Di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, terdapat sebuah kompleks memorial yang berkaitan dengan sejarah Indonesia pada 1965, bernama Monumen Pancasila Sakti.
Kawasan ini dibangun untuk mengenang tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Menariknya, Monumen Pancasila Sakti bukan hanya berupa satu monumen, tetapi juga terdiri dari sejumlah bangunan dan lokasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Lalu, sebenarnya apa itu Monumen Pancasila Sakti, mengapa dibangun, dan apa saja yang bisa dilihat ketika berkunjung? Yuk, simak pembahasan lengkapnya ya, Kawan GNFI!
Apa Itu Monumen Pancasila Sakti?
Monumen Pancasila Sakti merupakan kompleks memorial dan museum yang berada di Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Kawasan ini berkaitan dengan peristiwa G30S 1965 dan dibangun untuk mengenang tujuh pahlawan revolusi.
Monumen Pancasila Sakti bukan hanya berupa patung yang menjadi ikon kawasan. Di dalam kompleksnya terdapat sejumlah bagian yang berkaitan dengan sejarah peristiwa tersebut, seperti monumen utama, Sumur Lubang Buaya, museum, diorama, serta beberapa rumah bersejarah.
Salah satu museum yang berada di kawasan ini adalah Museum Pengkhianatan PKI. Selain itu, terdapat Museum Diorama Paseban yang menyajikan diorama dan berbagai benda bersejarah. Karena itu, Monumen Pancasila Sakti dapat dipahami sebagai sebuah kawasan memorial yang terdiri dari beberapa objek, bukan hanya satu bangunan.
Kawasan ini kini menjadi salah satu tempat untuk mengenal sejarah Indonesia, khususnya peristiwa 1965 dan kisah tujuh Pahlawan Revolusi.
Dari Peristiwa 1965 hingga Berdirinya Monumen Pancasila Sakti
Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965 menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya Monumen Pancasila Sakti. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah perwira angkatan darat diculik dan kemudian ditemukan meninggal di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tujuh orang yang gugur kemudian ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan revolusi.
Kawasan Lubang Buaya kemudian memiliki kaitan erat dengan peristiwa tersebut karena menjadi lokasi ditemukannya jenazah para perwira. Sumur tersebut kini menjadi salah satu bagian dari Kompleks Monumen Pancasila Sakti dan dipertahankan sebagai situs memorial.
Setelah peristiwa 1965, pemerintah mulai membangun narasi peringatan yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan upaya mempertahankan Pancasila. Salah satu bentuknya adalah penetapan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967. Dalam keputusan tersebut, peristiwa G30S disebut sebagai upaya yang hendak menghancurkan Pancasila.
Dalam penjelasan resmi Pusat Sejarah TNI, gagasan pembangunan Monumen Pancasila Sakti datang dari Jenderal TNI Soeharto yang saat itu menjabat menteri/panglima angkatan darat. Monumen tersebut dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati pahlawan revolusi sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya komunisme menurut narasi pemerintah pada masa itu.
Pembangunan monumen dimulai pada pertengahan Agustus 1967 di atas lahan seluas 14,6 hektare. Kompleks tersebut kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1973, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi kompleks sejarah yang terdiri dari beberapa bagian. Selain monumen utama dan sumur, terdapat Museum Diorama Paseban yang menyajikan sembilan diorama serta tiga rumah bersejarah. Kemudian dibangun pula Museum Pengkhianatan PKI yang diresmikan pada 1 Oktober 1992 dan menyajikan 34 diorama mengenai peristiwa yang dalam narasi museum dikaitkan dengan PKI.
Hal-Hal yang Bisa Dilihat di Kompleks Monumen Pancasila Sakti
Berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, Kawan GNFI tidak hanya akan menemukan satu monumen. Kompleks ini memiliki sejumlah objek yang berkaitan dengan peristiwa 1965 dan sejarah tujuh pahlawan revolusi.
