Kancah musik anak muda Indonesia belakangan ini sangat dipengaruhi oleh arus musik pop-alternatif dan R&B. Nama-nama seperti Rex Orange County dan Daniel Caesar bukanlah sosok yang asing di telinga muda-mudi Tanah Air.
Hal ini terbukti dari antusiasme luar biasa setiap kali mereka menggelar konser di Jakarta. Namun, pernahkah Kawan GNFI bertanya-tanya, mengapa lagu-lagu mereka begitu melekat di hati pendengar Indonesia?
Jawabannya mungkin ada pada realita sosial yang tergambar di dalamnya. Salah satu lagu kolaborasi mereka, Indecision, secara tidak sengaja memotret sebuah fenomena yang sangat lekat dengan budaya kencan (dating culture) anak muda Indonesia saat ini: fenomena HTS (Hubungan Tanpa Status) dan "tarik-ulur".
Potret Kisah Nyata di Balik Istilah "Digantung"
Di berbagai tongkrongan dari Jakarta hingga penjuru daerah lainnya, kisah asmara yang jalan di tempat adalah topik yang tidak pernah habis dibahas. Lagu Indecision menangkap esensi dari kebimbangan ini, yang di Indonesia akrab dengan istilah "digantung" atau mixed signals.
Mari kita lihat sebuah contoh nyata yang sangat lumrah terjadi di sekitar kita. Seseorang berusaha keras untuk menghibur teman dekatnya atau yang sering disebut gebetan yang sedang bersedih karena masalah keluarga.
Ia rela menembus kemacetan kota, membawakan makanan favorit, dan mengorbankan waktunya. Usaha itu berhasil membuat sang pujaan hati ceria kembali. Namun, bukannya ucapan terima kasih yang didapat, ia justru diabaikan pada keesokan harinya.
Ketika rasa lelah dan aksi diam (silent treatment) mulai muncul akibat usaha yang tak dihargai, pihak yang awalnya abai justru berbalik marah dan mengirimkan pesan panjang berisi kekecewaan.
Dinamika yang dipenuhi adu ego inilah yang dinyanyikan oleh Rex Orange County dalam lirik pembukanya:ย "Let me know, let me know / Is it gettin' to that time for me to go?"
Lirik tersebut adalah representasi sempurna dari kebingungan anak muda Indonesia yang terjebak di ruang abu-abu, bertahan karena masih sayang, tetapi lelah karena ketidakpastian.
Sabotase Emosional dan Fenomena Ilfeel
Lebih jauh lagi, lagu ini juga relevan dengan dinamika pergaulan yang sering kali melibatkan "informan" alias teman tongkrongan. Dalam Indecision, Daniel Caesar menyanyikan baris, "On God, I have to sabotage". Kata sabotase ini sangat mewakili perilaku irasional yang kerap muncul dalam fase tarik-ulur.
Dalam banyak kasus lokal, seseorang mungkin mendapat kabar dari lingkaran pertemanannya (atau mutual) bahwa sang gebetan sebenarnya sudah ilfeel (hilang feeling) dan tidak ingin berhubungan serius.
Ironisnya, tepat ketika fakta pahit itu terungkap, orang yang sama tiba-tiba intens mengirim pesan, memberikanย update keseharian (pap), dan bertingkah seolah ingin kembali merajut kedekatan.
Di Indonesia, perilaku ini kerap dilabeli sebagai sikap egois dan tidak ingin berkomitmen, tetapi juga tidak rela kehilangan sumber perhatian atau validasi. Sikap ini adalah bentuk sabotase terhadap kebebasan emosional orang lain, membuat pihak yang tulus merasa dipermainkan bak pion di atas papan catur asmara.
Pelajaran untuk Kawan GNFI
Kesuksesan lagu Indecision di daftar putar (playlist) anak muda Indonesia bukanlah tanpa alasan. Lagu ini adalah cermin dari rumitnya menjalin relasi di era modern. Lewat liriknya yang jujur, kita diajak berkaca pada fenomena sosial yang mengakar di sekitar kita.
Bagi Kawan GNFI yang mungkin tengah berada dalam situasi serupa, kisah ini bisa menjadi pengingat. Budaya kencan yang sehat seharusnya dibangun di atas fondasi komunikasi yang jelas, apresiasi dan bahkan sekadar kata tolong dan terima kasih, serta kepastian sikap.
Jika Kawan berada dalam hubungan yang lebih banyak mendatangkan kebingungan (indecision) ketimbang ketenangan, mungkin sudah saatnya mengevaluasi arah hubungan tersebut.
Sebab pada akhirnya, setiap orang berhak atas kepastian asmara, bukan hanya dijadikan tempat singgah sesaat ketika seseorang sedang butuh pelarian.

