pakar ugm ungkap solusi pulihkan das rusak yang picu krisis air saat el nino - News | Good News From Indonesia 2026

Krisis Air Saat El Niño Ternyata Bisa Dicegah, Ahli Ungkap Kuncinya

Krisis Air Saat El Niño Ternyata Bisa Dicegah, Ahli Ungkap Kuncinya
images info

Daerah Aliran Sungai di desa kecil Indonesia | Foto: Wikimedia Commons | Karya: MrNamineSinten


Kekeringan saat El Niño terasa makin berat karena banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia kehilangan kemampuan menyimpan air hujan. El Niño sendiri adalah pemanasan suhu permukaan laut yang tidak biasa di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang di Indonesia biasanya membuat musim kemarau lebih kering dan panjang.

Begitu resapan di kawasan hulu rusak, cadangan air tanah cepat menipis ketika kemarau tiba. Pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai pemulihan DAS perlu berjalan seiring dengan bantuan air bersih bagi warga terdampak.

Neraca Air DAS & Alasan Wilayah Basah Ikut Kekeringan

Krisis air yang melanda sejumlah wilayah Jawa Barat memunculkan tanda tanya. Secara iklim, provinsi ini tergolong lebih basah daripada Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga curah hujannya semestinya lebih tinggi.

Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menyebut ada dua kemungkinan penyebabnya. Kebutuhan air bisa melampaui ketersediaan, atau sistem DAS memang sudah rusak. Penjelasan itu ia sampaikan pada Jumat, 25 September 2026.

Untuk membaca persoalan tersebut, Hatma memakai konsep neraca air, yakni keseimbangan antara air yang masuk, tersimpan, dan terpakai. Ia meringkasnya dengan lugas.

“Intinya mengelola DAS itu mengelola neraca air. Air itu kemudian akan dipergunakan untuk produktivitas, mulai dari kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, industri sampai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Prinsipnya sederhana. DAS bertutupan pohon yang baik menyerap hujan ke dalam tanah, lalu melepasnya sedikit demi sedikit ke mata air, sumur warga, dan aliran dasar sungai (baseflow). Pada DAS yang rusak, air hujan langsung meluncur ke sungai hingga laut. Banjir pun datang di musim hujan, sementara kemarau menyisakan kekeringan.

baca juga

Kolam yang mengering di Hallstatt dekat Bamberg | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Ermell, taken by Reinhold
info gambar

Kolam yang mengering di Hallstatt dekat Bamberg | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Ermell, taken by Reinhold


Alih Fungsi Lahan Hulu dan El Niño sebagai Kenormalan Baru

Tekanan terbesar, menurut Hatma, datang dari hulu. Kawasan yang mestinya menjadi daerah resapan kini terdesak permukiman dan kegiatan produksi. Ia menjelaskan akibatnya.

“Ketika fungsi resapan hilang maka tidak ada air hujan yang dapat ditahan dan ditampung dalam sistem DAS. Semua air itu jadi air permukaan kemudian mengalir ke sungai. Maka kondisi DAS di Pulau Jawa itu juga semakin lama semakin kritis,” jelasnya.

Temuan riset global menguatkan gambaran itu. Tinjauan sistematis atas 63 studi terbitan 2014-2024 yang dimuat di ResearchGate mencatat pengisian ulang air tanah turun rata-rata 14,6 ± 5,6 milimeter per tahun, terutama akibat perluasan kawasan perkotaan dan naiknya kebutuhan air pertanian. Variabilitas curah hujan yang meningkat diproyeksikan memangkas pengisian ulang hingga 60% pada 2100.

baca juga

Di tengah kondisi tersebut, Hatma mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap El Niño dan La Niña. Menurutnya, fenomena itu tak lagi layak dianggap kejadian langka.

“Kita harus memahami ini bukan sebagai sebuah anomali, tetapi memang ini adalah sebuah kenormalan baru dari iklim di dunia termasuk di Indonesia,” tuturnya.

Dampaknya merembet ke pertanian, pangan, kesehatan, ekonomi, sampai pendidikan. Dalam publikasi FAO, The State of the World's Land and Water Resources for Food and Agriculture (SOLAW), juga memuat data bahwa degradasi lahan dan tata air memperbesar kerentanan pertanian terhadap kekeringan meteorologis maupun hidrologis.

Solusi Pengelolaan DAS Berkelanjutan

Penanganan darurat tetap dibutuhkan, terutama bagi warga yang sudah kesulitan air. Hatma menyebut distribusi air bersih dengan mobil tangki sebagai solusi jangka pendek yang paling memungkinkan, sebab kebutuhan air bersifat mutlak. Untuk jangka panjang, ia menekankan pemulihan daerah resapan.

“Kalau ada fungsi resapan ya harus dipulihkan fungsi resapannya,” tegasnya.

Arah itu sejalan dengan rujukan sejumlah lembaga internasional. Program Manajemen Kekeringan Terpadu (Integrated Drought Management Programme) milik WMO mendorong peralihan dari penanganan darurat ke manajemen risiko proaktif lewat penguatan ekosistem DAS. Laporan Kelompok Kerja II IPCC menempatkan konservasi tanah dan air berbasis DAS sebagai bagian dari infrastruktur hijau (green infrastructure) untuk adaptasi sektor air.

Sumur resapan air tanah | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Tyo Satriany
info gambar

Sumur resapan air tanah | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Tyo Satriany


Wujudnya bisa berupa embung, waduk, sumur resapan, hingga panen air hujan (rain water harvesting) agar air meresap sebelum sisanya mengalir. Pedoman KLHK menekankan rehabilitasi lahan kritis di hulu untuk mengembalikan kapasitas infiltrasi tanah. Di Lombok Tengah, BBWS Nusa Tenggara I mengeruk sedimen sepanjang 300 meter di Saluran HLD Babak, Desa Bujak, agar aliran irigasi kembali lancar.

Kerja itu tak bisa dibebankan pada pemerintah saja. Hatma meminta petani, pengguna air, dan industri ikut menjaga kuantitas serta kualitas air, dari hemat air sampai tidak membuang sampah ke sungai. Di hulu DAS Jangkok, Lombok, warga membudidayakan lebah madu di 100 stup dengan pendapatan rata-rata Rp840.000 per orang dalam delapan bulan, di samping kopi dan porang, sebagaimana tercatat dalam prosiding seminar nasional di Malang.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
FN
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.