jakarta masih kalah kaki dari kl bangkok tokyo dan istanbul - News | Good News From Indonesia 2026

Jakarta Masih Kalah Kaki dari KL, Bangkok, Tokyo, dan Istanbul

Jakarta Masih Kalah Kaki dari KL, Bangkok, Tokyo, dan Istanbul
images info

Ilustrasi | dibuat dengan bantuan gemini AI dan Canva


Malam itu saya di Bukit Bintang. Jam sudah lewat pukul sepuluh di Sabtu malam minggu. 

Bagi yang belum pernah ke sana, Bukit Bintang adalah kawasan belanja dan hiburan di jantung Kuala Lumpur yang tak pernah sepi dari wisatawan. Mal-mal besar berjajar di sepanjang Jalan Bukit Bintang: Pavilion, Lot 10, dan lainnya. Satu blok di belakangnya ada Jalan Alor, jalan kuliner yang setiap malam dipenuhi meja plastik dan asap sate. Stasiun monorel dan MRT juga ada di kawasan itu.

Kira-kira seperti Blok M, Sarinah, dan Pecenongan dijadikan satu, lalu diberi trotoar yang layak.

Tanpa tukang parkir liar. Tanpa sampah berserakan. Dan hampir tanpa perokok yang asal merokok di tengah orang lewat.

Malam itu jalanan masih ramai. Orang berjalan kaki di mana-mana. Ada yang bercelana pendek sambil menenteng es kopi. Ada keluarga dari Timur Tengah yang mendorong kereta bayi. Ada anak muda Eropa yang memanggul ransel sebesar kulkas kecil. Ada juga turis-turis Indonesia yang asik berfoto-foto sambil berjalan. 

Saya ikut berjalan. Dari Pavilion ke Jalan Alor, lalu kembali ke arah stasiun. Tidak perlu taksi atau ojek, dan tidak ada genangan air yang harus dilompati. Tak perlu menutup hidung karena bau sampah. 

Di situ saya bertanya dalam hati: kenapa Jakarta belum bisa seperti ini ya?

Lalu muncul pertanyaan berikutnya. Jangan-jangan itu cuma perasaan saya. Jakarta juga ramai. Mal di Jakarta juga penuh. Apakah Kuala Lumpur memang jauh lebih laku di mata wisatawan mancanegara?

Ternyata iya. Jaraknya bahkan jauh sekali. 

Sepanjang 2025 Kuala Lumpur kedatangan 17,3 juta wisatawan internasional. Itu hitungan Euromonitor International, lembaga riset pasar yang bermarkas di London. Dengan angka itu KL masuk sepuluh besar kota yang paling banyak didatangi wisman di dunia, persisnya di urutan kesepuluh.

Malaysia secara keseluruhan juga sedang bagus-bagusnya. Pemerintahnya mencatat 42,2 juta pengunjung dari luar negeri pada 2025. Angka itu memang ikut menghitung orang yang datang dan pulang di hari yang sama, banyak di antaranya dari Singapura. Dengan cara hitung itu Malaysia menyalip Thailand, yang tahun lalu justru turun ke 32,97 juta kedatangan.

Tiga kota lain di judul tulisan ini juga ada di daftar Euromonitor.

Bangkok tetap nomor satu dunia dengan 30,3 juta kedatangan internasional. Istanbul di urutan kelima, 19,7 juta. Tokyo tidak masuk hitungan jumlah kedatangan versi itu, tetapi berada di peringkat ketiga dunia dalam indeks daya tarik kota yang disusun lembaga yang sama. Di Asia, Tokyo nomor satu.

Lalu Jakarta? Menurut BPS DKI Jakarta, sepanjang 2024 wisman yang datang ke Jakarta tercatat sekitar 2,5 juta kunjungan.

Cara menghitung BPS dan Euromonitor memang tidak sama. Tapi selisihnya terlalu jauh untuk dianggap sekadar soal metode.

Indonesia sendiri kedatangan 15,39 juta kunjungan wisman sepanjang 2025, menurut BPS. Pintu masuk utamanya tetap Bandara Ngurah Rai di Bali.

Jakarta punya pola yang berbeda. Banyak tamu dari luar negeri datang ke sini untuk urusan kerja: rapat, pameran, konferensi, atau mengunjungi kantor cabang perusahaannya. BPS sendiri pernah menyebut bahwa status Jakarta sebagai pusat bisnis menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman.

Pebisnis itu biasanya datang dengan agenda padat. Selesai rapat, mereka kembali ke hotel. Kalau ada waktu luang, sebagian memilih terbang ke Bali. Yang datang untuk berlibur pun tidak jauh berbeda. Bagi sebagian dari mereka, Jakarta hanya tempat singgah sebelum lanjut ke Denpasar atau Labuan Bajo.

