Farid Azhar menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dari Prodi Pendidikan Matematika tanpa mengerjakan skripsi. IPK yang ia kantongi bahkan mencapai 3,99.
Menariknya lagi, laki-laki yang sukses menamatkan status sebagai mahasiswa Pendidikan Matematika ini dulunya merupakan siswa SMK Negeri 1 Magelang jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Ya, lulusan TKR ini menuntaskan kuliah dalam 3 tahun 9 bulan 8 hari.
Berbagai pencapaian itu membuat Farid dinobatkan jadi wisudawan terbaik dari Program Studi S1 Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Tidar (Untidar) pada Wisuda periode ke-75
Lulus dengan Game Roblox, Bukan Skripsi
Farid lulus tanpa mengerjakan skripsi. Ia lebih pilih mempublikasikan artikel ilmiah.
Artikelnya terbit di jurnal terindeks Sinta 2 dengan judul "Development Of Geoarcala Roblox Game Integrating Ethnomathematics Of Magelang Temples To Enhance Critical Thinking Ability".
Nah, garis besarnya, Farid mengembangkan metode pembelajaran matematika yang unik lewat game. Farid memasukkan unsur ethnomathematics atau etnomatematika, yakni pendekatan yang menghubungkan konsep matematika dengan budaya dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia membuat game di Roblox yang mengajak pemain menjelajahi candi-candi di Magelang. Kawasan Magelang memang dikenal punya Borobudur, yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 1991, serta candi lain seperti Mendut dan Pawon.
Siswa diajak berpetualang dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Di setiap lokasi, mereka harus menyelesaikan tugas berupa soal matematika. Salah satu konsep yang digunakan adalah geometri bangun tabung.
โSiswa diajak mempelajari matematika dengan cara yang mereka sukai atau menyenangkan," katanya.
Ide itu terinspirasi dari kebiasaan anak sekolah yang saat ini menggandrungi Roblox.
"Game Roblox populer dilakangan anak sekolahan. Hal ini menginspirasi untuk membuat modifikasi game ini dengan matematika khususnya matematika sambil mengenalkan candi-candi di wilayah Magelang," jelas Farid, sebagaimana dikutip dari laman resmi Untidar.
Game tersebut kemudian diuji coba kepada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Salaman.
Cara belajar seperti ini menjadi bagian dari gagasan Farid untuk membuat matematika lebih mudah diterima siswa.
Dari Bengkel, Farid Kuliah Pendidikan Matematika Berkat Dorongan Sang Guru
Kawan, Farid berasal dari keluarga sederhana. Ibunya merupakan ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya, Nur Khadik, bekerja sebagai montir di sebuah bengkel. Makanya, saat sekolah, Farid mengambil jurusan Teknik Kendaraan Ringan.
Nah, Farid memilih kuliah Program Studi Pendidikan Matematika berkat dorongan dari gurunya.
โDulu sih karena saran guru matematika, katanya aku pintar matematika suruh lanjut kuliah dan ambil prodi matematika aja,โ ujar Farid.
Selama kuliah, Farid mendapatkan bantuan melalui program KIP Kuliah. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus membuktikan bahwa ia mampu menjadi sarjana.
Ia juga menjadi orang pertama di keluarganya yang menyandang gelar sarjana.
Dukungan orang tua, menurut Farid, tidak selalu hadir dalam bentuk tuntutan mengenai pekerjaan atau pencapaian. Orang tuanya selalu mendoakan apapun yang dilakukan Farid.
โAku ra ngerti opo sek meh mbok lakoni. Tapi, selalu tak doakke sek apik apik wae.โ
Kurang lebih, sang ibu mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan Farid, tetapi selalu mendoakan agar semua yang dijalaninya berjalan baik.
Sempat Merasa Belum Pantas Jadi Guru
Kawan, Farid memiliki keinginan untuk mengajar sejak masih kuliah. Akan tetapi, ia sempat merasa belum cukup menguasai materi.
โSempet kepikiran mau masuk ke bimbel, tapi mikir kayak rasanya aku belum pantes, masih kurang dari segi ilmunya,โ ungkapnya.
Keraguan tersebut membuat Farid menunda keinginannya.
Saat memasuki semester tujuh, ia mulai memberanikan diri membagikan ilmunya.
Melalui seorang dosen, Farid mendapat tawaran mengajar privat. Dari satu siswa, kesempatan mengajar kemudian berkembang hingga ia mendapat tawaran dari anak-anak lainnya.
Ia sempat mencoba mengajar di lembaga bimbingan belajar selama sekitar satu bulan. Namun, pada akhirnya Farid lebih memilih mengajar secara privat.
Pengalaman tersebut memberinya pelajaran lain. Menguasai matematika ternyata tidak otomatis berarti mampu menjelaskannya kepada anak-anak.
Ia harus mencari cara agar konsep yang rumit menjadi lebih mudah dipahami.
Salah satu pengalamannya terjadi ketika mengajar anak sekolah dasar. Farid menyadari bahwa istilah matematika yang biasa digunakan di bangku kuliah belum tentu akrab bagi anak-anak.
Ia bahkan menggunakan istilah yang lebih sederhana ketika memperkenalkan aljabar.
โAnak SD kan enggak tahu aljabar itu apa. Saya kenalkan namanya โJabraโ. โMau belajar aljabar enggak?โ Terus mereka tanya, โApa itu aljabar?โ Dari situ sebenarnya kita cuma perlu pendekatan yang cocok dengan anaknya,โ ujarnya.
Bagi Farid, tantangan mengajar bukan hanya membuat siswa mendapatkan jawaban yang benar. Ia juga perlu mengubah cara siswa memandang matematika.
Pengalaman tersebut sekaligus membuatnya memahami bahwa setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Kini Sudah Menjadi Guru
Setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh Surat Keterangan Lulus (SKL), Farid tidak berhenti di pengalaman mengajar privat.
Ia mendaftarkan diri sebagai guru. Kini, ia telah diterima sebagai guru tetap di salah satu SMA swasta di Kota Magelang dan telah menjalani pekerjaan tersebut selama hampir dua bulan.
Bagi Farid, mengajar bukan hanya pekerjaan. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk mempertahankan pengetahuan yang ia dapatkan selama kuliah.
โMengajar itu bagi saya cara mengasah dan mempertahankan ilmu yang sudah dipelajari saat kuliah. Daripada kita lupa (materi) ya lebih baik kita ajarkan,โ pungkasnya.


