Ikan opudi menjadi salah satu harta karun yang mengisi ragam ekosistem perairan tawar di Pulau Sulawesi. Saat menyusuri Danau Matano, Kawan GNFI tidak hanya akan disuguhkan oleh perairan yang jernih, tetapi juga akan menjumpai kekayaan biodiversitas, mulai dari famili Clariidae hingga Gobiidae.
Sebagai satwa endemik, kehidupan spesies ikan opudi ini bergantung pada kondisi ekosistem perairan Danau Matano. Di danau ini, kita bisa menemukan berbagai jenisnya, salah satunya adalah jenis Telmatherina prognatha.
Mengingat persebaran wilayah hidupnya yang sangat terbatas, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik rasa ingin tahu kita. Namun, sebelum membahas lebih jauh soal perlindungannya, mari kita telusuri sebenarnya wujud ikan opudi ini kira-kira seperti apa, ya?
Mengenal Opudi, Ikan Endemik yang Menjadi Bagian dari Kekayaan Danau Matano

Contoh Spesies Telmatherina opudi, Ikan Endemik Danau Matano di Sulawesi | Herder et al dan Fishbase
Ada beberapa jenis opudi di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Meski begitu, Chadijah (2021) menjelaskan bahwa semua jenis ikan opudi di Danau Matano merupakan spesies endemik. Mereka termasuk ke dalam genus Telmatherina, sementara nama opudi sendiri merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat lokal.
Lebih dalam, sebenarnya terdapat sekitar 9 jenis ikan opudi di Danau Matano, di antaranya Telmatherina abendanoni, T. antoniae, T. bonti, T. celebensis, T. obscura, T. opudi, T. prognatha, T. sarasinorum, dan T. wahjui.
Meski begitu, literatur lain seperti milik IPB menggunakan nama ilmiah Telmatherina sarasinorum untuk menyebut ikan opudi. Dalam penelitian Chadijah, dkk. yang lain, ikan ini dirujuk dengan nama ilmiah Telmatherina prognatha.
Mengambil contoh dari spesies Telmatherina prognatha, ikan tipe sirip membulat (roundfins) ini menampilkan karakteristik fisik yang unik, di mana pejantannya memiliki polikromatisme atau keragaman warna yang mencolok. Ikan jantannya bisa memiliki warna morfologi kuning, biru, maupun perpaduan biru kekuningan, sedangkan ikan betinanya tampil sangat sederhana dengan satu warna yang tidak mencolok.
Secara ukuran, panjang tubuh ikan opudi Danau Matano ini benar-benar mungil. Hasil pengukuran Chadijah, dkk. mencatat bahwa rata-rata ikan jantan memiliki panjang total 36,46 hingga 64,09 mm, sementara yang betina berkisar antara 32,93 hingga 66,20 mm.
Menurut Sulawesi Keeper, ikan dengan warna dasar keperakan dengan sirip menyerupai layar ini dikenal memiliki pergerakan yang cepat, aktif, dan pola interaksi yang menarik.
Danau Matano, Satu-satunya Rumah bagi Opudi

Ikan Opudi (Telmatherina), Ikan Endemik di Danau Matano, Sulawesi yang Belum Masuk Daftar Fauna Dilindungi | IUCN Red List
Status sebagai ikan endemik Danau Matano bukan sekadar label geografi belaka, melainkan tanda bahwa alam menetapkan batas ruang hidup yang sangat sempit untuk para opudi ini.
Lembaga konservasi dunia IUCN juga mencatat bahwa spesies seperti Telmatherina sarasinorum dan Telmatherina prognatha hanya tersebar secara terbatas di ekosistem Danau Matano di Sulawesi Selatan saja.
Berbicara mengenai habitat ikan opudi, penelitian Nilawati et al. (2010) dan Chadijah et al.
(2018) menjelaskan bahwa kelompok ikan opudi menyebar luas menempati wilayah litoral atau perairan tepian danau. Mereka sangat menggemari area yang teduh, yang secara alami mendapat lindungan atau bayang-bayang dari rindangnya pohon dan bebatuan di sepanjang pinggiran danau.
Kondisi pinggiran yang asri ini bukan cuma tempat bermain bagi ikan Danau Matano, tetapi juga area pemijahan yang penting untuk keberlanjutan spesies mereka.
