Tidak semua batas yang kita miliki benar-benar ada. Terkadang, batas tersebut justru terbentuk dari keraguan terhadap diri sendiri. Takut melakukan kesalahan, merasa belum cukup mampu, atau terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk dapat membuat seseorang memilih untuk tidak mencoba, bahkan sebelum mengetahui sejauh mana ia sebenarnya bisa melangkah.
Padahal, potensi tidak selalu terlihat sejak awal. Ada kemampuan yang baru muncul ketika seseorang diberi kesempatan untuk mencoba, dipercaya untuk mengambil tanggung jawab, dan memiliki orang-orang di sekitarnya yang mendorongnya untuk berani melangkah.
Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Felicitas Apriliano bersama AIESEC in Universitas Brawijaya (AIESEC in UB).
Semakin aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, semakin banyak pula kesempatan yang membuatnya belajar tentang dirinya sendiri, termasuk belajar untuk tidak terlalu cepat meragukan kemampuan yang dimiliki.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika ia mendapatkan kesempatan menjadi Master of Ceremony (MC) dalam bahasa Inggris untuk EP IOUB Briefing menjelang Global Village Summer 2026. Bagi dirinya, kesempatan tersebut cukup menantang karena menjadi pengalaman pertama membawakan acara menggunakan bahasa Inggris.
Bahkan, pada awalnya ia sempat menolak kesempatan tersebut karena merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri. Namun, ajakan dari temannya, Faisya, membuatnya akhirnya berani untuk mencoba.
βJujur aku awalnya sempat menolak dan meragukan diriku sendiri. Namun, karena ajakan temanku, Faisya, aku jadi lebih berani untuk mencoba,β ungkapnya.
Keputusan untuk menerima kesempatan tersebut ternyata membawanya pada pengalaman yang berbeda dari apa yang sebelumnya ia bayangkan. Kekhawatiran mengenai bagaimana jika salah berbicara atau tidak mampu membawakan acara dengan baik perlahan berkurang ketika acara benar-benar dimulai.
Saat menjalankan perannya sebagai MC, ia mulai menemukan ritmenya. Ia mengikuti rangkaian acara, berkomunikasi dengan para Exchange Participants (EP), dan berusaha menikmati setiap prosesnya. Ternyata, menjadi MC dalam bahasa Inggris tidak sesulit yang selama ini ia bayangkan.
βPas aku nge-MC, ternyata nggak sesusah yang aku bayangkan. Partner MC-ku juga Faisya, dan dia cukup membantu aku selama nge-MC,β ceritanya.

Pengalaman tersebut menjadi momen sederhana yang memberikan dampak cukup besar. Ia menyadari bahwa selama ini rasa takut terkadang membuat sebuah tantangan terlihat lebih besar daripada kenyataannya. Ketika akhirnya berani mencoba, ia justru menemukan bahwa dirinya mampu menjalankan tanggung jawab tersebut.
Dari pengalaman itu, pembelajaran tentang leadership juga mulai terasa lebih nyata. Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari memimpin orang lain. Sebelum itu, seseorang perlu belajar memimpin dirinya sendiri, berani mengambil keputusan, menghadapi rasa takut, dan percaya bahwa dirinya mampu bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Bagi Feli, keberanian untuk memimpin diri sendiri kemudian berkaitan erat dengan kemauan untuk mengatakan yes pada kesempatan baru. Ia mulai belajar bahwa tidak harus selalu merasa siap untuk mencoba sesuatu. Terkadang, kesempatan tersebut justru menjadi cara untuk mengetahui kemampuan yang selama ini belum pernah diuji.
Keterlibatan di AIESEC in UB pun memberikan semakin banyak ruang untuk proses tersebut. Setiap kegiatan dan tanggung jawab mempertemukannya dengan orang-orang baru, situasi yang berbeda, serta tantangan yang membuatnya terus beradaptasi.
Dari sana, ia tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga semakin mengenal cara dirinya bekerja dan berinteraksi dengan orang lain.
Pengalaman-pengalaman tersebut turut membantu membangun self-branding. Kesempatan untuk mengambil peran, berkomunikasi, dan menunjukkan kemampuan membuatnya memiliki lebih banyak hal untuk diceritakan tentang dirinya.
Perlahan, ia mulai melihat bahwa self-branding bukan hanya tentang bagaimana seseorang ingin dikenal, tetapi juga tentang pengalaman yang membentuk dirinya.
Satu kesempatan pun dapat membuka pintu menuju kesempatan lainnya. Ketika ia mulai berani mencoba, semakin banyak pengalaman yang dapat dijalani dan semakin luas pula ruang untuk berkembang.
Perjalanan ini membuatnya memahami bahwa full potential tidak selalu tentang menjadi seseorang yang paling percaya diri atau paling siap. Terkadang, potensi baru terlihat ketika seseorang berhenti mengatakan βaku nggak bisaβ sebelum benar-benar mencoba.
Bagi Feli, AIESEC in UB menjadi ruang yang membantunya melihat hal tersebut. Dari pengalaman pertamanya menjadi MC dalam bahasa Inggris, ia belajar untuk memimpin dirinya sendiri, berani mengatakan yes, dan tidak lagi terlalu cepat underestimate terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Karena bisa jadi, apa yang selama ini ia pikir tidak mampu dilakukan justru merupakan awal dari kesempatan yang lebih besar.