Artinya, tamu mancanegara sebenarnya sudah datang ke Jakarta. Yang belum ada adalah alasan bagi mereka untuk keluar dari hotel dan tinggal lebih lama.

Padahal modalnya ada. Kota Tua ada. Museum ada. Kulinernya luar biasa, dari soto betawi sampai restoran yang koki-kokinya pernah bekerja di Eropa. Mal kelas dunia pun banyak. Konser musik, pertujukan seni, museum-museum keren, banyak juga. 

Yang kurang adalah sesuatu yang kelihatannya sepele: jalan kaki. 

Di urusan itulah Jakarta masih kalah. Kalah kaki.

Kota yang dijalani

Coba perhatikan empat kota ini satu per satu.

Kuala Lumpur punya jalur pejalan kaki layang yang menghubungkan kawasan KLCC, tempat Menara Petronas berdiri, dengan Bukit Bintang. Jalur itu dibuka pada 2012. Biayanya RM100 juta, ditanggung Petronas. Bagian layangnya membentang sekitar 562 meter di atas tiga jalan raya, lebarnya lima meter, dan seluruhnya berpendingin udara.

Kalau disambung dengan lorong dan terowongan di ujung-ujungnya, orang bisa berjalan sekitar berkilometer dari Menara Petronas sampai Pavilion. Tidak perlu menyeberang jalan, dan tidak kepanasan atau kehujanan.

Jalur itu juga tersambung ke stasiun. Dari Bukit Bintang orang bisa naik monorel di stasiun Raja Chulan. Dari sisi KLCC ada stasiun LRT. Turun dari kereta, orang bisa langsung berjalan tanpa keluar ke jalan raya.

Malam hari jalurnya tetap terang. Lantainya bersih, dan tidak ada bau got yang menyengat. Petugas keamanan berjaga di beberapa titik.

Istanbul lain lagi. Istiklal Caddesi adalah jalan panjang yang ditutup untuk mobil. Di tengahnya hanya ada trem tua berwarna merah yang berjalan pelan. Kiri kanannya toko buku, gerobak simit, gereja tua, bioskop, dan toko musik.

Kedua ujungnya tersambung ke kereta. Di satu ujung ada Lapangan Taksim dengan stasiun metronya. Di ujung lain ada Tünel, kereta kabel bawah tanah yang sudah beroperasi sejak 1875. Orang bisa datang dari arah mana saja, lalu menyusuri Istiklal dengan berjalan kaki.

Dari pagi sampai tengah malam jalan itu dipenuhi orang. Lampu toko dan kafe membuatnya tetap terang setelah matahari terbenam. Memang tetap ada copet, seperti di kawasan ramai di kota besar mana pun. Tetapi keramaian itu sendiri membuat banyak orang merasa tenang berjalan malam hari.

Di sisi lain kota ada Sultanahmet. Hagia Sophia, Masjid Biru, dan Grand Bazaar letaknya berdekatan. Wisatawan cukup turun di halte trem Sultanahmet, lalu bisa berjalan kaki seharian.

Tokyo mungkin contoh yang paling sering disebut orang. Shibuya, Shinjuku, Asakusa, Ginza. Semuanya tersambung oleh kereta yang jadwalnya bisa dipakai untuk mencocokkan jam tangan. Keluar dari stasiun, trotoarnya lebar dan bersih, dan suasananya tenang meskipun jumlah orangnya luar biasa banyak.

Ada satu hal yang sering membuat wisatawan heran. Tempat sampah umum di Tokyo sangat sedikit. Sebagian besar ditarik setelah serangan gas sarin di kereta bawah tanah pada 1995. Tetapi jalanannya tetap bersih, karena orang terbiasa membawa pulang sampahnya sendiri.

Malam hari Tokyo tetap terang. Minimarket buka 24 jam di hampir setiap sudut. Pos polisi kecil yang disebut koban tersebar di banyak lingkungan, tempat orang bisa bertanya arah atau melapor barang hilang.

Cerita yang sering dibawa pulang wisatawan dari Tokyo justru soal hal kecil. Dompet yang tertinggal di kereta kembali utuh. Anak sekolah dasar naik kereta sendirian. Perempuan pulang dini hari dengan berjalan kaki, dan tidak ada yang menganggapnya aneh.

Lalu Bangkok. Kota ini menarik dijadikan contoh justru karena ia tidak sempurna.

Trotoar Bangkok tidak selalu rapi. Banyak yang sempit, penuh pedagang, dan naik turun seperti jalan desa. Di beberapa ruas, bau got masih tercium. Tetapi Bangkok punya BTS dan MRT yang menjangkau kawasan wisata utamanya. Turun di stasiun Siam, Asok, atau Sala Daeng, destinasinya sudah dekat.

