Dari semua lulusan yang hadir, ia yang dipercaya berpidato mewakili mereka. Namanya Suster Dulce Maria Guterres, FDCC. Ia seorang biarawati Katolik dari Timor-Leste. Hari itu, ia resmi bergelar magister kebidanan dari sebuah universitas Islam.
Suster Dulce Maria Guterres menjadi mahasiswa yang memberikan pidato kelulusan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Rabu (30/9/2026) di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, kampus UNISA Yogyakarta.
Cemas di Hari Pertama
Sebelum berdiri dengan percaya diri di hadapan ratusan wisudawan, Suster Dulce jelas pernah merasakan kekhawatiran. Itu terjadi sekitar dua tahun lalu saat dirinya menjadi mahasiswa baru jenjang magister.
Ya, Suster Dulce mengaku sempat cemas ketika pertama kali datang ke Unisa Yogyakarta. Alasannya, usia yang tidak lagi muda dan keterbatasan yang ia miliki.
Wajar saja, sebab ia menempuh studi di kampus berbasis nilai-nilai Islam, di negeri yang bukan tanah kelahirannya.
Meski demikian, rasa cemas itu tidak bertahan lama. Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa toleransi dan kasih sayang yang ada di lingkungan kampus membuatnya merasa diterima dengan tangan terbuka.
"Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academica menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa," katanya sebagaimana dikutip dari situs Unisa Yogyakarta.
Tinggal Satu Asrama, Belajar Hidup Bersama
Kawan, Suster Dulce tidak hanya merasakan interaksi dengan golongan mayoritas saat di ruang kuliah. Selama studi, ia tinggal bersama para penghuni asrama kampus. Di situlah ia merasakan apa yang ia sebut persaudaraan sejati.
Sebagai biarawati Katolik, ia mengaku diterima dengan penuh martabat, kasih, dan kedamaian. Pengalaman sehari-hari itu yang menurutnya meneguhkan sebuah keyakinan bahwa ada beberapa hal yang memang seharusnya bersifat universal alias tidak mengenal batas agama, budaya, maupun usia.
"Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan."
Kawan, Suster Dulce tidak serta merta datang ke Yogyakarta tanpa tujuan. Ia terbang ke Kota Pelajar sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili, dengan dukungan Yayasan Graça de Deus.
Ia diutus khusus untuk menempuh pendidikan Magister Kebidanan di UNISA Yogyakarta.
Oleh karena itu, ia berharap kelulusannya bisa mempererat hubungan Timor-Leste dan Indonesia.


