kalau garam harus dikurangi bisakah tetap makan enak mengenal inovasi garam rendah natrium - News | Good News From Indonesia 2026

Kalau Garam Harus Dikurangi, Bisakah Tetap Makan Enak? Mengenal Inovasi Garam Rendah Natrium

Kalau Garam Harus Dikurangi, Bisakah Tetap Makan Enak? Mengenal Inovasi Garam Rendah Natrium
images info

Foto oleh Emmy Smith di Unsplash


Ada satu benda kecil yang hampir selalu berada di dapur, tetapi bisa menjadi persoalan ketika tekanan darah mulai naik: garam.

Masalahnya, mengurangi garam bukan perkara sederhana. Bagi banyak orang, garam bukan sekadar bahan tambahan, melainkan bagian dari rasa makanan sehari-hari.

Masakan tanpa rasa asin terasa hambar, sementara konsumsi natrium berlebihan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. Lantas, mungkinkah teknologi membuat kita tetap mendapatkan rasa asin dengan natrium yang lebih rendah?

Ketika Rasa Asin Harus Berkompromi dengan Tekanan Darah

Hipertensi bukan lagi persoalan yang hanya identik dengan usia lanjut. Kompas.com melaporkan berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk Indonesia berusia lebih dari 18 tahun mencapai 30,8 persen.

baca juga

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah asupan natrium.

Yang sering disebut sebagai “garam” dalam percakapan sehari-hari sebenarnya merupakan natrium klorida. Namun, natrium tidak hanya datang dari garam yang ditaburkan menggunakan sendok. Ia juga dapat ditemukan dalam berbagai makanan olahan, penyedap, saus, dan bahan pangan lainnya.

Kompas.com menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan hipertensi bukan hanya garam dapur, tetapi keseluruhan asupan sodium atau natrium. Mengurangi garam pun tidak otomatis menyelesaikan hipertensi karena pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan tetap berpengaruh. Di sinilah inovasi garam rendah natrium menarik perhatian.

Garam Dikurangi, tetapi Rasa Asin Tidak Harus Hilang

Garam rendah natrium atau lower-sodium salt substitute bekerja dengan mengurangi sebagian kandungan natrium dalam garam biasa. Salah satu pendekatan yang banyak diteliti adalah mengganti sebagian natrium klorida dengan kalium klorida. Dengan cara tersebut, rasa asin tetap dapat dipertahankan, sementara jumlah natrium yang dikonsumsi bisa ditekan.

WHO dalam pedoman 2025 menyebut pengganti garam rendah natrium sebagai salah satu strategi yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi asupan natrium dan risiko hipertensi. Namun, rekomendasi tersebut tidak berlaku untuk semua orang, terutama individu dengan gangguan ginjal atau kondisi tertentu yang membuat tubuh kesulitan membuang kalium.

Artinya, teknologi ini bukan berarti “garam bebas risiko”. Ia lebih tepat dilihat sebagai upaya mengubah komposisi garam agar konsumsi natrium dapat dikurangi.

Dari Rumput Laut Indonesia Lahir Garam Gamy

Menariknya, inovasi serupa tidak hanya datang dari laboratorium luar negeri. Indonesia memiliki Garam Gamy, inovasi yang dikembangkan peneliti IPB University dengan bahan baku utama rumput laut tropis Indonesia.

Kompas.com melaporkan bahwa Garam Gamy memiliki kandungan natrium relatif lebih rendah, dengan sebagian natrium digantikan oleh kalium. Produk tersebut tetap dirancang memiliki rasa asin dan bahkan memberikan sensasi umami.

baca juga

Penjelasan dari IPB University menyebut Garam Gamy dibuat menggunakan rumput laut cokelat, hijau, dan merah. Produk tersebut dikembangkan untuk konsumen yang sedang menerapkan diet rendah garam, termasuk penderita hipertensi, sekaligus tetap mempertahankan cita rasa makanan.

Ada hal lain yang membuat inovasi ini menarik.

Rumput laut tidak hanya diposisikan sebagai bahan baku alternatif. Dalam pengembangan Garam Gamy, hasil samping produksinya juga disebut dapat dimanfaatkan kembali sehingga konsep produksinya diarahkan menuju zero waste. Dengan kata lain, inovasi ini mempertemukan tiga hal sekaligus: pangan, kesehatan, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Apakah Garam Rendah Natrium Berarti Bebas Menabur Garam?

Jawabannya: tentu tidak. Ini bagian yang sering luput ketika sebuah inovasi kesehatan diperkenalkan. Pengganti garam rendah natrium tetap digunakan untuk membantu mengurangi asupan natrium, bukan sebagai alasan untuk mengonsumsi garam tanpa batas.

Tinjauan Cochrane terhadap 26 uji klinis yang melibatkan lebih dari 34.000 orang dewasa menemukan bahwa pengganti garam rendah natrium kemungkinan dapat sedikit menurunkan tekanan darah dan beberapa risiko kardiovaskular dibandingkan garam biasa. Namun, penggunaan produk tersebut juga dapat meningkatkan kadar kalium darah, sehingga tidak cocok untuk kelompok tertentu, termasuk orang dengan gangguan fungsi ginjal. Karena itu, kata “rendah natrium” tidak seharusnya diterjemahkan menjadi “sebebasnya”.

Tantangannya Bukan Cuma Teknologi, tetapi Kebiasaan

Membuat garam rendah natrium mungkin merupakan persoalan teknologi pangan. Membuat masyarakat menggunakannya secara tepat adalah persoalan yang berbeda.

Harga menjadi salah satu pertimbangannya. Penelitian di IPB University mengenai kesediaan konsumen membayar Garam Gamy menemukan bahwa produk tersebut memiliki harga lebih tinggi dibandingkan beberapa garam rendah natrium lainnya. Studi itu meneliti 103 responden di Jabodetabek berusia 30 tahun ke atas yang memiliki riwayat atau risiko hipertensi.

Artinya, inovasi kesehatan tidak cukup hanya “bisa dibuat”. Ia juga harus terjangkau, mudah ditemukan, memiliki informasi yang jelas, dan diterima lidah masyarakat.

baca juga

Regulasi pun menjadi bagian penting. BPOM telah memiliki ketentuan mengenai informasi nilai gizi dan klaim pada label pangan olahan, termasuk informasi mengenai natrium. Dengan informasi tersebut, konsumen memiliki dasar yang lebih jelas untuk membandingkan produk.

Pada akhirnya, masa depan garam rendah natrium bukan tentang mengganti garam biasa secara ajaib. Persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: bisakah kita mengurangi natrium tanpa merasa sedang kehilangan kenikmatan makan?

Sebab teknologi pangan yang baik bukan hanya yang mampu mengubah sebuah produk di laboratorium. Teknologi yang benar-benar terasa manfaatnya adalah teknologi yang akhirnya bisa berpindah dari laboratorium ke meja makan—tanpa membuat masyarakat merasa sedang dihukum karena ingin hidup lebih sehat.

Mungkin, di masa depan, menjaga tekanan darah tidak selalu dimulai dengan pertanyaan, “Bolehkah saya makan asin?” Bisa jadi pertanyaannya berubah menjadi: “Bagaimana caranya tetap menikmati rasa, dengan lebih sedikit natrium?”

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.