Di kawasan Siam dan Ratchaprasong, stasiun BTS bahkan tersambung langsung ke mal-mal lewat jembatan layang pejalan kaki. Orang bisa berpindah dari satu pusat belanja ke pusat belanja lain tanpa turun ke jalan. Malam harinya kawasan itu terang dan ramai.

Dengan segala kekurangannya, Bangkok tetap menjadi kota yang paling banyak didatangi wisman di dunia.

Artinya, trotoar tidak harus sempurna. Yang lebih menentukan adalah kawasan-kawasan itu tersambung ke stasiun, terang di malam hari, dan membuat orang merasa aman berjalan kaki.

Di luar empat kota itu polanya sama. Singapura punya Orchard Road, Hanoi punya Old Quarter yang semrawut tapi hidup, dan New York punya Times Square.

Wisatawan datang, lalu berjalan. Sambil melihat-lihat, mereka masuk ke toko, duduk di kafe, lalu berjalan lagi.

Setiap langkah itu bernilai uang.

Uang Ada di Trotoar

Wisman tidak membelanjakan uangnya di dalam mobil yang terjebak macet.

Mereka membelanjakannya ketika berjalan. Di warung kecil, di toko suvenir, di kedai kopi yang sebelumnya tidak ada dalam rencana. Atau di tempat pijat refleksi yang menawarkan jasa di pinggir jalan.

Makin lama mereka berjalan, makin banyak yang mereka beli. Makin nyaman jalannya, makin betah mereka.

Karena itu kawasan yang enak dijalani adalah mesin ekonomi. Yang menikmati hasilnya juga tidak hanya hotel besar dan mal. Pemilik kedai, pedagang kecil, dan pengemudi ojek di ujung kawasan ikut kebagian.

Bandingkan dengan wisman yang datang ke Jakarta. Dari hotel naik taksi ke mal. Dari mal naik taksi lagi ke restoran. Lalu kembali ke hotel. Uangnya berputar di tempat yang itu-itu saja.

Lalu apa syaratnya agar sebuah kota bisa dijalani?

Trotoarnya harus lebar dan bersih. Tidak berlubang, tidak dipakai parkir motor, dan tidak tiba-tiba putus lalu menyisakan got terbuka.

Kawasan-kawasan wisatanya juga harus dihubungkan oleh kereta. Wisman tidak mau menawar tarif dengan bahasa isyarat. Mereka juga tidak mau terjebak macet dua jam hanya untuk berpindah dari hotel ke museum.

Syarat terakhir, dan ini yang paling sulit, adalah rasa aman.

Soal Rasa Aman

Rasa aman itu punya banyak lapisan.

Yang paling jelas, aman dari copet dan penipuan. Tapi ada juga yang sering dilupakan: tidak disambar motor yang tiba-tiba naik ke trotoar dari belakang, bisa menyeberang jalan tanpa berdebar, dan bagi perempuan, bisa berjalan sendirian pada malam hari. Trotor berlubang pun tak ada. 

Wisman biasanya tidak mengukur keamanan dengan statistik kriminal. Mereka mengukurnya dengan perasaan. Apakah ada orang lain yang berjalan? Apakah jalannya terang? Apakah ada petugas yang terlihat?

Di Bukit Bintang malam itu, jawabannya ya untuk semua pertanyaan tersebut.

Padahal kawasan itu tidak selalu begitu. Jalur antara KLCC dan Bukit Bintang dulu dikenal rawan copet yang mengincar turis. Jalur layang tadi adalah salah satu jawabannya.

Artinya rasa aman bisa dibangun. Caranya tidak hanya dengan menambah patroli, tetapi juga dengan merancang ruang yang membuat orang merasa tenang.

Di banyak sudut Jakarta setelah pukul sembilan malam, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi belum ya.

Rasa aman juga menular lewat cerita. Satu video turis yang kena tipu sopir taksi bisa ditonton jutaan kali. Video turis yang santai berjalan malam hari di sebuah kota juga bisa ditonton jutaan kali. Keduanya membentuk citra kota, dan citra itulah yang menentukan ke mana orang membeli tiket pesawat.

Jakarta sebenarnya sudah mulai

Saya tidak mau terlalu keras pada Jakarta. Kemajuannya nyata kok.

Trotoar Sudirman-Thamrin-Kuningan sekarang lebar. Pada pagi hari banyak orang berlari di sana. MRT bersih, tepat waktu, dan dingin. Dukuh Atas sudah menjadi simpul yang ramai. Blok M hidup kembali, dan anak-anak muda nongkrong di sekitar stasiunnya sampai larut malam.

Ada juga LRT, KRL, dan Transjakarta yang jaringannya makin luas. Lima belas tahun lalu semua itu sulit dibayangkan.

