Kawan GNFI pernah mendengar soal IMT-GT? IMT-GT atau Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle adalah kerja sama ekonomi sub-regional antara tiga negara tersebut yang bertujuan untuk mendorong perdagangan, investasi, pariwisata, dan konektivitas antarwilayah agar daerah-daerah tersebut bisa tumbuh bersama.
Kerja sama ini sering dijuluki sebagai "segitiga pertumbuhan" yang menghubungkan tiga negara tetangga di subkawasan. Melalui wadah ini, ketiga negara saling mendorong potensi ekonomi daerah agar makin berdaya saing.
Uniknya, cakupan kerja samanya tidak menyasar seluruh bagian negara anggota. Kerja sama ini menyasar wilayah-wilayah yang saling berdekatan secara geografis, budaya, dan sejarah. Indonesia sendiri diwakili oleh provinsi-provinsi yang berada di Pulau Sumatra.
Apa Itu IMT-GT?
IMT-GT merupakan kerangka kerja sama subregional yang dibentuk untuk mempercepat transformasi ekonomi di wilayah anggota. Fokus utamanya berada pada pembangunan berbasis area untuk mendorong pertumbuhan daerah perbatasan dan berkembang.
Mengutip dari sebuah unggahan di Instagram resmi ASEAN RI, cakupan kerja samanya meliputi Sumatra di Indonesia, Malaysia di bagian utara seperti Penang, Kedah, dn Perlis, serta Tailan bagian selatan.
Wilayah cakupannya saat ini mencakup 35 provinsi dan negara bagian di ketiga negara. Rinciannya terdiri dari 10 provinsi di Sumatra, 11 negara bagian di Malaysia, serta 14 provinsi di Tailan Selatan.
Secara keseluruhan, wilayah subkawasan ini dihuni oleh lebih dari 54 juta jiwa. Potensi yang besar ini dimanfaatkan untuk saling melengkapi keunggulan ekonomi antardaerah.
Sejarah IMT-GT
Kerja sama ini digagas pada tahun 1993 sebagai langkah awal integrasi ekonomi di ASEAN. Inisiatif ini disahkan oleh Presiden Indonesia Suharto, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, dan Perdana Menteri Tailan Chuan Leekpai.
Pada awal berdirinya, IMT-GT hanya melibatkan 12 negara bagian dan provinsi di wilayah perbatasan. Seiring berjalannya waktu, keanggotaannya terus berkembang hingga mencapai 35 wilayah seperti sekarang.
Kerja sama ini semakin kokoh saat Asian Development Bank (ADB) bergabung sebagai mitra pembangunan pada tahun 1994. ADB membantu menyusun studi kelayakan dan merumuskan arah kerja sama strategis.
KTT IMT-GT pertama digelar pada tahun 2005. Dua tahun kemudian, konsep koridor ekonomi mulai diperkenalkan untuk menghubungkan antarwilayah.
Tujuan IMT-GT
Tujuan utama pembentukan IMT-GT adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang dipimpin oleh sektor swasta. Pendekatan ini memanfaatkan komplementaritas dan keunggulan komparatif masing-masing wilayah.
Selain itu, IMT-GT bertujuan meningkatkan volume perdagangan dan investasi antarnegara. Daya saing ekspor kawasan ke pasar global juga terus diperkuat.
Tak hanya itu, kerja sama ini juga berfokus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dicapai lewat pembukaan lapangan kerja serta peluang pendidikan dan budaya.
Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang mendukung penuh keterlibatan dunia usaha. Dengan begitu, manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh warga lokal.
Dalam menjalankan programnya, IMT-GT berfokus pada delapan pilar strategis melalui kelompok kerja khusus. Pilar tersebut meliputi transportasi, fasilitasi perdagangan, pertanian, pariwisata, hingga produk dan layanan halal.
Bidang lainnya adalah sumber daya manusia, lingkungan hidup, serta transformasi digital. Selain itu, dikembangkan pula enam koridor ekonomi untuk menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan.
Keterlibatan dunia usaha diwadahi secara resmi melalui IMT-GT Joint Business Council (JBC). Sementara sektor akademis terhubung dalam jaringan University Network untuk memperkuat riset dan talenta.
Koordinasi harian didukung oleh sekretariat permanen Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT) di Putrajaya, Malaysia. Arah pembangunan jangka panjangnya dipandu oleh Visi 2036 menuju subkawasan yang berkelanjutan.