Dikutip dari laporan riset Institut Pertanian Bogor, kawasan seperti Sungai Lawa, Pantai Salonsa, Utuno, dan wilayah Tanah Merah diduga kuat menjadi lokasi pemijahan utama mereka. Meski mampu memijah sepanjang tahun, puncak musim kawin ikan opudi biasanya terjadi pada bulan April, Juli, September, dan Desember.
Larva Serangga di Dasar Danau Menjadi Santapannya
Dengan ukuran badan yang hanya berkisar 3-6 cm, lantas ikan opudi makan apa? Teka-teki perihal makanan ikan opudi ini terjawab melalui penelitian spesifik terhadap jenis Telmatherina sarasinorum yang dilakukan IPB. Ternyata, penganan utama mereka adalah larva serangga, dengan sesekali menyantap telur ikan atau nematoda (cacing gilig) sebagai asupan tambahan.
Pola makan tersebut menjadikan ikan khas Danau Matano ini tergolong sebagai jenis karnivora yang selektif. Mereka adalah satwa diurnal yang akan sibuk memburu mangsa di dasar perairan yang teduh saat siang hari.
Uniknya, kelangsungan hidup mereka diwarnai oleh persaingan yang kompetitif antara ikan jantan dan betina yang berebut asupan sumber pakan harian.
Dari Ikan Endemik hingga Status Konservasi, Bagaimana Nasib Opudi?
Beranjak ke isu yang lebih serius, status konservasi ikan opudi di era modern ini memicu keprihatinan. Dalam evaluasi terkininya, IUCN memasukkan jenis Telmatherina sarasinorum dan Telmatherina prognatha ke dalam daftar hewan berstatus Near Threatened (NT) atau Hampir Terancam. Walaupun label ini menunjukkan spesies mereka belum punah, IUCN juga mencatat tren penyusutan populasi yang sebenarnya memberi alarm bagi kita.
Ikan endemik Sulawesi ini mendapat tekanan di rumahnya sendiri. Penelitian Chadijah mencatat salah satu ancaman utamanya adalah kehadiran 16 ragam ikan asing pendatang, di mana spesies ikan louhan (flowerhorn) dari famili Cichlidae sangat mendominasi dan mengancam populasi ikan lokal di danau ini.
Masalah tak berhenti sampai di sana. Terjadinya alih fungsi lahan hijau di sepanjang bantaran danau dan pencemaran yang berasal dari daratan (land based pollution) ikut membuat ekosistem yang sangat mereka butuhkan ikut terganggu.
Lembaga penggiat lingkungan Sulawesi Keepers juga memperingatkan bahwa kualitas air kompleks Malili kian menurun. Kondisi ini semakin kritis lantaran hampir tidak ada inisiatif fasilitas ex situ (pelestarian di luar habitat) yang melindungi kelangsungan spesies ini.
Di samping itu, terpantau di situs resmi Kementerian Kehutanan, status ikan opudi sejauh ini belum terdaftar secara resmi ke dalam daftar satwa yang dilindungi oleh regulasi nasional.
Ketika Rumahnya Terbatas, Menjaga Ekosistem Danau Matano Berarti Menjaga Opudi
Situasi yang menimpa opudi menjadi cerminan realita bagaimana perlindungan spesies sangat bergantung erat pada pelestarian ekosistem asalnya. Tanpa vegetasi di tepian danau yang berfungsi sebagai peneduh alami, opudi akan kesulitan mencari area untuk makan, hidup, kawin , hingga berkembang biak.
Jika hutan pinggiran terus ditebang, kualitas air terus dibiarkan menurun, dan spesies ikan invasif terus dibiarkan merajalela, barangkali kita tinggal menunggu waktu sebelum ikan endemik yang istimewa ini kelak menghilang dari peradaban.
Merawat biodiversitas perairan Indonesia tidak boleh hanya terfokus pada fauna besar di lautan semata. Memastikan ikan sekecil opudi bisa terus berenang di tepian berbatu Danau Matano, pada dasarnya adalah upaya bermakna dalam mempertahankan keutuhan alam Nusantara. Dengan ini, paling tidak kita bisa menyisakan sedikit warisan untuk dilihat oleh anak cucu kita kelak di masa depan.
Tertarik dengan pesona keanekaragaman Nusantara? Masih ada banyak kisah satwa memukau di luar sana yang menunggu untuk Kawan GNFI selami!
Terus perluas wawasan alam dan lingkungan melalui kumpulan artikel informatif di laman Good News From Indonesia. Yuk, sama-sama kita menjaga dan membagikan pesona alam Nusantara!