Salah satu yang utama adalah Monumen Pancasila Sakti. Di bagian ini terdapat patung tujuh pahlawan revolusi yang menjadi bagian dari memorial kawasan.
Tidak jauh dari monumen terdapat Sumur Lubang Buaya, lokasi yang disebut sebagai tempat ditemukannya jenazah tujuh pahlawan revolusi. Sumur tersebut kini dilengkapi cungkup dan menjadi salah satu bagian penting dari kawasan memorial.
Pengunjung juga dapat melihat Museum Pengkhianatan PKI. Museum ini menyajikan 34 diorama tiga dimensi yang menggambarkan berbagai peristiwa yang dalam narasi museum dikaitkan dengan PKI.
Selain itu, ada Museum Monumen Pancasila Sakti atau Museum Diorama Paseban yang memiliki sembilan diorama. Diorama tersebut menampilkan rangkaian peristiwa mulai dari persiapan pemberontakan hingga tindak lanjut pelarangan PKI oleh pemerintah.
Kompleks ini juga memiliki tiga rumah bersejarah, yaitu rumah penyiksaan, rumah pos komando, dan dapur umum. Ketiganya disebut Pusat Sejarah TNI sebagai bangunan yang pernah digunakan dalam rangkaian peristiwa di kawasan Lubang Buaya.
Benda-benda sejarah juga menjadi bagian dari koleksi kawasan. Di ruang relik, misalnya, terdapat pakaian asli milik tujuh pahlawan revolusi. Sementara di area taman terdapat sejumlah kendaraan, termasuk Panser Saraceen, replika truk Dodge, Jeep Toyota Kanvas, serta kendaraan dinas yang dikaitkan dengan beberapa tokoh militer.
Informasi tentang Tiket hingga Jam Buka
Monumen Pancasila Sakti berada di Jl. Raya Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, 13810. Lokasi ini juga tercatat dalam data wisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Untuk kunjungan reguler, Monumen Pancasila Sakti buka Selasa—Minggu pukul 08.00—15.30 WIB. Tiket masuk untuk pengunjung umum atau dewasa sebesar Rp5.000, sedangkan pelajar dan mahasiswa Rp3.000.
Namun, ada penyesuaian jadwal pada akhir September dan awal Oktober 2026. Monumen Pancasila Sakti ditutup sementara pada 25 September—1 Oktober 2026 untuk persiapan Upacara Hari Kesaktian Pancasila. Pengunjung dapat kembali datang mulai 2 Oktober 2026.
Selain area memorial dan museum, Kompleks Monumen Pancasila Sakti juga menyediakan sejumlah fasilitas untuk pengunjung. Tersedia lapangan parkir bawah yang dapat digunakan berbagai jenis kendaraan, seperti bus, mobil, dan motor. Sementara itu, parkir atas diperuntukkan bagi tamu khusus.
Pengunjung yang datang secara perorangan maupun rombongan juga dapat menggunakan jasa pemandu berbahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan menghubungi bagian informasi di Gedung Paseban.
Beberapa fasilitas lain yang tersedia di kawasan ini antara lain pendopo untuk tempat beristirahat, toko suvenir, kantin umum, ruang teater berkapasitas sekitar 200 orang, serta Mushola An Nur yang dapat digunakan pengunjung. Kompleks ini juga memiliki poliklinik sebagai fasilitas kesehatan bagi pengunjung.
Mengapa Monumen Pancasila Sakti Masih Sering Dikunjungi?
Monumen Pancasila Sakti masih menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi untuk mengenal bagian penting dari sejarah Indonesia, khususnya peristiwa yang terjadi pada 1965. Kawasan ini tidak hanya menyimpan monumen, tetapi juga museum, diorama, benda koleksi, dan sejumlah situs yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Bagi generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa 1965, kunjungan ke kawasan ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah melalui peninggalan dan dokumentasi yang tersedia.


