Hari Suci Purnama Kapat menjadi momentum bagi tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia (UI) untuk hadir di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Dalam kegiatan tersebut, tim UI berkesempatan mengenal lebih dekat tradisi Pande, salah satu kekayaan budaya yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Sawan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenali, mendokumentasikan, dan memperkenalkan nilai-nilai budaya yang masih dijaga hingga kini.
Pada hari suci tersebut, tim pengabdi Universitas Indonesia hadir di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali untuk melakukan pendokumentasian dan penyusunan profil pande. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya awal untuk mengenali lebih jauh sejarah, keterampilan, pengetahuan, serta keberadaan para pande yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Upacara Ritual Pande di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali | Dokumentasi Pribadi
Desa Sawan dikenal sebagai salah satu desa pande. Keterampilan mengolah dan menempa besi telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan melalui proses belajar langsung dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
Di balik pekerjaan menempa besi, terdapat pengetahuan yang panjang mengenai bahan, alat, teknik, proses pengerjaan, hingga berbagai kebiasaan yang menyertai kehidupan seorang pande. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat yang keberadaannya tidak selalu terdokumentasi secara tertulis.
Namun, keberlanjutan tradisi tersebut menghadapi tantangan. Keahlian pande yang dahulu diwariskan secara turun-temurun kini semakin berkurang penerusnya. Perubahan zaman, perkembangan pilihan pekerjaan, dan perubahan minat generasi muda menjadi sejumlah kondisi yang membuat keberlangsungan keterampilan tersebut perlu mendapat perhatian.
Oleh karena itu, langkah untuk mengenali dan mendokumentasikan para pande menjadi penting. Profil pande Desa Sawan diharapkan dapat menjadi pijakan awal untuk memahami siapa saja yang masih menjalankan tradisi tersebut, bagaimana pengetahuan diperoleh dan diwariskan, serta bagaimana posisi tradisi pande dalam kehidupan masyarakat Desa Sawan saat ini.
Pendokumentasian juga menjadi cara untuk memastikan bahwa pengetahuan yang selama ini hidup melalui praktik tidak hilang begitu saja ketika generasi yang menguasainya semakin sedikit.
Perbekel Desa Sawan Nyoman Wira dan Sekretaris Desa Sawan Made Pancayasa turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari Universitas Indonesia, tim pengabdi terdiri atas Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, Tri Wahyuni, Ph.D., Dr. Ari Prasetiyo, dan Danang Arya Nugraha, S.Hum. Sejumlah mahasiswa juga turut berpartisipasi, yakni Zhafira Salsabila Nur Ramadhania, Salsa Amelia Safitri, dan Khalila Putri Fajri.

Perbekel Desa Sawan, Sekretaris Desa Sawan, dan Tim Pengmas Universitas Indonesia | Dokumentasi Pribadi
Β
Pendokumentasian profil pande ini juga berkaitan dengan gagasan jangka panjang untuk menghadirkan ruang yang dapat mendukung pelestarian budaya Desa Sawan. Salah satu gagasan pelestarian tersebut adalah rumah budaya. Gagasan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan kajian, serta memerlukan dukungan berbagai pihak.
Untuk saat ini, perhatian diarahkan terlebih dahulu pada hal yang paling mendasar: mengenali, mencatat, dan memahami kekayaa budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Bagi Desa Sawan, pendokumentasian tradisi pande bukan sekadar mencatat nama dan pekerjaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya merekam pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman antargenerasi.
Momentum Purnama Kapat menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana: mendengarkan cerita masyarakat, mengenali para pelaku tradisi, dan mencatat pengetahuan yang mereka miliki.
Dari sana, berbagai kemungkinan untuk pengembangan dan pelestarian budaya Desa Sawan, termasuk hadirnya sebuah ruang budaya yang benar-benar dibangun berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan masyarakat.


