namanya kecamatan wangi wangi betulan harum atau cuma sekadar nama - News | Good News From Indonesia 2026

Namanya Kecamatan Wangi-Wangi, Betulan Harum atau Cuma Sekadar Nama?

Namanya Kecamatan Wangi-Wangi, Betulan Harum atau Cuma Sekadar Nama?
images info

Kecamatan Wangi-Wangi | Pambudiyoga/WikimediaCommons


Nama Kecamatan Wangi-Wangi sepertinya belum banyak terdengar di telinga masyarakat Indonesia pada umumnya. Kecamatan Wangi-Wangi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kecamatan ini merupakan ibu kota Kabupaten Wakatobi dan umum dikenal dengan nama Wanci. Secara geografis, Wangi-Wangi sebetulnya adalah sebuah pulau kecil di Kepulauan Tukangbesi. Wangi-Wangi menjadi pusat administrasi Kabupaten Wakatobi.

Mendengar nama Kecamatan Wangi-Wangi, mungkin ada terlintas di benak Kawan GNFI, kenapa kecamatan ini dinamakan Wangi-Wangi? Apakah tempatnya harum seperti parfum? Atau hanya penamaan acak yang diberikan oleh masyarakatnya?

Asal Usul Nama Kecamatan Wangi-Wangi

Jauh sebelum populer dengan nama Wangi-Wangi, penduduk lokal menamai pulau ini dengan sebutan "Koba". Nama ini diambil dari pohon koba, sejenis tanaman kayu yang dulunya tumbuh melimpah dan memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar.

Kayu koba dimanfaatkan masyarakat untuk membuat sampan. Sementara itu, daun dan buahnya biasa dikonsumsi. Kulit batangnya bahkan diolah menjadi dinding rumah sampai bahan pakaian sebelum tradisi menenun masuk.

Perubahan nama menjadi Wangi-Wangi konon dipercaya berawal dari riwayat para pelayar Nusantara, seperti dari Sriwijaya dan Majapahit. Mereka disebut singgah berlindung dari gelombang besar di pulau tersebut.

baca juga

Saat berlabuh, para pedagang yang membawa rempah-rempah dari Maluku kerap menjemur muatan mereka yang basah di sepanjang pantai. Mereka menjemur rempah-rempah itu sambil menunggu cuaca yang baik untuk melakukan pelayaran.

Nah, aroma harum dari rempah yang dijemur menyebar luas hingga memberi kesan bahwa seluruh pulau berbau wangi. Para pelayar asing yang kurang mengenal sebutan Koba kemudian menyebarkan nama Wangi-Wangi di pelayar lainnya, sehingga nama Wangi-Wangi menjadi jauh lebih dikenal di kalangan pelayar.

Profil Singkat Kecamatan Wangi-Wangi, Wakatobi

Berdasarkan data Kecamatan Wangi-Wangi Dalam Angka 2025 oleh BPS Kabupaten Wakatobi, Kecamatan Wangi-Wangi memiliki luas sekitar 87,33 kilometer persegi. Ada 14 desa dan enam kelurahan di sana. Sementara itu, ibu kota kecamatannya berada di Kelurahan Wanci yang juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Wakatobi.

Jumlah penduduk kecamatan ini sekitar 30.160 jiwa. Sementara itu, total kepala keluarga yang terdaftar di wilayah ini berjumlah 9.769 keluarga.

Tingkat kepadatan penduduk secara keseluruhan berada pada rata-rata 345 jiwa per kilometer persegi. Persebaran penduduk paling padat terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan pusat aktivitas pemerintahan.

baca juga

Kelurahan Wanci menjadi wilayah berpenduduk terbanyak dengan 5.053 jiwa, disusul Kelurahan Pongo sebanyak 4.015 jiwa. Di sisi lain, Desa Pookambua mencatatkan jumlah penduduk terendah, yakni hanya 516 jiwa.

Sebagai daerah kepulauan yang dikelilingi lautan, sektor perikanan dan kelautan menjadi tumpuan hidup utama masyarakat setempat. Sebagian besar penduduk pesisir bekerja sebagai nelayan, pelaut, maupun pengusaha budidaya laut.

Selain mengandalkan potensi bahari, sebagian warga di wilayah daratan juga mengusahakan sektor pertanian dan hortikultura. Hasil bumi lokal yang banyak diproduksi antara lain kangkung, terung, kacang panjang, serta buah-buahan seperti sukun, nangka, mangga, dan pisang.

Perkembangan Wakatobi sebagai kawasan destinasi wisata bahari juga turut mendorong pergeseran profesi warga ke sektor perdagangan dan jasa. Banyak masyarakat mengelola sarana akomodasi penginapan, rumah makan, hingga toko eceran.

Sektor jasa dan perdagangan ini ikut didukung keberadaan sarana pertokoan, pasar, serta belasan fasilitas hotel dan penginapan. Kehadiran sektor pariwisata dan perdagangan inilah yang memperkaya roda perekonomian warga Wangi-Wangi selain dari hasil laut dan tani.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.