Kabar baik lainnya, MRT sedang diperpanjang dari Bundaran HI ke arah Kota. Kalau jalur itu jadi, Kota Tua akan tersambung langsung dengan kawasan Sudirman. Seorang wisman bisa sarapan di Blok M, naik kereta, lalu siangnya berjalan kaki di Kota Tua dan Glodok.

Itu kesempatan besar, dengan satu syarat: kawasan di sekitar stasiunnya ikut dibenahi.

Masalah Jakarta saat ini, yang rapi masih berupa pulau-pulau kecil. Rapi di satu ruas, berantakan di ruas berikutnya.

Seorang wisman bisa menikmati Bundaran HI. Lalu ia ingin ke Pasar Baru dengan berjalan kaki dari stasiun, dan ceritanya berubah. Trotoar menyempit. Motor muncul dari arah berlawanan. Menyeberang jalan terasa seperti ujian nyali.

Wisman yang mengalami itu tidak akan marah. Ia hanya tidak akan kembali, lalu bercerita kepada teman-temannya.

Belum lagi soal panas. Jakarta itu terik. Kuala Lumpur juga, tetapi di sana banyak jalur pejalan kaki yang beratap dan tersambung ke mal serta stasiun. Jakarta bisa meniru itu. Jakarta punya pohon, punya gedung, dan punya uang.

Momentum setelah tidak jadi ibu kota

Ada satu hal lagi yang membuat urusan ini makin mendesak.

Jakarta kini (seharusnya sudah) tidak lagi berstatus ibu kota negara. Undang-undang tentang Daerah Khusus Jakarta menempatkan kota ini sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global.

Kota global itu apa? Salah satu cirinya, orang dari seluruh dunia mau datang, entah untuk berbisnis, menghadiri konferensi, atau berlibur.

Pebisnis mancanegara yang datang ke Jakarta untuk rapat sering punya waktu luang di sela agenda. Kalau kotanya enak dijalani, waktu luang itu dipakai untuk menjelajah. Kalau tidak, mereka diam di hotel, atau langsung terbang ke Bali.

Kuala Lumpur, Bangkok, dan Istanbul sudah lama memanfaatkan pola itu. Siang hari konferensi, malamnya berjalan-jalan di kawasan yang ramai. Tamu yang puas akan datang lagi, kali ini bersama keluarganya.

Pilih satu, jadikan sungguhan

Saran saya sederhana. Jangan membangun semuanya sekaligus.

Pilih beberapa klaster. Misalnya Sarinah dan sekitarnya, Senayan dan sekitarnya, Blok M dan sekitarnya, Pasar Baru dan sekitarnya, serta Kota Tua sampai Glodok. Masing-masing sudah punya daya tarik sendiri: pusat belanja, kuliner, bangunan tua, dan pasar yang sudah hidup puluhan tahun.

Setiap klaster dibenahi sebagai satu kesatuan, dengan stasiun sebagai pintu masuknya. Turun dari kereta, wisman bisa berjalan kaki dari satu titik ke titik lain di dalam klaster tanpa perlu naik taksi. Pasar Baru, yang tadi saya sebut sebagai contoh jalan kaki yang tidak nyaman, justru bisa menjadi salah satu yang pertama dibenahi.

Jadikan klaster-klaster itu benar-benar nyaman bagi pejalan kaki. Trotoarnya lebar dan tersambung, penerangannya cukup, dan ada peneduh, entah pohon atau atap. Sediakan toilet umum yang bersih dan petunjuk arah dalam bahasa Inggris. Petugasnya harus terlihat.

Motor yang naik ke trotoar ditindak setiap hari, tidak hanya ketika ada razia. Begitu juga tukang parkir liar.

Pedagang kaki lima tidak perlu diusir. Jalan Alor di Kuala Lumpur dan kawasan jajanan di Bangkok justru hidup karena pedagangnya. Yang diperlukan adalah penataan: tempatnya jelas, kebersihannya dijaga, dan pejalan kaki tetap punya ruang.

Lalu sambungkan semua kawasan itu dengan kereta, sampai ke pintu kawasannya.

Setelah itu, jual kawasannya.

Wisman tidak datang ke Kuala Lumpur hanya karena nama Kuala Lumpur. Mereka datang untuk Bukit Bintang, Menara Petronas, dan Jalan Alor. Mereka ke Istanbul untuk Sultanahmet dan Istiklal, dan ke Tokyo untuk Shibuya dan Asakusa.

Jakarta perlu nama-nama seperti itu. Nama yang muncul di video TikTok turis Korea dan tercantum di itinerarybackpacker Jerman. Nama yang langsung disebut orang ketika ditanya, "Kalau ke Jakarta, sebaiknya ke mana?"

Ketertinggalan ini masih bisa dikejar. Semua itu dimulai dari hal yang paling sederhana.

Trotoar.

Dan jangan menunggu lima belas tahun lagi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.