Penggunaan kemasan makanan yang praktis dan murah masih menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Salah satu jenis wadah yang paling sering dijumpai di pasar adalah polistirena foam atau yang lebih akrab dikenal sebagai styrofoam.
Karakteristiknya yang ringan, tahan air, serta mampu menjaga suhu makanan membuat bahan ini sangat diminati oleh para pedagang kuliner. Tetapi ketergantungan yang tinggi terhadap styrofoam menyisakan persoalan pelik bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Hal ini tercermin dalam riset Jurnal Kesmas Jambi, Putri Setia Dinanti dan tim melakukan survei dan wawancara langsung kepada 95 responden pedagang makanan di wilayah tersebut. Hasilnya, sebanyak 51,6% pelaku usaha sebenarnya tidak mengetahui dampak buruk material ini bagi tubuh manusia.
Hal ini diperparah dengan kondisi pasokan bahan yang melimpah dan harga yang relatif terjangkau di pasaran. Padahal, styrofoam bukan termasuk kategori kemasan yang aman untuk bersentuhan langsung dengan makanan.
Karena itu ketika digunakan untuk membungkus hidangan yang bersuhu tinggi atau mengandung banyak minyak, senyawa styrene di dalam wadah dapat berpindah ke makanan dan memicu gangguan kesehatan jangka panjang.
Lahirnya Alternatif yang Ramah Lingkungan
Melihat skala ancaman lingkungan yang semakin masif, inovasi alternatif pengganti wadah styrofoam diperlukan untuk memutus rantai ketergantungan ini. Langkah tersebut hadir melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Gadjah Mada yang sukses mengembangkan Mushfoam.
Program ini menghasilkan sebuah produk inovatif berupa kemasan ramah lingkungan berbasis miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang dirancang untuk mengikat limbah pertanian menjadi lembaran padat, ringan, serta dapat dikomposkan secara utuh.
Kehadiran material baru tersebut secara langsung mendukung prinsip circular economy melalui pemanfaatan sisa agrikultur yang selama ini kurang termanfaatkan dengan baik di masyarakat.
Divo Cahaya Fikri, ketua tim penelitian, mengungkapkan bahwa secara teknis ampas tebu yang telah dihaluskan berperan sebagai serat penguat struktur, sedangkan tongkol jagung giling digunakan untuk mengisi massa lembaran. Kedua bahan tersebut kemudian dicampur dengan dedak padi sebagai nutrisi dan kalsium karbonat sebagai penstabil pH.
Setelah itu, campuran selanjutnya disterilisasi sebelum diinokulasi dengan bibit jamur. Dan miselium dibiarkan tumbuh selama 5 sampai 7 hari agar menembus campuran substrat hingga membentuk jalinan kokoh yang dalam riset material dikenal sebagai mycelium bio-fabrication. Lembaran yang telah terbentuk kemudian dikeringkan menggunakan oven dan dilapisi beeswax agar lebih tahan terhadap kelembapan.
Hasil akhir dari proses fabrikasi ini berupa panel dengan ketebalan 1 hingga 2 sentimeter dan ukuran standar 60 kali 40 sentimeter. Produk tersebut juga dapat dicetak sesuai dengan bentuk yang dipesan oleh konsumen atau custom shape.
Menakar Nilai Ekonomi dan Potensi Pasar
Namun, Umi Muthoharoh, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam mengembangkan produk ini adalah memastikan material ramah lingkungan tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar.
“Bagi kami, tantangannya bukan hanya menghasilkan material yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar. Karena itu, kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang tetap terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, uji kelayakan usaha yang dilakukan oleh tim peneliti menunjukkan proyeksi ROI sebesar 46,24 persen dan B/C Ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan, dengan target awal 400 pak unit produk. Pasar yang dibidik pun disusun secara bertahap, mulai dari kebutuhan pengemasan non-pangan secara nasional.
Kemudian target pasar menyempit ke UMKM dan industri kecil-menengah yang mencari alternatif kemasan pelindung, hingga akhirnya difokuskan lebih dulu pada pelaku UMKM di Yogyakarta sebagai titik uji pasar.
“Adapun penetrasi awal nantinya direncanakan lewat skema business to business, lengkap dengan sampel gratis dan edukasi langsung ke calon mitra, sebelum ekspansi ke marketplace digital secara nasional,” tambah Umi.
Salah satu target jangka panjang dalam rencana pengembangan ini adalah pembuatan varian Mushfoam berstandar food grade. Melalui target tersebut, suatu saat material organik ini dapat digunakan langsung sebagai kemasan produk makanan untuk menggantikan styrofoam kuliner secara total, sekaligus membuka peluang pengurusan hak paten atas produk dan proses fabrikasinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


