Bayangkan hamparan panel surya tidak memenuhi lahan pertanian atau kawasan permukiman, melainkan mengapung di atas permukaan waduk. Pemandangan tersebut bukan lagi sekadar gambaran masa depan. Indonesia telah mewujudkannya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Jawa Barat.
Kehadiran PLTS terapung menjadi salah satu inovasi dalam memanfaatkan energi matahari sekaligus menjawab persoalan keterbatasan lahan. Di tengah kebutuhan listrik yang terus berkembang, teknologi ini menawarkan cara baru untuk memperluas energi terbarukan tanpa harus selalu berhadapan dengan kebutuhan lahan daratan.
Tantangan Energi dan Potensi Perairan Indonesia
Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Kementerian ESDM memperkirakan potensi terukur energi surya mencapai sekitar 3.286 gigawatt (GW) pada 2024. Namun, besarnya potensi tersebut masih perlu diikuti pembangunan infrastruktur, investasi, jaringan listrik, serta teknologi yang mampu mengoptimalkannya.
Salah satu tantangan pengembangan PLTS konvensional adalah kebutuhan lahan. Panel surya dalam skala besar membutuhkan area yang cukup luas, sementara lahan juga memiliki fungsi lain, mulai dari pertanian hingga kawasan permukiman.
Di sinilah perairan menjadi ruang alternatif. Waduk dan danau dapat dimanfaatkan untuk menempatkan panel surya terapung, tentu dengan memperhatikan kondisi ekologis, fungsi utama perairan, serta tata kelola yang tepat.
Mengenal PLTS Terapung dan Belajar dari Cirata
Secara sederhana, PLTS terapung bekerja dengan prinsip yang sama seperti PLTS di daratan. Panel fotovoltaik menangkap radiasi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik. Perbedaannya, panel ditempatkan di atas struktur apung yang ditambatkan pada area perairan.
Salah satu contoh terbesarnya di Indonesia adalah PLTS Terapung Cirata. Berlokasi di Waduk Cirata, Jawa Barat, pembangkit ini memiliki kapasitas 192 megawatt peak (MWp) dan menempati area sekitar 200 hektare. Proyek yang dikembangkan melalui kolaborasi PLN Nusantara Power dan Masdar dari Uni Emirat Arab tersebut resmi beroperasi pada November 2023.
Saat diresmikan, Cirata menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Pembangkit ini juga dirancang untuk memasok listrik bagi sistem Jawa-Bali dan dapat menghasilkan energi bersih yang setara dengan kebutuhan sekitar 50.000 rumah.
Menariknya, pemanfaatan permukaan waduk juga membuat pembangkit listrik dapat dikembangkan tanpa mengambil seluruh ruang dari aktivitas di daratan. Kementerian ESDM bahkan memperkirakan kapasitas Cirata masih dapat dioptimalkan hingga 1,2 GWp.
Bukan Sekadar Menghasilkan Listrik
Manfaat PLTS terapung tidak hanya berkaitan dengan listrik. Secara lingkungan, pembangkit ini dapat membantu mengurangi emisi karbon karena menggunakan energi matahari sebagai sumber energi.
PLTS Terapung Cirata diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon sekitar 214.000 ton per tahun. Selama masa pembangunan, proyek ini juga menyerap sekitar 1.400 tenaga kerja.
Secara umum, teknologi surya terapung juga memiliki potensi manfaat tambahan terhadap lingkungan perairan. IRENA mencatat bahwa penempatan panel di permukaan air dapat membantu mengurangi penguapan dan, dalam kondisi tertentu, memengaruhi suhu air serta pertumbuhan alga. Namun, dampaknya tetap bergantung pada desain, luas tutupan panel, karakteristik ekosistem, dan kondisi lokasi.
Dari sisi ekonomi, proyek seperti Cirata menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perusahaan nasional, dan investor global. Pengembangannya sekaligus membuka peluang munculnya pekerjaan baru di sektor energi bersih.
Masa Depan PLTS Terapung di Indonesia
Keberhasilan Cirata membuka peluang untuk mereplikasi teknologi serupa di waduk dan perairan lain. Kementerian ESDM memperkirakan potensi PLTS terapung Indonesia mencapai 91,6 GW dan menyatakan pemanfaatan permukaan air akan terus didorong.
Arah tersebut semakin terlihat dalam RUPTL 2025โ2034. Pemerintah merencanakan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan PLTS menjadi salah satu kontributor terbesar melalui rencana penambahan kapasitas 17,1 GW. Pengembangan tersebut juga disertai investasi pada sistem penyimpanan energi dan jaringan transmisi.
Meski demikian, pengembangan PLTS terapung skala besar bukan tanpa tantangan. Pemilihan lokasi harus mempertimbangkan ekosistem perairan, aktivitas masyarakat, kualitas air, kondisi struktur apung, hingga ketahanan terhadap cuaca.
Selain itu, listrik yang dihasilkan perlu didukung jaringan transmisi dan sistem penyimpanan agar dapat disalurkan secara andal.
Karena itu, masa depan PLTS terapung Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa banyak panel yang bisa dipasang di atas air. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi, investasi, kebijakan, dan kepentingan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Jika berhasil dikelola secara berkelanjutan, permukaan waduk Indonesia bukan sekadar tempat menampung air, tetapi juga dapat menjadi ruang baru untuk memanen energi matahariโmendorong langkah Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan mandiri.


