apakah benar orang indonesia malas malasan data justru menunjukkan cerita yang berbeda - News | Good News From Indonesia 2026

Apakah Benar Orang Indonesia Malas-Malasan? Data Justru Menunjukkan Cerita yang Berbeda

Apakah Benar Orang Indonesia Malas-Malasan? Data Justru Menunjukkan Cerita yang Berbeda
images info

Apakah Benar Orang Indonesia Malas-Malasan? Data Justru Menunjukkan Cerita yang Berbeda | Foto: Generate AI


Benarkah orang Indonesia malas? Di balik warung, UMKM, dan pekerjaan informal, ada kerja keras yang sering luput dari pandangan. Ada sebuah label yang mudah dilemparkan, tetapi sulit dibuktikan: malas.

Seseorang bangun siang disebut malas. Pedagang yang membuka warung sejak pagi dianggap biasa. Pekerja lepas yang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain jarang disebut sebagai bagian dari roda ekonomi. Padahal, ketika melihat data ketenagakerjaan dan aktivitas ekonomi Indonesia, ceritanya tidak sesederhana itu.

Pada Agustus 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 154 juta orang dalam angkatan kerja Indonesia. Sebanyak 146,54 juta orang di antaranya bekerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mencapai 70,59 persen.

Angka tersebut tentu tidak otomatis membuktikan bahwa semua orang Indonesia memiliki produktivitas tinggi. Namun, ia menunjukkan satu hal: menyebut masyarakat Indonesia sebagai orang yang sekadar malas-malasan adalah gambaran yang terlalu sederhana.

baca juga

Ketika "Malas" Tidak Sesederhana Kelihatannya

Masalahnya mungkin bukan kemauan untuk bekerja. Bisa jadi, yang perlu dibedakan adalah bekerja, produktif, dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi.

Seorang pedagang kecil dapat bekerja dari pagi hingga malam. Seorang pengemudi bisa menghabiskan berjam-jam di jalan. Petani bekerja mengikuti musim. Kreator menghabiskan waktu berjam-jam membuat satu konten.

Mereka bekerja. Tetapi apakah pekerjaan tersebut selalu menghasilkan pendapatan dan produktivitas yang sebanding dengan waktu, tenaga, modal, dan keterampilan yang dikeluarkan? Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik.

World Bank dalam Indonesia Growth & Jobs Report menilai peningkatan produktivitas menjadi salah satu tantangan Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi. Laporan tersebut menyoroti hambatan seperti keterbatasan penyebaran pengetahuan dan keterampilan, hambatan regulasi, serta masih banyaknya pekerja dalam aktivitas bernilai tambah rendah. Jadi, produktivitas tidak cukup diukur dari seberapa lama seseorang bekerja.

Dari Warung Kecil sampai UMKM, Ada Ekonomi yang Bergerak

Coba lihat lingkungan sekitar. Ada warung yang awalnya hanya menjual kopi dan gorengan, lalu menerima pembayaran digital. Ada pengusaha rumahan yang memasarkan produknya melalui media sosial. Ada penjahit yang mendapatkan pelanggan dari marketplace. Ada anak muda yang mengubah keahlian desain, fotografi, atau membuat video menjadi sumber penghasilan.

Mereka mungkin tidak selalu terlihat ketika kita membicarakan inovasi. Padahal, inovasi tidak selalu berbentuk laboratorium atau teknologi canggih.

Kompas.com mencatat UMKM Indonesia memiliki peran besar dalam perekonomian. Berdasarkan data yang dikutipnya, sekitar 65 juta pelaku UMKM berkontribusi 61 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan data yang berasal dari periode dan sumber tertentu. Namun, pesannya jelas: aktivitas ekonomi masyarakat kecil bukan sekadar pekerjaan sampingan. Ia merupakan bagian penting dari struktur ekonomi Indonesia.

baca juga

Bahkan, Kompas.com melaporkan 64 persen UMKM dikelola perempuan, dengan kontribusi UMKM terhadap PDB nasional mencapai 60,5 persen dalam data yang mereka kutip. Di balik angka itu ada jutaan keputusan kecil: mencoba produk baru, mencari pelanggan, mengatur modal, belajar teknologi, hingga bertahan ketika penjualan turun. Itu bukan cerita tentang tidak mau bekerja.

Pekerjaan yang Sering Tidak Terlihat

Ada satu kelompok yang membuat pembahasan tentang produktivitas semakin rumit: pekerja informal. Mereka dapat berupa pedagang, pekerja bebas, pelaku usaha kecil, pekerja jasa, hingga berbagai pekerjaan yang tidak selalu masuk dalam gambaran kantor dengan meja dan jam kerja tetap.

Data BPS menunjukkan pada 2025, proporsi pekerja formal Indonesia berada di angka 42,20 persen. Artinya, sebagian besar pekerja berada di luar kategori pekerja formal.

BPS juga mencatat proporsi pekerjaan informal di sektor nonpertanian mencapai 46,74 persen secara nasional, dengan proporsi lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan. Artinya, sebagian aktivitas ekonomi Indonesia berlangsung di tempat yang mungkin jarang kita sebut ketika membicarakan "produktivitas". Di pasar. Di warung. Di bengkel kecil. Di rumah. Di jalan. Bahkan di layar ponsel.

Sementara itu, ekonomi kreatif juga menunjukkan geliat yang menarik. BPS mencatat sektor ekonomi kreatif menyerap 27,40 juta tenaga kerja pada 2025, atau sekitar 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 26,48 juta orang pada 2024.

Kalau Bukan Malas, Lalu Apa Masalahnya?

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Membantah stereotip "orang Indonesia malas" bukan berarti mengatakan produktivitas Indonesia sudah tinggi. Justru sebaliknya.

Tantangannya adalah bagaimana tenaga, kreativitas, dan waktu yang sudah dicurahkan masyarakat dapat menghasilkan nilai yang lebih besar. Seorang pelaku UMKM mungkin rajin berjualan, tetapi belum memiliki akses pembiayaan yang memadai.

Pekerja informal mungkin bekerja panjang, tetapi pendapatannya tidak selalu stabil. Anak muda mungkin kreatif membuat produk digital, tetapi belum memiliki keterampilan bisnis untuk mengembangkannya. Dengan kata lain, persoalannya tidak selalu berada pada kemauan untuk bekerja, tetapi juga pada ekosistem yang menentukan seberapa besar hasil dari pekerjaan tersebut.

baca juga

World Bank menyoroti perlunya peningkatan keterampilan, akses terhadap pembiayaan, persaingan usaha yang sehat, perdagangan dan investasi, serta penyebaran pengetahuan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih produktif dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik.

Maka, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya:"Kenapa orang Indonesia malas?" Dan mulai bertanya: "Mengapa begitu banyak orang yang sudah bekerja keras belum selalu mendapatkan hasil yang sebanding?"

Sebab di balik warung yang buka sebelum matahari terbit, pekerja yang mengejar pesanan, petani yang menunggu musim, dan anak muda yang membangun usaha dari kamar rumahnya, ada satu cerita yang sering terlupakan: Indonesia bukan kekurangan orang yang mau bekerja. Tantangannya adalah membuat kerja keras itu semakin produktif, inovatif, dan menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Mungkin, sebelum memberi seseorang label malas, kita perlu melihat lebih dekat: apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan, dan seberapa besar kesempatan yang ia miliki untuk berkembang?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.