Anggrek tumbuh dengan bentuk yang nyaris tidak pernah seragam. Ada yang menggantung pada batang pohon, menyelinap di antara lumut, tumbuh di lantai hutan, hingga menempel pada cabang-cabang tinggi yang sulit dijangkau.
Keragaman tersebut menjadikan anggrek bukan sekadar tanaman hias, melainkan salah satu bagian penting dari kekayaan flora Indonesia. Secara global, famili Orchidaceae diperkirakan memiliki sekitar 26.000 spesies dan sebagian besar hidup di wilayah tropis serta subtropis.
Indonesia memiliki posisi istimewa dalam peta keanekaragaman anggrek dunia karena bentang alamnya membentang dari Sumatra hingga Papua. Kondisi geografis tersebut menghadirkan beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, hingga kawasan dengan kondisi mikrohabitat yang berbeda-beda.
Dalam materi informasi di Kebun Raya Bogor, kekayaan anggrek Indonesia disebut mencapai sekitar 5.000 jenis dari sekitar 26.000 jenis anggrek yang dikenal di dunia. Angka tersebut menggambarkan betapa besar bagian keanekaragaman Orchidaceae dunia yang berada di kepulauan Indonesia.
Catatan lama mengenai persebaran anggrek juga memperlihatkan perbedaan kekayaan jenis antarpulau. Data Comber (2001) yang tercantum dalam materi tersebut mencatat sekitar 731 jenis di Jawa, 1.118 jenis di Sumatra, 2.000 jenis di Kalimantan, 820 jenis di Maluku, dan 548 jenis di Sulawesi.
Angka-angka itu sebaiknya dipahami sebagai catatan inventarisasi pada masa tersebut, bukan sebagai jumlah mutakhir karena penelitian botani terus menemukan, mendeskripsikan, dan memperbarui status taksonomi tumbuhan. Katalog Orchidaceae Kebun Raya Bogor juga mencatat bahwa berbagai jenis baru terus ditemukan dan informasi mengenai persebaran serta pemanfaatannya terus berkembang.
Kekayaan itu terlihat jelas dalam penelitian lapangan di berbagai kawasan Indonesia. Di Hutan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, penelitian mencatat 82 jenis anggrek dari 41 marga, terdiri atas 58 jenis epifit dan 24 jenis terestrial.
Tiga marga yang banyak ditemukan adalah Agrostophyllum, Dendrobium, dan Eria. Temuan tersebut menunjukkan bahwa satu kawasan hutan saja dapat menyimpan keragaman anggrek yang cukup tinggi.
Sebagian besar anggrek memiliki hubungan erat dengan pepohonan tempat mereka hidup. Data Kew menjelaskan bahwa lebih dari 75 persen spesies Orchidaceae bersifat epifit, sementara sebagian lainnya tumbuh sebagai tumbuhan terestrial atau litofit.
Anggrek epifit menggunakan pohon sebagai tempat melekat dan memperoleh posisi yang sesuai untuk mendapatkan cahaya serta kelembapan, tetapi keberadaannya tidak berarti pohon tersebut menjadi sumber makanan langsung. Karakter tersebut membuat kehidupan anggrek sangat berkaitan dengan kondisi vegetasi dan struktur hutan.
Di habitatnya, setiap anggrek memiliki cara tersendiri untuk bertahan. Sebagian memiliki akar dengan lapisan velamen yang membantu fungsi penyerapan dan perlindungan akar, sedangkan jenis lain mempunyai pseudobulb yang dapat berperan dalam penyimpanan air dan cadangan nutrisi.
Bentuk bunga pun sangat beragam, dari ukuran kecil hingga besar, dengan warna, aroma, dan struktur yang berbeda. Keragaman morfologi inilah yang membuat Orchidaceae menjadi salah satu kelompok tumbuhan berbunga yang paling menarik bagi penelitian botani.
Keragaman anggrek Indonesia juga masih menyimpan ruang besar untuk penelitian. Eksplorasi flora di Samosir, Sumatra Utara, yang dipublikasikan BRIN pada 2024, mengumpulkan 80 spesimen anggrek yang mewakili 35 marga dan 80 jenis.
Dari koleksi tersebut, 60 jenis merupakan anggrek epifit, satu jenis litofit, dan 19 jenis terestrial. Penelitian tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya koleksi hidup dan penyimpanan data ilmiah untuk mendukung penelitian serta konservasi anggrek.
Namun, kekayaan jenis tidak selalu berarti kondisi populasinya aman. Sejumlah anggrek menghadapi tekanan akibat hilangnya habitat dan pengambilan tumbuhan dari alam secara berlebihan, dua persoalan yang juga disoroti oleh Royal Botanic Gardens, Kew.
Salah satu contoh adalah Vanda lombokensis, anggrek endemik Lombok yang tercatat dalam Plants of the World Online dengan status Critically Endangered berdasarkan IUCN. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa setiap jenis memiliki tingkat kerentanan yang berbeda sehingga konservasi tidak dapat hanya mengandalkan perlindungan terhadap habitat secara umum.
Perdagangan menjadi persoalan lain yang membuat perlindungan anggrek membutuhkan perhatian lintas negara. Indonesia telah menjadi pihak CITES sejak 1979, sementara sejumlah kelompok anggrek masuk dalam pengaturan perdagangan internasional karena risiko terhadap populasi liarnya.
CITES bahkan memiliki ketentuan khusus mengenai Orchidaceae dan memperbarui nomenklatur spesies yang tercantum dalam lampirannya. Kerangka tersebut menunjukkan bahwa perdagangan anggrek tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomi dan estetika, tetapi juga dengan keberlanjutan populasi di alam.
Karena itu, kebun raya memiliki peran penting sebagai ruang penelitian sekaligus tempat penyimpanan koleksi tumbuhan hidup. Kebun Raya Bogor, misalnya, memiliki katalog khusus Orchidaceae yang memuat informasi mengenai identifikasi, asal, persebaran, dan koleksi anggrek sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Koleksi semacam ini menjadi penting ketika populasi suatu spesies di habitat alaminya mengalami tekanan. Konservasi di luar habitat atau ex situ dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan habitat alami atau in situ.
Anggrek Indonesia dapat dibaca sebagai gambaran kecil dari kompleksitas alam Nusantara. Ribuan jenis yang tersebar dari barat hingga timur memperlihatkan bagaimana iklim tropis, bentang kepulauan, ketinggian, vegetasi, dan kondisi habitat membentuk kekayaan flora yang sangat beragam.
Di balik bunga yang tampak indah, terdapat proses evolusi, hubungan ekologis, sejarah penelitian, serta persoalan konservasi yang panjang. Hutan Indonesia dengan demikian bukan hanya tempat tumbuh anggrek, tetapi juga ruang tempat keanekaragaman genetik dan ekologis terus berkembang dan ditemukan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


