ikan rucah dianggap tak bernilai ternyata bisa jadi pakan ayam petelur kaya protein - News | Good News From Indonesia 2026

Ikan Rucah Dianggap Tak Bernilai, tapi Jadi Berkah bagi Peternak Ayam Petelur

Ikan Rucah Dianggap Tak Bernilai, tapi Jadi Berkah bagi Peternak Ayam Petelur
images info

Kumpulan Ikan Rucah | Wikimedia Commons | NOAA Fisheries


Ikan rucah kini mulai dikenalkan sebagai alternatif pakan kaya protein untuk ayam petelur kepada para peternak di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR), telah melakukan pendampingan kepada peternak lokal mengenai potensi ikan rucah di Aula Kantor Desa Tinombala Jaya, Kecamatan Ongka Malino.

Bagi Kawan GNFI yang belum familier, ikan rucah adalah ikan laut berukuran kecil yang kurang disukai konsumen dan tidak memiliki nilai komersial langsung. Ikan ini termasuk hasil tangkapan sampingan (by-catch), yakni spesies di luar target penangkapan utama.

Dalam jurnal IPTEKIN, Shinta Utiya Syah dan M. Subkhan Riza, mengungkapkan bahwa ikan rucah tercatat menyumbang 40,57% produksi perikanan tangkap pada 2013 di Kepulauan Meranti, Riau. Namun selama ini, potensi ekonomi ikan rucah belum tergarap optimal karena sebagian besar dibuang atau hanya dijual sangat murah dalam keadaan kering, yaitu sekitar Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilogram.

Oleh karena itu, pemanfaatan ikan rucah dinilai memiliki potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan.

Ketua TEP UNAIR Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Emy Koestanti Sabdoningrum, menyebutkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi potensi usaha ayam buras petelur di Kecamatan Ongka Malino dan mengidentifikasi potensi pemanfaatan ikan rucah yang ada di Desa Palapi, Kecamatan Taopa.

Hingga akhir Agustus 2026, TEP UNAIR fokus mendata kondisi lapangan, peternak, serta kelompok nelayan. Selain itu, mereka juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menyiapkan pelatihan pada September.

Sebagai langkah awal, ikan rucah kering mulai diformulasikan bersama jagung dan bekatul. Bahan-bahan ini sengaja dipilih karena seluruhnya merupakan komoditas lokal yang ketersediaannya melimpah di sekitar kawasan.

β€œPendampingan ini memberikan alternatif bagi peternak untuk memanfaatkan bahan baku lokal, seperti jagung, bekatul, dan ikan rucah kering. Sehingga, harapannya dapat mendukung efisiensi pakan dan menjaga produktivitas ayam secara berkelanjutan,” tutur Emy, sebagaimana dilansir dari UNAIR News.

baca juga

Ikan Rucah Diolah Jadi Tepung Ikan

Tepung ikan merupakan salah satu bahan baku terpenting sebagai sumber protein hewani dalam makanan ternak dan pakan ikan. Oleh karena itu, ikan rucah yang harganya ekonomis, dinilai berpotensi menjadi pengganti tepung ikan impor yang mahal.

Melihat peluang besar tersebut, program pendampingan dari TEP UNAIR ini sengaja memfokuskan kegiatannya pada pengolahan ikan rucah menjadi tepung ikan siap pakai. Langkah nyata ini diambil agar limbah sisa tangkapan laut yang tadinya tidak bernilai bisa disulap menjadi pakan berkualitas tinggi.

"Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan ikan rucah kering sebagai bahan baku tepung ikan yang berpotensi menjadi sumber protein dalam pakan," ujar Emy.

Dari hasil uji laboratorium PT Angler BioChemical Surabaya pada sampel ikan rucah ternyata punya kadar protein yang cukup tinggi, yaitu sebesar 55,8%. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), jumlah tersebut sudah masuk ke dalam kategori Mutu B.

Bahkan jika dilihat dari tingkat kesegaran (Total Volatile Base Nitrogen/TVB-N), kadar lemak, serta kadar abunya, sampel ikan rucah tersebut justru memenuhi kriteria Mutu A. Namun, kadar air dan kadar garamnya tercatat masih di atas standar mutu baku.

Hal ini terjadi karena proses pengolahan yang dilakukan di lapangan kemarin belum sepenuhnya mengikuti standar nasional.

Padahal, SNI sudah mengatur enam langkah mudah untuk menghasilkan tepung ikan dengan kualitas terbaik. Alur pengolahannya wajib dimulai secara runtut, dimulai dari proses pencucian, pemasakan (pengukusan atau perebusan), pengepresan, pengeringan, penggilingan, dan diakhiri dengan tahap pengayakan.

baca juga

Langkah Nyata Menuju Peternakan Mandiri

Pelatihan integrasi perikanan dan budidaya ayam petelur ini menjadi langkah nyata untuk membangun kemandirian kelompok ternak. Melalui program ini, para peternak bisa mendapatkan pengalaman langsung dalam membuat dan menerapkan pakan berbasis potensi lokal.

Tentu saja, dedikasi TEP UNAIR tidak berhenti sampai di sini. Ke depan, akan ada berbagai rencana tindak lanjut yang sudah disiapkan.

Mulai dari memantau respons dan produktivitas ayam petelur, mengevaluasi penggunaan pakan, hingga mendampingi manajemen pemeliharaan dan pengelolaan bisnisnya. Semua ini dilakukan agar usaha mandiri ini bisa terus berjalan dan berkembang dalam jangka panjang.

"Pengembangan pemanfaatan ikan rucah menjadi tepung ikan juga akan terus didorong. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber protein pakan lokal, meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, dan mendukung kemandirian kelompok nelayan secara berkelanjutan," tutup Emy.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
FN
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.