global volunteer ke vietnam kamila rahmadini belajar beradaptasi dan melihat dunia dari perspektif baru - News | Good News From Indonesia 2026

Global Volunteer ke Vietnam, Kamila Rahmadini Belajar Beradaptasi dan Melihat Dunia dari Perspektif Baru

Global Volunteer ke Vietnam, Kamila Rahmadini Belajar Beradaptasi dan Melihat Dunia dari Perspektif Baru
images info

Global Volunteer in Vietnam @AIESEC in UNEJ


Kesempatan untuk tinggal di lingkungan yang berbeda membawa pengalaman baru bagi Kamila Rahmadini, mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2023, melalui program Global Volunteer (GV) AIESEC di Vietnam. Selama 15 Juli hingga 28 Agustus 2026, Kamila mengikuti proyek Happy Bus di Vung Tau dan ditempatkan di JEN Montessori Kindergarten 2 untuk membantu mengajar anak-anak berusia sekitar 2–6 tahun.

Keinginan untuk merasakan kehidupan di luar negeri menjadi salah satu alasan Kamila mengikuti program tersebut. Selain ingin belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga tertarik mencoba pengalaman mengajar anak-anak. Ketika menemukan program yang sesuai dengan ketertarikannya, Kamila melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk mencoba hal baru sekaligus mendapatkan pengalaman di luar lingkungan sehari-harinya.

Selama menjalani Global Volunteer, Kamila terlibat dalam berbagai aktivitas bersama anak-anak. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti kegiatan bersama anak-anak menuju sebuah resort di pinggiran kota Vung Tau. Perjalanan yang berlangsung dari pagi hingga sore tersebut memberikan kesempatan bagi Kamila untuk melihat anak-anak belajar tentang hewan secara langsung, bermain di luar ruangan, dan menghabiskan waktu bersama di luar kelas.

β€œYang paling aku suka adalah bisa main secara langsung dengan anak-anak di luar kelas. Apalagi setelah beberapa minggu di kelas terus, itu outbound refreshing banget sih,” cerita Kamila.

baca juga

Selain pengalaman mengajar, kehidupan sehari-hari di Vietnam juga mempertemukan Kamila dengan tantangan komunikasi. Tidak semua masyarakat lokal yang ditemuinya dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Dalam situasi sederhana seperti membeli makanan atau barang, Kamila terkadang harus menggunakan gesture, menunjuk barang, hingga memanfaatkan Google Translate untuk membantu komunikasi.

Salah satu pengalaman yang membekas baginya terjadi ketika berinteraksi dengan penjual boba di dekat tempat tinggalnya. Meskipun sempat mengalami kesulitan dalam memahami satu sama lain, interaksi tersebut akhirnya berujung dengan keramahan dari penjual tersebut.

β€œDari situ aku belajar bahwa kendala bahasa nggak selalu berarti orangnya nggak ramah. Kadang memang kita cuma belum menemukan cara komunikasi yang sama aja,” ujar Kamila.

Tantangan lain yang dihadapi Kamila adalah cuaca yang cukup panas, perbedaan kondisi lalu lintas, serta beberapa situasi selama program yang tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Namun, pengalaman tersebut membuatnya belajar untuk lebih fleksibel dan tidak langsung panik ketika sesuatu berjalan berbeda dari rencana awal.

baca juga

Lingkungan tempat Kamila ditempatkan juga menjadi salah satu hal yang membantunya beradaptasi. Para guru di sekolah menyambutnya dengan ramah sehingga Kamila merasa diterima selama menjalankan aktivitasnya. Bahkan, ia pernah mendapatkan buah durian dari salah satu wali murid yang diberikan kepada para guru, termasuk dirinya.

Pengalaman selama hampir satu setengah bulan di Vietnam kemudian membawa perubahan pada cara Kamila melihat lingkungan dan orang lain. Sebelum berangkat, ia menyadari bahwa dirinya memiliki gambaran tertentu mengenai Vietnam dan masyarakatnya. Namun, setelah benar-benar tinggal di sana, ia menemukan bahwa beberapa gambaran tersebut tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

β€œSetelah benar-benar tinggal di sana, aku sadar kalau banyak hal yang selama ini aku bayangkan ternyata terlalu sederhana atau bahkan bisa salah. Aku jadi belajar untuk nggak gampang menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang aku lihat atau bayangkan sebelumnya,” ungkap Kamila.

Bagi Kamila, pengalaman tersebut juga memberikan perubahan secara personal. Ia merasa menjadi lebih percaya diri dan lebih nyaman mengekspresikan dirinya tanpa terlalu memikirkan apakah apa yang ia lakukan sesuai dengan ekspektasi orang lain.

baca juga

Salah satu pengalaman lain yang menurutnya menjadi bagian dari proses adaptasi adalah ketika pertama kali menyewa motor di Vietnam. Perbedaan kondisi jalan dan pola lalu lintas sempat membuatnya merasa gugup. Namun, setelah menjalaninya, Kamila akhirnya dapat beradaptasi dan melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu survival skill selama berada di Vietnam.

Melalui pengalaman Global Volunteer, Kamila melihat bahwa exchange tidak harus selalu berjalan sempurna. Tantangan komunikasi, culture shock, kelelahan, maupun situasi yang tidak sesuai ekspektasi justru dapat menjadi bagian dari proses belajar.

β€œKalau memang ada kesempatan dan programnya sesuai dengan apa yang ingin kalian coba, jangan terlalu takut hanya karena merasa belum siap. Aku sendiri juga nggak merasa seratus persen siap sebelum berangkat,” pesan Kamila.

Menurutnya, keberanian untuk mencoba perlu disertai dengan persiapan dan pertimbangan yang matang. Dengan mencari informasi sebanyak mungkin dan memahami kondisi diri sendiri, kesempatan exchange dapat menjadi ruang untuk mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak ditemukan ketika hanya berada di lingkungan yang familiar.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.