Orang cenderung merasa lebih bebas dari tuntutan sosial.
Fungsinya juga lebih dari sekadar tren. Bagi Gen Z, second account dapat menjadi cara untuk melindungi diri, mengambil kembali kendali atas narasi tentang diri mereka, menyediakan ruang untuk berekspresi secara autentik, dan menjaga kesehatan mental di tengah dunia digital yang serba terbuka.
Pernah tidak Kawan merasa jadi โaktorโ di satu platform, lalu jadi diri sendiri di platform lain? Kalau iya, itu wajar. Menurut Goffman, kita memang punya panggung depan dan panggung belakang. Second account hanya versi digitalnya.

