Lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang paling rentan karhutla karena api dapat menyebar di bawah permukaan tanah.
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang menumpuk selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, lapisan ini menyimpan banyak air sehingga tidak mudah terbakar.
Gambut juga menyimpan karbon dalam jumlah besar. Luasnya hanya sekitar 3 persen dari daratan bumi, tetapi kandungan karbonnya mencapai hampir 30 persen dari seluruh karbon tanah dunia.
Ekosistem gambut juga membantu menahan air, mengurangi risiko banjir, menyediakan sumber air, dan menjadi tempat hidup berbagai tumbuhan serta satwa.
Gambut tropis hanya mencakup sekitar 8 persen dari seluruh lahan gambut dunia. Sekitar 60 persen gambut tropis berada di Asia Tenggara. Indonesia sendiri memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. Luasnya mencapai 13,43 juta hektare yang tersebar di tiga pulau besar.
Sumatra memiliki sekitar 5,8 juta hektare gambut, Kalimantan memiliki 4,5 juta hektare, sedangkan Papua memiliki 3 juta hektare.
Luas dan kedalaman gambut berhubungan dengan jumlah karbon yang tersimpan. Gambut yang lebih dalam menyimpan karbon lebih banyak. Jika mengering atau terbakar, karbon tersebut dapat terlepas ke udara.
Pakar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB Dr Elham Sumarga menjelaskan gambut dalam kondisi alami sulit terbakar karena selalu basah.
βKetika lahan gambut tidak memiliki air lagi, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas,β ujar Elham.
Kanal yang dibuat untuk membuka akses atau mengembangkan budi daya dapat mengalirkan air keluar dari kawasan gambut. Lapisan organik kemudian mengering dan mudah terbakar.
Api di lahan gambut juga berbeda dari api di lahan biasa, yang tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat bergerak di bawah tanah secara perlahan. Karena itu, api bisa tetap menyala meski permukaan terlihat sudah padam. Bara di dalam tanah juga dapat memunculkan asap selama berhari-hari.
Kebakaran gambut ini menghasilkan asap yang mengandung partikulat halus, termasuk PM2.5. Asap tersebut dapat mengganggu sistem pernapasan dan aktivitas masyarakat.
Sekolah, layanan publik, kegiatan ekonomi, dan penerbangan dapat ikut terganggu ketika kabut asap menyebar. Asap juga dapat terbawa angin hingga ke wilayah lain atau melintasi batas negara.
Tak hanya itu, kebakaran merusak habitat satwa liar. Orangutan di Kalimantan, misalnya, dapat terjebak atau kehilangan ruang hidup ketika api meluas.
Kebakaran juga melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun. Emisi tersebut menambah gas rumah kaca di atmosfer.
Elham mengatakan pembasahan kembali atau rewetting dapat digunakan untuk memulihkan kondisi gambut. Penggunaan sekat kanal dapat diterapkan untuk menahan air agar tidak mengalir keluar dan menjaga lapisan gambut tetap lembap.
Pemulihan tersebut perlu berjalan bersama kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakter lahan basah. Paludikultur atau budi daya di lahan basah dapat menjadi pilihan.
Jelutung, sagu, dan purun merupakan contoh tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut tanpa harus mengeringkannya. Perikanan rawa juga dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat.
βKita harus mereplikasi kearifan lokal pertanian ramah gambut yang telah sukses berjalan. Ketika gambut tetap basah, warga mendapat panen ekonomi berkelanjutan,β kata Adib.
Sementara itu, guru Besar Antropologi Ekologi FISIP Universitas Airlangga Prof Muhammad Adib mengatakan karhutla di Kalimantan dapat berdampak hingga ke negara lain karena kabut asap tidak mengenal batas wilayah.
Menurut Adib, karhutla tidak hanya dipicu kekeringan atau fenomena iklim. Kerusakan ekosistem dan cara pengelolaan lahan juga berperan dalam memperbesar risiko kebakaran.
βKondisi ini bukan murni sebagai kutukan alam. El Nino hanyalah katalis kekeringan bentang alam. Sumbu utamanya bersifat antropogenik dan struktural,β tegas Adib.
Adib mengusulkan pengelolaan gambut berbasis tapak. Menurutnya, gambut perlu dipandang sebagai ruang hidup bersama yang pengelolaannya melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha.
Menurutnya, peneliti bisa menyediakan teknologi pembasahan gambut, pemerintah daerah memperkuat aturan dan penegakan hukum, sementara masyarakat mengelola tata air dan mengawasi kondisi lahan sehari-hari.
Β

